Semenjak 5 Agustus lalu, Lombok Utara semakin tersohor, tidak lagi dengan Lalu Muhammad Zohri-nya, bukan lagi dengan pariwisata dan kulinernya. Stasiun TV dan media cetak dalam maupun mancanegara menyoroti, jagat sosial media mengamati, simpati dan kepedulian berdatangan. Memang benar, bencana gempa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa!
Kami sangat akrab melihat tenda-tenda oranye Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tenda-tenda biru Kementerian Sosial, truk-truk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang sebelumnya hanya kami lihat di televisi berseliweran di depan mata kami.
Saat ini, kami lebih terbiasa mendengar sirine ambulan, mobil polisi dan lain sebagainya. Sebagaimana kami berkesempatan melihat secara langsung eskavator-eskavator, buldozer-buldozer dan alat berat berukuran raksasa yang simpang siur bertebaran di beberapa titik untuk evakuasi dan penertiban bangunan roboh akibat gempa.
Kami juga berkesempatan untuk berbincang-bincang tentang proses evakuasi dengan pasukan kuning Basarnas, nonton bola Asian Games bersama Brimob, berpapasan dengan bapak-bapak tentara dan para relawan yang berada hampir di sepanjang jalan.
Helikopter berseliweran di langit Lombok Utara, bapak presiden mendatangi kampung-kampung kami, Anak-anak dengan fasih menyebut “BMKG” dan “Skala Richter” sebagai dua istilah ‘baru’ yang saat kami seusia mereka, kami tidak mengenali istilah tersebut.
Trauma healing pascagempa adalah agenda wajib untuk memulihkan psikologi korban. Kepada seluruh simpatisan, relawan, segenap lapisan pemerintah yg membantu kami ucapkan Juzitumkullakhair, Allahlah Sebaik-baiknya Pembalas.
Dan semenjak 5 Agustus itu pula, kami warga Lombok Utara dan umumnya warga NTB tidak pernah sama lagi dalam menyikapi getaran, suara dan hari Ahad sebagaimana hari libur yang lumrah dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Dan yang mengiris hati kami, Asian Games kali ini berbeda, pun dengan Idul Adha tahun ini yang tidak sama dengan Idul Adha sebelumnya. []






















