Delapan puluh tahun Indonesia merdeka,
bendera merah putih berkibar gagah di langit bangsa.
Namun di balik gegap gempita,
ada tangis sunyi yang jarang terdengar:
tangis guru dan dosen,
pelita yang kini meredup oleh beban tak wajar.
Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa,
tapi diperlakukan bak sapi perah negara.
Dipaksa menulis laporan tanpa henti,
menyusun portofolio tiap pekan, tiap bulan, tiap semester,
hingga ruang kelas sering kosong,
hingga wajah-wajah murid menunggu guru yang tak datang,
karena tenggelam dalam tumpukan administrasi tanpa makna.
Padahal,
ilmu tak lahir dari tabel dan angka,
tapi dari mata yang berbinar saat murid paham,
dari dialog hangat yang menyalakan api pengetahuan,
dari kesabaran membimbing langkah kecil menuju mimpi besar.
Kini banyak guru stres,
dosen senior jatuh sakit,
guru besar yang seharusnya menulis buku emas
justru sibuk mengisi form daring yang tak pernah dibaca.
Gaji mereka minim,
SK hanya jadi jaminan di bank,
hidup di ujung pena cicilan,
sementara di layar televisi, para pejabat berjanji
tentang masa depan pendidikan yang katanya gemilang.
Wahai bangsaku,
sampai kapan guru dan dosen dipaksa menjadi mesin birokrasi?
Sampai kapan ilmu dikerdilkan dalam format laporan kering?
Sampai kapan pelita ilmu dibiarkan padam perlahan
oleh kebijakan yang buta rasa?
Delapan puluh tahun kita merdeka,
tapi mengapa guru masih terjajah oleh aturan yang mencekik?
Mereka ingin bebas mengajar,
mereka ingin berkarya,
mereka ingin menyalakan api ilmu
tanpa harus takut dicoret karena tak lengkap mengisi kolom data.
Wahai para pemimpin,
ingatlah satu hal:
bangsa yang besar tidak lahir dari gedung megah,
tidak lahir dari laporan rapi,
tapi lahir dari hati guru yang ikhlas,
dari dosen yang tulus,
yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatannya
demi mencetak generasi merdeka sejati.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah asing,
tapi juga bebas dari aturan kaku yang membelenggu jiwa pendidik.
Merdeka adalah saat guru dihormati,
dosen dimuliakan,
ilmu diberi ruang untuk bersemi tanpa jeratan administrasi palsu.
Maka hari ini, di ulang tahun ke-80 Indonesia merdeka,
mari kita dengarkan ratapan mereka,
ratapan para guru dan dosen yang lelah,
namun masih berdiri di depan kelas dengan senyum penuh sabar.
Mereka adalah akar yang menopang pohon bangsa,
jangan biarkan akar itu kering dan patah.
Karena tanpa mereka,
kemerdekaan ini hanyalah bayang-bayang kosong,
tanpa cahaya masa depan.
Mereka adalah akar yang menopang pohon bangsa,
jangan biarkan akar itu kering dan patah.
Karena tanpa mereka,
kemerdekaan ini hanyalah bayang-bayang kosong,
tanpa cahaya
masa depan.
Ya Allah,
Engkau yang Maha Mengangkat derajat hamba-Mu dengan ilmu,
jangan biarkan guru-guru kami patah di jalan panjang pengabdian ini.
Kuatkan langkah mereka yang letih,
lapangkan hati mereka yang perih,
sehatkan jasad mereka yang rapuh,
dan muliakan mereka dengan rezeki yang halal, berkah, dan cukup.
Jadikanlah para guru dan dosen kami
lentera yang tak pernah padam,
air yang tak pernah kering,
dan pohon rindang yang menaungi generasi masa depan.
Ya Allah,
bimbinglah para pemimpin bangsa ini
agar tak buta hati melihat penderitaan guru.
Lembutkanlah kebijakan mereka,
agar berpihak pada ilmu,
dan menempatkan pendidik pada kemuliaannya yang sejati.
Karena kami tahu,
bangsa tanpa guru akan rapuh,
bangsa tanpa ilmu akan runtuh.
Ya Allah,
angkatlah derajat guru kami di dunia dan akhirat,
jadikan amalnya cahaya,
ilmunya sedekah jariyah,
dan murid-muridnya saksi kebaikan di hari perhitungan.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin. []
DA 20 Agustus 2025
*Dr KH Ikhwan Hadiyyin, Khadimul Ma’had Darel Azhar Rangkasbitung, Banten



















