pesanan-baju-kaos
26 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 19 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Guru Sebagai Aset Bangsa dan Bukan Beban Negara

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
26 August 2025
in Tafsir
0
Guru Sebagai Aset Bangsa dan Bukan Beban Negara

Foto: Melintas

Landasan Teologis

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ

(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (adzab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar: 9)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Penegakan Hukum yang Adil: Wujudkan Keamanan dan Harmoni

Asbabun nuzul surat Az-Zumar ayat 9 dalam Tafsir al-Jalalain karya Jalaludin as-Suyuti, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Umar RA dia berkata, “(Apakah kamu orang musyrik lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam.“ Ia berkata, “Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Utsman bin Affan.“ Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Diturunkan berkenaan dengan Ammar bin Yasir.”

Juwaibir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat tersebut turun berkenaan dengan Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir dan Salim, mantan budak sahaya Abu Hudzaifah.

Demikian ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang senang beribadah di waktu malam, takut akan azab Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan orang-orang yang berilmu (ulul albab) yang mengambil pelajaran.

Interpretasi Para Mufasir

Tafsir as-Sa’di menyebutkan, ini kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya jauh.

“Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahi-Nya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.

Sedangkan dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an disebutkan bahwa ayat ini membandingkan antara orang yang menjalankan ketaatan kepada Allah dengan orang yang tidak, dan membandingkan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, yaitu bahwa hal ini termasuk perkara yang jelas bagi akal dan diketahui secara yakin perbedaannya. Oleh karena itu, tidaklah sama antara orang yang berpaling dari ketaatan kepada Tuhannya dan mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang menjalankan ketaatan, bahkan ketaatan yang dijalankannya merupakan ketaatan yang paling utama, yaitu shalat di waktu yang utama, yaitu malam.

Mereka memiliki akal yang membimbing untuk melihat akibat dari sesuatu, berbeda dengan orang yang tidak punya akal, maka ia menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Sementara dalam Tafsir Al-Wajiz disebutkan bahwa Allah mengingatkan dengan kalimat bertanya, wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur’an, shalat, dan berdzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Wahai Nabi Muhammad, katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berdzikir, dan melaksanakan shalat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya?”

Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Nilai-Nilai Pendidikan

QS Az-Zumar: 9 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Ketaatan. Ayat ini mengajarkan ketaatan dan ketekunan dalam beribadah, khususnya di malam hari (qiyamul lail), waktu yang istimewa sebagai bentuk kedekatan kepada Allah. Mereka senang bersujud, takut akan azab Allah dan hanya mengharap rahmat-Nya.

Demikian penting bagi seorang guru, orangtua dan tokoh masyarakat menanamkan nilai ketaatan kepada Allah agar peserta didik menjadi hamba-hamba Allah yang beriman, taat dan menjadi bagian pemuda dan pemudi yang membangun negeri yang berdikari, makmur, damai dan cinta kebenaran.

Tugas seorang guru itu mulia, guru pewaris para Nabi, guru mencerdaskan anak-anak bangsa untuk menopang negara memiliki SDM yang berkualitas. Guru merupakan aset bangsa yang harus kita jaga karena guru mengajarkan banyak hal dan keikhlasan dalam bertugas.

Kedua, Nilai Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu. Ayat ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai pembeda antara manusia yang sadar dan tidak sadar. Banyak keutamaan yang diperoleh oleh orang yang berilmu yaitu derajat yang mulia. Ayat ini mendidik agar hambanya menjadi insan yang berilmu dan bijak. Ilmu yang dimaksud tidak hanya ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama yang menuntun pada kebaikan.

Bagi guru, orangtua dan tokoh masyarakat ajarkanlah para generasi bangsa yang senang dengan pendidikan, menjadi orang-orang yang berilmu, berakhlak dan beriman agar bangsa maju dan makmur dengan penuh kewibaan, ketenangan,  keharmonisan dan saling menghargai.

Ketiga, Nilai Pentingnya Akal dalam Mengambil Pelajaran. Ayat ini sangat menghargai penggunaan akal sehat (ulul albab) dalam memahami ilmu dan hikmah. Orang yang berakal akan mampu menahan hawa nafsunya dari berbuat kemungkaran karena akal membimbingnya kepada ketaatan dan kebenaran. Akal mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar dan akal dapat mengambil pelajaran.

Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus terus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan reflektif. Sehingga mereka mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Apalagi mengucapkan sesuatu yang belum dipikirkan dapat menimbulkan banyak kesalahan seperti ‘guru beban negara’ maka tersinggunglah hati banyak guru. Sehingga ini dapat kita jadikan pelajaran agar kita senantiasa berpikir sebelum berbicara.

Landasan Teoretis

Dalam Islam, guru merupakan aset bangsa yang sangat berharga, bukan beban negara, dan harus dihormati serta dimuliakan karena memiliki peran strategis dalam membangun peradaban, menanamkan keimanan, dan mendidik generasi penerus agar taat kepada Allah SWT. Guru merupakan pewaris tugas para nabi yang harus dijaga kesejahteraannya. Guru merupakan amanah yang harus dijaga dan dihormati oleh negara, dengan sistem yang menyejahterakan dan menghargai peran mereka.

Guru memiliki peran vital dalam membina generasi, mencerdaskan bangsa, dan menjadi penyelamat dari kebodohan, yang pada akhirnya memajukan peradaban suatu bangsa. Ilmu yang diajarkan oleh guru akan menjadi cahaya bagi murid-muridnya, dan pahalanya akan terus mengalir (pahala jariyah).

Dalam Islam, guru menempati kedudukan yang sangat mulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mubarak dalam kitab Tahzibil al-Kamal yang menyebut bahwa setelah derajat kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu. Hal ini karena ilmu merupakan sumber kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu juga merupakan sarana untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

Abu Muzaffar as Sam’ani dalam kitab Tafsir as Sam’ani menjelaskan bahwa Rasulullah sangat menghormati orang-orang yang memiliki ilmu. Bahkan saking cintanya Nabi kepada para ahli ilmu, beliau menyuruh mereka duduk di dekatnya, sehingga mereka dapat lebih mudah untuk belajar dan mengambil ilmu.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim No. 1893)

Keistimewaan guru tidak dapat diukur oleh materi, guru mendapat pahala dari para murid yang mengamalkan kebaikan yang diajarkan. Guru berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasihati dan mengajarkan ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu dunia sehingga mereka memperbaiki kesalahan yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Pentingnya ilmu pengetahuan dijelaskan Allah dalam QS al-Mujadalah ayat 11. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Tafsir As-Sa’diy menyebutkan, “Allah Ta’ala mengangkat derajat orang-orang berilmu dan beriman beberapa derajat sesuai dengan karunia Allah pada diri mereka, berupa ilmu dan iman.”

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang pujian kepada para ulama. Seutama ilmu yaitu ilmu tentang kitabullah. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang tidak paham untuk merujuk kepada ulama dalam setiap perkara.

Mengingat besarnya jasa guru sebagai ujung tombak peradaban, tidak heran jika para khalifah sepanjang sejarah peradaban Islam memberikan gaji yang sangat besar kepada mereka. Sebagai contoh, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqah ad-Dimasyqi, dari al-Wadhi’ah bin Atha, bahwa Khalifah Umar bin Khaththab RA memberikan gaji sebesar 15 dinar per bulan (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikonversi dengan harga emas saat ini (Rp1.900.000 per gram), gaji tersebut setara dengan Rp121.125.000 per bulan.

Selain itu, khalifah juga berkewajiban menyediakan kemudahan akses terhadap sarana dan prasarana yang dibutuhkan para guru untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya. Dengan demikian, guru dapat fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak generasi berkualitas tanpa harus mencari penghasilan tambahan.

Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, gaji guru bahkan lebih tinggi. Di dua madrasah yang ia dirikan, yaitu Madrasah Suyufiyah dan Madrasah Shalahiyyah, gaji guru berkisar antara 11 hingga 40 dinar. Jika dikonversi, nilainya mencapai Rp88 juta hingga Rp323 juta per bulan. Pada masa Khilafah Abbasiyah, para pengajar, fuqaha, dan ulama yang mengajar di berbagai universitas di Baghdad menerima gaji sebesar 300.000 dinar per tahun. Jika dihitung berdasarkan nilai emas saat ini, jumlah tersebut setara dengan Rp15,75 miliar per bulan.

