15
Tonton Selengkapnya
28 °c
Pecenongan
Thu
Fri
Thursday, 4 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Guru Sebagai Aset Bangsa dan Bukan Beban Negara

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
26 August 2025
in Tafsir
0
Guru Sebagai Aset Bangsa dan Bukan Beban Negara

Foto: Melintas

Landasan Teologis

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ

(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (adzab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar: 9)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Ibadah dan Amal Terbaik  

Peran Jin dan Manusia dalam Kehidupan Sehari-hari

Membangun Integritas Pendidik dan Peserta Didik

Belajar Ikhlas dan Taat dalam Perjalanan Haji

Asbabun nuzul surat Az-Zumar ayat 9 dalam Tafsir al-Jalalain karya Jalaludin as-Suyuti, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Umar RA dia berkata, “(Apakah kamu orang musyrik lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam.“ Ia berkata, “Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Utsman bin Affan.“ Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Diturunkan berkenaan dengan Ammar bin Yasir.”

Juwaibir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat tersebut turun berkenaan dengan Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir dan Salim, mantan budak sahaya Abu Hudzaifah.

Demikian ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang senang beribadah di waktu malam, takut akan azab Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan orang-orang yang berilmu (ulul albab) yang mengambil pelajaran.

Interpretasi Para Mufasir

Tafsir as-Sa’di menyebutkan, ini kondisi berlawanan antara orang yang taat kepada Allah dengan yang lainnya (yang tidak taat), dan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil. Ini sudah merupakan perkara yang sudah pasti perbedaannya jauh.

“Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran” ketika diberi pelajaran, “hanyalah orang-orang yang mempunyai akal,” yakni orang-orang yang mempunyai akal bersih lagi cerdas. Merekalah orang-orang yang lebih mengutamakan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah; mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan; ketaatan kepada Allah daripada menyalahi-Nya, sebab mereka mempunyai akal yang membimbing mereka untuk melihat akhir akibat (semua perbuatan). Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai akal dan nurani, ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.

Sedangkan dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an disebutkan bahwa ayat ini membandingkan antara orang yang menjalankan ketaatan kepada Allah dengan orang yang tidak, dan membandingkan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, yaitu bahwa hal ini termasuk perkara yang jelas bagi akal dan diketahui secara yakin perbedaannya. Oleh karena itu, tidaklah sama antara orang yang berpaling dari ketaatan kepada Tuhannya dan mengikuti hawa nafsunya dengan orang yang menjalankan ketaatan, bahkan ketaatan yang dijalankannya merupakan ketaatan yang paling utama, yaitu shalat di waktu yang utama, yaitu malam.

Mereka memiliki akal yang membimbing untuk melihat akibat dari sesuatu, berbeda dengan orang yang tidak punya akal, maka ia menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Sementara dalam Tafsir Al-Wajiz disebutkan bahwa Allah mengingatkan dengan kalimat bertanya, wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur’an, shalat, dan berdzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Wahai Nabi Muhammad, katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berdzikir, dan melaksanakan shalat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya?”

Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Nilai-Nilai Pendidikan

QS Az-Zumar: 9 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Ketaatan. Ayat ini mengajarkan ketaatan dan ketekunan dalam beribadah, khususnya di malam hari (qiyamul lail), waktu yang istimewa sebagai bentuk kedekatan kepada Allah. Mereka senang bersujud, takut akan azab Allah dan hanya mengharap rahmat-Nya.

Demikian penting bagi seorang guru, orangtua dan tokoh masyarakat menanamkan nilai ketaatan kepada Allah agar peserta didik menjadi hamba-hamba Allah yang beriman, taat dan menjadi bagian pemuda dan pemudi yang membangun negeri yang berdikari, makmur, damai dan cinta kebenaran.

Tugas seorang guru itu mulia, guru pewaris para Nabi, guru mencerdaskan anak-anak bangsa untuk menopang negara memiliki SDM yang berkualitas. Guru merupakan aset bangsa yang harus kita jaga karena guru mengajarkan banyak hal dan keikhlasan dalam bertugas.

