Sejak berubah dari ‘Institut’ ke ‘Universitas’ tahun 2014, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor terus menancapkan perannya di kancah perguruan tinggi nasional maupun internasional. Sejumlah perjanjian kerjasama dengan perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri, membuat sinergitas perguruan tinggi pesantren tersebut makin diakui perannya.
Mengusung sistem perguruan tinggi pesantren, berasrama, menerapkan Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor serta ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan, membuat UNIDA Gontor selangkah lebih maju ketimbang perguruan tinggi serupa.
“Ke depan, orang belajar Ekonomi, Komunikasi, Agrotek, Teknologi Industri Pertanian, Farmasi dan lain-lain di UNIDA Gontor, tidak akan sama dengan mereka yang belajar di perguruan tinggi lain. Itu semua karena aspek Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang diajarkan di sini,” ungkap Rektor UNIDA Gontor, Assoc Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA MPhil, kepada Majalah Gontor.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai peraih gelar doktor dari Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia itu. Berikut kutipan wawancaranya:
Apa mimpi pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor saat mendirikan UNIDA?
Awalnya bukan mendirikan universitas, tapi mimpi para pendiri yaitu mewujudkan universitas Islam yang menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan agama dan sains, ilmu bahasa Arab, tapi tetap berjiwa pesantren. Yang terakhir ini yang menarik yaitu berjiwa pesantren atau bersistem pesantren. Ini mengisyaratkan, universitas yang mereka impikan ialah universitas yang bersistem asrama, yang menerapkan Panca Jiwa. Rektornya kiai yang berada di dalam kampus sebagai pendidik dan suri teladan. Persis seperti Pondok Modern Darussalam Gontor tapi pada tingkat universitas. Jadi ini bukan universitas yang hanya berorientasi pada keilmuan yang melulu kognitif, tapi juga yang berorientasi pada pembinaan jiwa yang ber-akhlaqul karimah. Itu semua masih diberi target oleh para pendiri yaitu agar universitas itu nanti bermutu dan berarti, artinya berguna serta bermanfaat untuk umat.
UNIDA bergerak secara transformatif dan dinamis. Apa beda UNIDA Gontor dengan PTD, IPD dan ISID?
Di awal pendiriannya memang bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD). Waktu itu belum ada pembedaan antara sekolah tinggi, institut, maupun universitas. Pada waktu itu juga, sumberdaya manusia yang dimiliki juga masih sangat minim. Hanya beberapa dosen bergelar Doktorandus dan Lc. Akibatnya, dosen-dosen terpaksa dipinjam dari IKIP Malang dan Yogyakarta.
Mahasiwanya guru-guru KMI dan kuliahnya juga masih mencari waktu kosong dari jam mengajar di KMI. Tapi tetap berjalan dan meluluskan BA (sarjana muda). Setelah beberapa lama, nama PTD berganti menjadi Institut. Tapi karena orientasinya keguruan, maka dinamakan Institut Pendidikan Darussalam (IPD). Fakultasnya Tarbiyah dan Ushuluddin, tapi Ushuluddin diorientasikan untuk menjadi guru.
Pada tahun 1993, dengan adanya peraturan baru dari Kementerian Agama bahwa Institut harus mempunyai tigap fakultas, maka ditambahlah satu fakultas lagi yaitu Syariah. Karena komposisi fakultas yang seperti itu, nama ‘Institut Pendidikan’ dinilai sudah tidak cocok lagi dan diganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
Perubahan ini menunjukkan bahwa Gontor terus mengikuti perkembangan peraturan. Namun, setelah kami keliling ke berbagai universitas, baik di negara Islam maupun Barat, nama institut tidak sama tingkatannya dengan universitas. Lagi pula dengan jumlah fakultas yang terbatas pada fakultas agama, cakupan kerjasama keilmuan pun menjadi sempit. Dari situlah kami mulai menyadari kalau Gontor perlu segera merintis universitas. Setelah menjadi UNIDA dengan tujuh fakultas dan 20 program studi, cakupan kerjasama menjadi luas, amanat Piagam Wakaf atau mimpi para pendiri menjadi terbuka untuk dilaksanakan.
Ciri khas apa yang ingin dimunculkan UNIDA?