Meskipun dibutuhkan anggaran yang sangat besar untuk mewujudkan layanan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat, Khilafah tidak pernah khawatir akan kekurangan dana. Allah Ta’ala telah menetapkan sejumlah pos pemasukan rutin bagi negara. Salah satunya yaitu kekayaan SDA yang merupakan milik umum. Dengan SDA kita yang sangat melimpah, jika dikelola secara profesional dan amanah, dapat menjadi sumber pemasukan yang luar biasa.

Sebaliknya dalam Khilafah, guru diposisikan sebagai pilar utama peradaban dan diberi kedudukan yang mulia. Negara, dengan penuh tanggung jawab, memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang layak kepada mereka sebagai bentuk pengakuan atas peran vitalnya dalam pendidikan dan pembentukan generasi.

Penerapan sistem kapitalisme telah melahirkan realitas pahit terkait dengan kesejahteraan guru terutama guru honorer. Tidak sedikit dari mereka menerima ujroh yang minim setiap bulan. Jika guru terus dibiarkan khawatir di masa depan banyak anak yang enggan menjadi guru karena mereka tidak sejahtera. Karenanya marilah kita menghargai para guru kita yang telah ikhlas mengajar dan hanya mengharap kepada Allah.

Guru Aset Negara

Berikut ini di antara sifat guru yang tecermin sebagai aset negara. Pertama, ikhlas dalam mendidik hanya karena Allah dan meluruskan niat karena taat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS Az-Zumar: 11)

Ketika seorang guru memiliki karakter ikhlas maka akan mudah sampainya ilmu yang diajarkan  kepada para muridnya. Karena keikhlasan merupakan kunci diterimanya amalan. Keikhlasan ini akan mendatangkan pahala yang tak terputus, mengangkat derajatnya, diterima amal kebaikannya dan mengantarkannya pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa guru harus mengendalikan hawa nafsunya dan menjaga ucapannya demi mengutamakan tugasnya. Ia juga menegaskan bahwa ilmu akan sia-sia kecuali diamalkan, dan amal akan ditolak kecuali dilakukan dengan ikhlas.

Kedua, integritas. Integritas merupakan kualitas pribadi yang ditunjukkan dengan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang guru. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3)

Ketika seorang guru memiliki karakter integritas dan mampu menanamkannya ke dalam diri siswa, maka saat itu ia telah melakukan langkah besar dalam menyiapkan generasi yang jujur, berkomitmen, dan konsisten.

Ini investasi yang luar biasa bagi generasi selanjutnya agar beriman, bertakwa, berilmu dan beramal yang baik. Mereka memiliki prinsip hidup, mempertahankan keyakinan, bertindak baik sesuai ajaran syariat dan menjaga reputasi diri dan keluarganya.

Ketiga, rendah hati (tawadhu’). Salah satu akhlak mahmudah (terpuji) yang ditunjukkan seorang guru yaitu rendah hati. Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu yaitu yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’.” (QS Al-Furqan: 63)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Risalah al-Mu’aawanah wa al-Mudhaharah wa al-Muwazarah mengungkap ciri-ciri orang tawadhu’ sebagai berikut: 1) Tidak berambisi menjadi orang terkenal, 2) Menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya walau dari mana pun kebenaran itu berasal, 3) Tidak segan-segan untuk bergaul dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, 4) Ringan tangan dalam membantu orang yang memerlukan bantuan, 5) Selalu berterima kasih dan mudah memaafkan.

Karakter tawadhu’ yang dimiliki guru harus ditularkan kepada para murid agar sikap tawadhu’ menjadi penetralisir berkembangnya sikap egosentris, individualis, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Menjadi murid yang sabar dan menghargai semua yang dilalui dengan rendah hati.

Keempat, berkasih sayang. Allah SWT berfirman:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ

“Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al-Fath: 29)

Seorang guru yang berkasih sayang yaitu guru yang mengajar dengan hati, memiliki kesabaran, tulus, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan menjadi teladan bagi muridnya untuk membentuk generasi yang beriman dan bermanfaat bagi umat. Guru tersebut menciptakan suasana belajar yang positif, memberikan motivasi, dan membimbing murid agar dapat mengamalkan ajaran agama dengan sungguh-sungguh.

Kasih sayang guru berperan penting dalam membentuk kepribadian dan spiritualitas individu Muslim. Guru yang mengajar dengan kasih sayang akan mampu mencetak generasi masa depan yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan iman yang kokoh dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan umat.