Kedua, Nilai Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu. Ayat ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai pembeda antara manusia yang sadar dan tidak sadar. Banyak keutamaan yang diperoleh oleh orang yang berilmu yaitu derajat yang mulia. Ayat ini mendidik agar hambanya menjadi insan yang berilmu dan bijak. Ilmu yang dimaksud tidak hanya ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama yang menuntun pada kebaikan.

Bagi guru, orangtua dan tokoh masyarakat ajarkanlah para generasi bangsa yang senang dengan pendidikan, menjadi orang-orang yang berilmu, berakhlak dan beriman agar bangsa maju dan makmur dengan penuh kewibaan, ketenangan,  keharmonisan dan saling menghargai.

Ketiga, Nilai Pentingnya Akal dalam Mengambil Pelajaran. Ayat ini sangat menghargai penggunaan akal sehat (ulul albab) dalam memahami ilmu dan hikmah. Orang yang berakal akan mampu menahan hawa nafsunya dari berbuat kemungkaran karena akal membimbingnya kepada ketaatan dan kebenaran. Akal mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar dan akal dapat mengambil pelajaran.

Guru, orangtua dan tokoh masyarakat harus terus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan reflektif. Sehingga mereka mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Apalagi mengucapkan sesuatu yang belum dipikirkan dapat menimbulkan banyak kesalahan seperti ‘guru beban negara’ maka tersinggunglah hati banyak guru. Sehingga ini dapat kita jadikan pelajaran agar kita senantiasa berpikir sebelum berbicara.

Landasan Teoretis

Dalam Islam, guru merupakan aset bangsa yang sangat berharga, bukan beban negara, dan harus dihormati serta dimuliakan karena memiliki peran strategis dalam membangun peradaban, menanamkan keimanan, dan mendidik generasi penerus agar taat kepada Allah SWT. Guru merupakan pewaris tugas para nabi yang harus dijaga kesejahteraannya. Guru merupakan amanah yang harus dijaga dan dihormati oleh negara, dengan sistem yang menyejahterakan dan menghargai peran mereka.

Guru memiliki peran vital dalam membina generasi, mencerdaskan bangsa, dan menjadi penyelamat dari kebodohan, yang pada akhirnya memajukan peradaban suatu bangsa. Ilmu yang diajarkan oleh guru akan menjadi cahaya bagi murid-muridnya, dan pahalanya akan terus mengalir (pahala jariyah).

Dalam Islam, guru menempati kedudukan yang sangat mulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mubarak dalam kitab Tahzibil al-Kamal yang menyebut bahwa setelah derajat kenabian, tidak ada derajat yang lebih tinggi daripada menyebarkan ilmu. Hal ini karena ilmu merupakan sumber kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu juga merupakan sarana untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

Abu Muzaffar as Sam’ani dalam kitab Tafsir as Sam’ani menjelaskan bahwa Rasulullah sangat menghormati orang-orang yang memiliki ilmu. Bahkan saking cintanya Nabi kepada para ahli ilmu, beliau menyuruh mereka duduk di dekatnya, sehingga mereka dapat lebih mudah untuk belajar dan mengambil ilmu.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim No. 1893)

Keistimewaan guru tidak dapat diukur oleh materi, guru mendapat pahala dari para murid yang mengamalkan kebaikan yang diajarkan. Guru berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasihati dan mengajarkan ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu dunia sehingga mereka memperbaiki kesalahan yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Pentingnya ilmu pengetahuan dijelaskan Allah dalam QS al-Mujadalah ayat 11. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, ‘Berdirilah,’ (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Tafsir As-Sa’diy menyebutkan, “Allah Ta’ala mengangkat derajat orang-orang berilmu dan beriman beberapa derajat sesuai dengan karunia Allah pada diri mereka, berupa ilmu dan iman.”