Pertama sistem pesantren, yang notabene pesantren modern. Rektor, dekan, dosen dan mahasiswa tinggal di dalam asrama. Asrama yang seluruh kegiatannya diatur untuk mendidik kader-kader umat, baik dari aspek akhlak, leadership, etos kerja, maupun rasa ukhuwwah dan lain sebagainya, yang dirumuskan menjadi olah pikir, oleh zikir, olah raga, dan olah rasa. Sederhananya, UNIDA Gontor ingin menanamkan pikiran dan kayakinan atau keimanan yang benar agar perilakunya benar. Itulah sebenarnya worldview. Maka bisa dikatakan UNIDA Gontor merupakan School of Life yang di dalamnya dipenuhi nilai-nilai keislaman, keshalihan dan kebajikan. Maka dari itu tagline UNIDA Gontor yaitu the Fountain of Wisdom.
Dalam sambutan pertama sebagai rektor, Anda ingin UNIDA diakui secara nasional maupun internasional. Apa langkah yang perlu diambil?
Secara nasional, pengakuan resmi berasal dari BAN PT. Untuk itu saya berusaha keras agar, ke depan, akreditasi semua program studi di UNIDA Gontor A. Untuk tingkat internasional, saya berusaha agar program studi yang terakreditas A juga mendapatkan pengakuan internasional, yang paling dekat, mungkin secara regional dulu, melalui ASEAN University Network (AUN). Tetapi, untuk yang satu ini, belum kami lakukan, mengingat kondisi pandemi.
Apa target jangka pendek, menengah dan panjang UNIDA?
Jangka pendek membenahi Tri Darma. Jangkah menengah meningkatkan status akreditasi program studi dan menjadikan UNIDA terakreditasi unggul, merintis Fakultas Kedokteran, membuka program S2 Wakaf dan lain sebagainya. Untuk jangka panjang, merealisasi cita-cita para pendiri untuk menjadikan UNIDA sebagai pusat ilmu pengetahuan agama dan sains, pusat bahasa Arab yang bermutu dan berarti.
Apakah UNIDA bergerak menuju World Class University?
Mungkin kita tidak perlu mengikuti standar yang mereka tentukan, yang kalau tidak salah, memerlukan biaya tinggi. Yang kami tuju World Class University Graduate. Artinya, kami berusaha untuk menghasilkan alumni yang kompetensinya mendunia dan bisa bekerja di dunia mana pun.
Apa keunikan dan keunggulan UNIDA dibanding perguruan tinggi lain?
Kalau sistem pesantren memang tidak bisa dibandingkan. Tapi dari aspek akademis, ciri UNIDA ialah Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Artinya, UNIDA terus berupaya agar program studi sainstek dan humaniora diorientasikan pada terbentuknya sains Islam. Ke depan, orang belajar Ekonomi, Komunikasi, Agrotek, Teknologi Industri Pertanian, Farmasi, dan lain-lain di UNIDA, tidak sama dengan mereka yang belajar di perguruan tinggi lain, karena aspek islamisasinya itu.
Apa maksud UNIDA menggunakan model pemikiran islamisasi ilmu pengetahuan?
Begini, islamisasi itu kan konsekuensi dari adanya beberapa program studi yang non-islamic studies yang dalam undang-undang atau peraturan menteri menjadi syarat berdirinya setiap universitas. Di UNIDA terdapat 11 program studi non-islamic studies dan itu semua merupakan disiplin ilmu yang lahir dari ranah peradaban Barat, yang dalam beberapa hal mungkin ada yang tidak sesuai dengan Islam. Untuk itu perlu proses islamisasi.
Bagaimana cara menerapkan islamisasi ilmu pengetahuan dalam model pendidikan dan pengajaran di UNIDA?
Sebenarnya konsep dan teori islamisasi merupakan program yang on-going process. Terus dikembangkan dan dikaji ulang. Maka dari itu program islamisasi di UNIDA terdiri dari program pendidikan-pengajaran dan riset. Program pendidikan di tingkat S1 yaitu pengajaran worldview Islam untuk semua semester dan semua program studi. Untuk S2, mata kuliah Teori Worldview dan Islamisasi diajarkan pada semester 2 dan 3 dengan kewajiban riset tentang kedua mata kuliah tersebut. Untuk S3, mahasiswa harus melakukan riset tentang teori dan praktik islamisasi. Untuk riset pada semua program studi, khususnya sainstek dan humaniora, dilakukan oleh dosen bersama mahasiswa yang berupa evaluasi konsep-konsep dasar dari disiplin masing-masing kemudian mengambil aspek positifnya dan mengintegrasikannya dengan konsep-konsep dalam Islam. Proses ini terus berjalan sehingga melahirkan konsep-konsep baru yang benar-benar islami.
