Taiz-Yaman, Gontornews — Meski guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, faktanya, guru juga bagian dari profesi para pencari hidup. Mungkin itulah yang dialami olehย guru-guru di sekolah Arwa di kota terbesar ketiga di Yaman, Taiz.
Kepala sekolah Arwa di Taiz, Hoda Naged Useid, mengatakan bahwa meski buku pelajaran tidak lengkap serta tembok bangunan sekolahnya hancur akibat perang Yaman, fakta bahwa pemerintah mulai mencairkan gaji bagi guru mereka bak oase di tengah padang pasir.
“Dalam beberapa bulan terakhir keadaan sudah makin stabil. Gaji guru sudah mulai dibayarkan dan semoga keadaan akan (semakin membaik) sepert ini,” kata Hoda Naged Useid kepada Reuters.
“Jika gaji dibayarkan secara teratur dan seperti sebelumnya, semuanya akan menjadi lebih baik,” tambah Useid.
Bank sentral Yaman tengah berjuang keras untuk membayar upah di sejumlah sektor publik di Yaman. Pasalnya, cadangan devisi Yaman semakin berkurang seiring dengan belum usainya perang antara Pemerintah Yaman dengan kelompok militan Houthi.
Perang Yaman pun telah menyebabkan 15,9 juta warga Yaman mengalami musibah kelaparan akibat terbatasnya pasokan barang kebutuhan pokok. Selain itu, perang Yaman juga menyebabkan terganggunya penyelenggaraan pendidikan serta hancurnya sejumlah fasilitas penunjang pendidikan.
“Karena rusaknya bangunan di sekolah, beberapa siswa ikut berada di garis terdepan,” kata seorang guru di Sekolah Arwa, Ibtisam Dael.
“Tidak ada tempat untuk bermain di sekolah,” tutur seorang murid berusia 16 tahun, Hamas Mansour menjelaskan betapa kerusakan bangunan telah membuat anak-anak liar dan tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Useid pun berharap bahwa pencairan gaji guru yang mulai tersalurkan, bantuan untuk membangun kembali fasilitas sekolah serta pemenuhan sarana dan prasarana sekolah bisa membuat para siswa kembali semangat untuk bersekolah. Selama perang berlangsung, anak-anak menjadikan masjid sebagai tempat belajar terbaik.
“Kami bertekad untuk kembali ke sekolah kami. Dan kami akan mulai membersihkan puing-puing,” tutup Useid sambil menyatakan bahwa ada sekitar 700 siswa yang akan bergabung di Sekolah Arwa di Taiz. [Mohamad Deny Irawan]





