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang pujian kepada para ulama. Seutama ilmu yaitu ilmu tentang kitabullah. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang tidak paham untuk merujuk kepada ulama dalam setiap perkara.

Mengingat besarnya jasa guru sebagai ujung tombak peradaban, tidak heran jika para khalifah sepanjang sejarah peradaban Islam memberikan gaji yang sangat besar kepada mereka. Sebagai contoh, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqah ad-Dimasyqi, dari al-Wadhi’ah bin Atha, bahwa Khalifah Umar bin Khaththab RA memberikan gaji sebesar 15 dinar per bulan (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikonversi dengan harga emas saat ini (Rp1.900.000 per gram), gaji tersebut setara dengan Rp121.125.000 per bulan.

Selain itu, khalifah juga berkewajiban menyediakan kemudahan akses terhadap sarana dan prasarana yang dibutuhkan para guru untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya. Dengan demikian, guru dapat fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak generasi berkualitas tanpa harus mencari penghasilan tambahan.

Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, gaji guru bahkan lebih tinggi. Di dua madrasah yang ia dirikan, yaitu Madrasah Suyufiyah dan Madrasah Shalahiyyah, gaji guru berkisar antara 11 hingga 40 dinar. Jika dikonversi, nilainya mencapai Rp88 juta hingga Rp323 juta per bulan. Pada masa Khilafah Abbasiyah, para pengajar, fuqaha, dan ulama yang mengajar di berbagai universitas di Baghdad menerima gaji sebesar 300.000 dinar per tahun. Jika dihitung berdasarkan nilai emas saat ini, jumlah tersebut setara dengan Rp15,75 miliar per bulan.

Meskipun dibutuhkan anggaran yang sangat besar untuk mewujudkan layanan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat, Khilafah tidak pernah khawatir akan kekurangan dana. Allah Ta’ala telah menetapkan sejumlah pos pemasukan rutin bagi negara. Salah satunya yaitu kekayaan SDA yang merupakan milik umum. Dengan SDA kita yang sangat melimpah, jika dikelola secara profesional dan amanah, dapat menjadi sumber pemasukan yang luar biasa.

Sebaliknya dalam Khilafah, guru diposisikan sebagai pilar utama peradaban dan diberi kedudukan yang mulia. Negara, dengan penuh tanggung jawab, memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang layak kepada mereka sebagai bentuk pengakuan atas peran vitalnya dalam pendidikan dan pembentukan generasi.

Penerapan sistem kapitalisme telah melahirkan realitas pahit terkait dengan kesejahteraan guru terutama guru honorer. Tidak sedikit dari mereka menerima ujroh yang minim setiap bulan. Jika guru terus dibiarkan khawatir di masa depan banyak anak yang enggan menjadi guru karena mereka tidak sejahtera. Karenanya marilah kita menghargai para guru kita yang telah ikhlas mengajar dan hanya mengharap kepada Allah.

Guru Aset Negara

Berikut ini di antara sifat guru yang tecermin sebagai aset negara. Pertama, ikhlas dalam mendidik hanya karena Allah dan meluruskan niat karena taat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS Az-Zumar: 11)

Ketika seorang guru memiliki karakter ikhlas maka akan mudah sampainya ilmu yang diajarkan  kepada para muridnya. Karena keikhlasan merupakan kunci diterimanya amalan. Keikhlasan ini akan mendatangkan pahala yang tak terputus, mengangkat derajatnya, diterima amal kebaikannya dan mengantarkannya pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa guru harus mengendalikan hawa nafsunya dan menjaga ucapannya demi mengutamakan tugasnya. Ia juga menegaskan bahwa ilmu akan sia-sia kecuali diamalkan, dan amal akan ditolak kecuali dilakukan dengan ikhlas.

Kedua, integritas. Integritas merupakan kualitas pribadi yang ditunjukkan dengan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang guru. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3)

Ketika seorang guru memiliki karakter integritas dan mampu menanamkannya ke dalam diri siswa, maka saat itu ia telah melakukan langkah besar dalam menyiapkan generasi yang jujur, berkomitmen, dan konsisten.