Ada berapa perguruan tinggi yang bekerjasama dengan UNIDA?
Soal kerjasama yang diikat dengan MoU, UNIDA mempunyai lebih dari 140 MoU dengan universitas, baik di dalam maupun luar negeri, negara-negara Arab maupun Barat. MoU tersebut dibuat bukan untuk banyak-banyakan, tapi sekedar untuk memulai kesepakatan kerjasama. Dari MoU itu kemudian dirintis berbagai kemungkinan untuk dikerjasamakan. Ada yang berhenti pada MoU dan ada yang kemudian aktif.
Dari sejumlah perguruan tinggi yang bekerjasama dengan UNIDA, mana yang dianggap sebagai kemitraan strategis?
Bukan hanya strategis tapi juga efektif. Di Malaysia, ada MoA dengan IIUM, USIM, KUIS, University Malaya. Di Turki, ada MoU dengan IZU dan Istanbul Foundation, di Brunei dengan UNISSA, di Thailand dengan Fathoni University. Di Qatar dengan Qatar University dan Hammad University. Efektif karena dari MoU itu terjadi kerjasama pendidikan pengajaran berupa beasiswa, pelatihan bahasa, seminar dan lain sebagainya. Dalam penelitian, terjadi kerjasama dosen dari kedua universitas dan lain-lain.
UNIDA juga membuka program pascasarjana. Apa yang diharapkan?
Mengapa perlu ada pascasarjana? Karena pengembangan ilmu yang lebih serius ada pada program ini. Khusus untuk islamisasi, konsep-konsep yang akan diterapkan di tingkat S1 digodog pada tingkat pascasarjana. Yang namanya research university ialah universitas yang mengutamakan program pascasarjana daripada S1.
Apa yang belum ada di UNIDA?
Masih banyak yang belum ada seperti laboratorium semua program studi sains, perpustakaan yang koleksinya lengkap, gedung terpadu untuk 5.000 orang, Fakultas Kedokteran, asrama mahasiswa hingga sport hall. Juga kampus khusus putri dengan fasilitas lengkap, dan masih banyak lagi.
Target kami, semua dosen bergelar doktor. Hingga saat ini, kami terus mengirim dosen-dosen untuk menempuh program S2 dan S3. Untuk 100 tahun Gontor, program UNIDA yaitu menghasilkan 100 doktor dan 10 profesor.
Bagaimana prospek perguruan tinggi pesantren di masa mendatang?
Sangat prospektif. Saya yakin tempat yang paling feasible untuk menanamkan ilmu Islam yang disertai akhlak dengan etos kerja Islam seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah islamiyah dan kebebasan, hanyalah perguruan tinggi pesantren. Dari model perguruan tinggi seperti ini, kita bisa menyiapkan generasi muda Muslim yang tangguh, yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Apa keunggulan perguruan tinggi pesantren ketimbang perguruan tinggi biasa?
Keunggulan perguruan tinggi pesantren ada pada kemandirian dan kebebasannya. Ia bebas dari pengaruh Ormas (organisasi masyarakat), Orpol (organisasi politik) atau kekuatan yang berada di luar dirinya. Ia dikelola secara mandiri oleh manusia-manusia yang satu ide, satu tujuan, satu idealisme. Di perguruan tinggi biasa, pergantian rektor berarti pergantian sistem, nilai, bahkan mungkin tujuan. Tapi tantangan perguruan tinggi pesantren ialah bagaimana memperkuat diri dengan sumberdaya manusia yang berkualitas.
Apa saran Anda untuk perguruan tinggi di Indonesia?
Perguruan tinggi di Indonesia agar menanamkan worldview bangsa yaitu Pancasila ke dalam jiwa dan pikiran mahasiwa melalui berbagai program yang ada. Sehingga lulusan perguruan tinggi Indonesia tidak hanya tinggi kualitasnya, tapi juga memilik karakter khusus bangsa Indonesia, yang tebal moralitasnya, tinggi rasa nasionalismenya, tebal rasa tanggung jawabnya sehingga tidak mudah “menjual” aset-aset bangsa. []






