Kisah Teladan

Kitab Siyar A’lam An-Nubala menceritakan bahwa Abdullah bin Mubarak membagi-bagikan harta di berbagai negeri untuk membantu para ulama dan orang-orang yang belajar hadis.

Melihat aksinya, Ibnu Mubarak pun ditegur oleh beberapa orang karena khawatir harta tersebut akan habis. Namun, tetap mengacuhkannya, dan menjawab bahwa ia tidak menyesal membantu para ulama hadis.

Menurutnya, para penuntut ilmu memiliki keutamaan dan kejujuran. Para ahli ilmu telah menuntut ilmu hadis dengan baik, dan masyarakat luas membutuhkan ilmu mereka. Jika para ulama hadis tidak dibantu, maka ilmu mereka akan hilang. Sebaliknya, jika para ulama hadis dibantu, maka mereka akan menyebarkan ilmu kepada masyarakat luas.

Demikianlah kisah Abdullah bin Mubarak yang ingin menyejahterakan para ulama, guru dan orang-orang yang belajar karena mereka memiliki kedudukan dan keutamaan yang istimewa.

Abdullah bin Mubarak tidak takut miskin karena memberi fasilitas dan kebutuhan orang-orang yang sedang mengajar dan belajar, karena hakikatnya memberi kepada mereka maka Allah akan mengganti dengan 10 kali lipat dari apa yang dikeluarkan bukan mengurangi harta yang kita miliki.

Abdullah bin Mubarak malah takut para guru kehilangan ilmunya karena memilih pekerjaan lain yang menurut mereka lebih sejahtera daripada memanfaatkan ilmu yang para guru miliki.

Sehingga Abdullah bin Mubarak menyejahterakan dan memberikan fasilitas kepada para ulama dan guru agar mereka semakin semangat mengajar, mendidik dan melahirkan cendekiawan Muslim selanjutnya.  Walaupun ada saja beberapa orang yang tidak suka melihat Abdullah bin Mubarak membagikan hartanya untuk para ulama dan orang yang belajar.

Itulah kisah Abdullah bin Mubarak yang dapat kita teladani bahwa guru merupakan aset berharga suatu bangsa, bukan beban negara karena guru mencerdaskan anak-anak bangsa sebagai tonggak perjuangan selanjutnya, memberikan sinar cahaya akan lahirnya para cendekiawan terkemuka dan orang-orang hebat yang dapat memimpin bangsa yang unggul dan sejahtera.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.” (Risâlah al-Mustarsyidin, halaman 141) []

Tags: Aset negaraGuruKhilafah
Share29Tweet18Send
Previous Post

Saat Dunia Terbelah, 15 Ribu Pramuka Muslim Dunia Satukan Diri di Jakarta

Next Post

Pemimpin Umum Majalah Gontor Tekankan Peran Media dalam Menguatkan Dunia Pesantren

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

17 September 2026
SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

SDIT Insantama Leuwiliang Ajarkan Siswa Berniaga ala Rasulullah Lewat Market Day

16 September 2026
K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

K3S Leuwiliang Apresiasi Insantama Market Day: Siswa Belajar Berniaga Sesuai Syariah

16 September 2026
Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

Gontor Persembahkan Kajian dan Pelatihan Seni Kaligrafi Khat Nasta’liq Irani 

11 September 2026
Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

Gontor Apresiasi Alumni Touring Motor hingga Mengayuh Sepeda Demi Hadiri 100 Tahun PMDG

15 September 2026
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

0
Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

Gontor Siap Sambut Puluhan Ribu Alumni Menuju 100 Tahun Gontor

0
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

0
Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

Pasutri Alumni Gontor Ini Persembahkan 100 Sumur untuk 100 Tahun Gontor

0
Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

Presiden Prabowo Siap Hadir dan Resmikan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor

0
100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

17 September 2026
Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

Gontor Terus Matangkan Kesiapan Jelang Puncak Acara 100 Tahun

17 September 2026
Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

Kunjungan Tujuh Presiden ke Gontor: Relasi antara Dunia Pesantren dan Negara

17 September 2026
Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

Reuni Akbar 100 Tahun Gontor: Momentum Evaluasi Langkah Alumni dengan Cita-Cita Pendiri

17 September 2026
Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

Gontor, Alumni, dan Jejak Satu Abad

17 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result