Ini investasi yang luar biasa bagi generasi selanjutnya agar beriman, bertakwa, berilmu dan beramal yang baik. Mereka memiliki prinsip hidup, mempertahankan keyakinan, bertindak baik sesuai ajaran syariat dan menjaga reputasi diri dan keluarganya.

Ketiga, rendah hati (tawadhu’). Salah satu akhlak mahmudah (terpuji) yang ditunjukkan seorang guru yaitu rendah hati. Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu yaitu yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’.” (QS Al-Furqan: 63)

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Risalah al-Mu’aawanah wa al-Mudhaharah wa al-Muwazarah mengungkap ciri-ciri orang tawadhu’ sebagai berikut: 1) Tidak berambisi menjadi orang terkenal, 2) Menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya walau dari mana pun kebenaran itu berasal, 3) Tidak segan-segan untuk bergaul dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, 4) Ringan tangan dalam membantu orang yang memerlukan bantuan, 5) Selalu berterima kasih dan mudah memaafkan.

Karakter tawadhu’ yang dimiliki guru harus ditularkan kepada para murid agar sikap tawadhu’ menjadi penetralisir berkembangnya sikap egosentris, individualis, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Menjadi murid yang sabar dan menghargai semua yang dilalui dengan rendah hati.

Keempat, berkasih sayang. Allah SWT berfirman:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ

“Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al-Fath: 29)

Seorang guru yang berkasih sayang yaitu guru yang mengajar dengan hati, memiliki kesabaran, tulus, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan menjadi teladan bagi muridnya untuk membentuk generasi yang beriman dan bermanfaat bagi umat. Guru tersebut menciptakan suasana belajar yang positif, memberikan motivasi, dan membimbing murid agar dapat mengamalkan ajaran agama dengan sungguh-sungguh.

Kasih sayang guru berperan penting dalam membentuk kepribadian dan spiritualitas individu Muslim. Guru yang mengajar dengan kasih sayang akan mampu mencetak generasi masa depan yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan iman yang kokoh dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan umat.

Kisah Teladan

Kitab Siyar A’lam An-Nubala menceritakan bahwa Abdullah bin Mubarak membagi-bagikan harta di berbagai negeri untuk membantu para ulama dan orang-orang yang belajar hadis.

Melihat aksinya, Ibnu Mubarak pun ditegur oleh beberapa orang karena khawatir harta tersebut akan habis. Namun, tetap mengacuhkannya, dan menjawab bahwa ia tidak menyesal membantu para ulama hadis.

Menurutnya, para penuntut ilmu memiliki keutamaan dan kejujuran. Para ahli ilmu telah menuntut ilmu hadis dengan baik, dan masyarakat luas membutuhkan ilmu mereka. Jika para ulama hadis tidak dibantu, maka ilmu mereka akan hilang. Sebaliknya, jika para ulama hadis dibantu, maka mereka akan menyebarkan ilmu kepada masyarakat luas.

Demikianlah kisah Abdullah bin Mubarak yang ingin menyejahterakan para ulama, guru dan orang-orang yang belajar karena mereka memiliki kedudukan dan keutamaan yang istimewa.

Abdullah bin Mubarak tidak takut miskin karena memberi fasilitas dan kebutuhan orang-orang yang sedang mengajar dan belajar, karena hakikatnya memberi kepada mereka maka Allah akan mengganti dengan 10 kali lipat dari apa yang dikeluarkan bukan mengurangi harta yang kita miliki.

Abdullah bin Mubarak malah takut para guru kehilangan ilmunya karena memilih pekerjaan lain yang menurut mereka lebih sejahtera daripada memanfaatkan ilmu yang para guru miliki.

Sehingga Abdullah bin Mubarak menyejahterakan dan memberikan fasilitas kepada para ulama dan guru agar mereka semakin semangat mengajar, mendidik dan melahirkan cendekiawan Muslim selanjutnya.  Walaupun ada saja beberapa orang yang tidak suka melihat Abdullah bin Mubarak membagikan hartanya untuk para ulama dan orang yang belajar.

Itulah kisah Abdullah bin Mubarak yang dapat kita teladani bahwa guru merupakan aset berharga suatu bangsa, bukan beban negara karena guru mencerdaskan anak-anak bangsa sebagai tonggak perjuangan selanjutnya, memberikan sinar cahaya akan lahirnya para cendekiawan terkemuka dan orang-orang hebat yang dapat memimpin bangsa yang unggul dan sejahtera.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.” (Risâlah al-Mustarsyidin, halaman 141) []

Tags: Aset negaraGuruKhilafah
Share24Tweet15Send
Previous Post

Saat Dunia Terbelah, 15 Ribu Pramuka Muslim Dunia Satukan Diri di Jakarta

Next Post

Pemimpin Umum Majalah Gontor Tekankan Peran Media dalam Menguatkan Dunia Pesantren

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Edukasi Kurban SIT Insantama Leuwiliang: Guru Jelaskan Tata Cara Penyembelihan Hewan Kurban yang Sah Menurut Syariat

Edukasi Kurban SIT Insantama Leuwiliang: Guru Jelaskan Tata Cara Penyembelihan Hewan Kurban yang Sah Menurut Syariat

29 May 2026
Siswa SMPIT Insantama Leuwiliang Presentasikan Hasil Scientific Journey ke SEAMEO BIOTROP

Siswa SMPIT Insantama Leuwiliang Presentasikan Hasil Scientific Journey ke SEAMEO BIOTROP

29 May 2026
Mendidik Manusia, Bukan Mesin

Mendidik Manusia, Bukan Mesin

28 May 2026
Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

30 May 2026
Siswa SDIT Insantama Leuwiliang Belajar Makna Pengurbanan Sambil Mengenal Organ Hewan Kurban

Siswa SDIT Insantama Leuwiliang Belajar Makna Pengurbanan Sambil Mengenal Organ Hewan Kurban

29 May 2026
Struktur dan Kultur

Struktur dan Kultur

0
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

0
Mengenal Gareth Morgan di Balik Metafora Organisme Pesantren

Mengenal Gareth Morgan di Balik Metafora Organisme Pesantren

0
Sakinah Finance, AirNav Indonesia, dan BPJPH Berdayakan 100 Penyandang Disabilitas melalui Literasi Keuangan Syariah, Pelatihan Bisnis, dan Qurban Inklusif

Sakinah Finance, AirNav Indonesia, dan BPJPH Berdayakan 100 Penyandang Disabilitas melalui Literasi Keuangan Syariah, Pelatihan Bisnis, dan Qurban Inklusif

0
BAZNAS Salurkan 1.240 Kambing Dam Jemaah Haji 2026 untuk Mustahik di Berbagai Provinsi

BAZNAS Salurkan 1.240 Kambing Dam Jemaah Haji 2026 untuk Mustahik di Berbagai Provinsi

0
Dari Sedekah Konsumen Alfamart, BAZNAS RI Distribusikan Paket Daging Kurban Hingga ke Desa Terpencil

Dari Sedekah Konsumen Alfamart, BAZNAS RI Distribusikan Paket Daging Kurban Hingga ke Desa Terpencil

1 June 2026
Struktur dan Kultur

Struktur dan Kultur

1 June 2026
BAZNAS Salurkan 1.240 Kambing Dam Jemaah Haji 2026 untuk Mustahik di Berbagai Provinsi

BAZNAS Salurkan 1.240 Kambing Dam Jemaah Haji 2026 untuk Mustahik di Berbagai Provinsi

1 June 2026
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

31 May 2026
BAZNAS RI Salurkan Daging Kurban bagi Masyarakat Prasejahtera di Kampung Pemulung Jurangmangu

BAZNAS RI Salurkan Daging Kurban bagi Masyarakat Prasejahtera di Kampung Pemulung Jurangmangu

31 May 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result