Setelah sekian lama terjun di dunia filantropi, kini Direktur Lembaga Zakat Nasional (Laznas) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) 2008 – 2020, Ustadz Ade Salamun resmi mengemban amanah baru sebagai Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) DDII sejak 2020 lalu. Lahir di Tangerang 30 Juli 1973, masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya. Setelah itu dia nyantri di Pesantren Walisongo Ngabar Ponorogo, Jawa Timur dan kembali lagi ke kampong halaman sambil kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia terjun di dunia filantropi dengan mengawali karirnya di Dompet Dhuafa. Setelah empat tahun di Dompet Dhuafa, mulai 2004 ia hijrah ke DDII. Di lembaga dakwah tersebut, Ade mendapatkan amanah untuk mendukung program dakwah dan pendidikan melalui Laznas DDII. Dia menjadi pengurus harian Laznas DDII.
Selama di Laznas DDII ia aktif mensyiarkan dakwah ZIS sesuai amanah Undang-Undang Pengelolaan Zakat No 23 tahun 2011. Dia menguatkan program dakwah dan kaderisasi dai. Dakwah mereka menjadi semakin mengakar karena mendapatkan dukungan dana zakat, infak, dan sedekah.
Ustadz Ade menceritakan yang terjadi di Desa Solan, Kec. Bula, Kab. Pulau Seram bagian timur. Ketika berkunjung ke sana pada 2009, warga masih sangat miskin baik materi maupun spiritual. Padahal di sekitar sana terdapat kekayaan pesisir yang luar biasa. Melihat begitu kondisinya, Laznas DDII merekomendasikan pengiriman dai tangguh ke Solan. Alhamdulillah, dai Dewan Dakwah mampu menguatkan ekonomi masyarakat setempat menjadi lebih mandiri. Di dusun tersebut memang banyak lahan tidur.
Bersama masyarakat, sang dai membabat lahan untuk ditanami. Begitu panen, hasil panen dijual dengan harga mencapai puluhan juta rupiah. Dari sini masyarakat akhirnya menyadari ternyata lahan yang selama ini dibiarkan bisa menghasilkan. Dari situlah masyarakat secara sukarela mau mengikuti pengajian yang digelar para dai tadi. Ustadz Ade menyebut program ekonomi produktif itu sebagai pemanis dakwah. Kemandirian dakwah yang diupayakan berhasil mengurangi ketergantungan dari bantuan donatur.
Seperti saat wabah Covid-19 ini, para dai mampu tetap bertahan menggerakkan roda dakwah. Kemandirian ini dirasakan dampaknya. Secara mandiri mereka tak lagi tergantung secara penuh pada bantuan dari pusat. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri ketika masyarakat binaan DDII menghasilkan kader dakwah untuk daerahnya sendiri dan mampu mandiri secara ekonomi.
Di beberapa lokasi, program ini mampu memberikan penyadaran tentang pentingnya dakwah dan pembinaan masyarakat. Di samping itu ia juga aktif sebagai Auditing Board Member di forum NGO Islam dunia di Turki, Asesor Kompetensi Zakat BNSP, Anggota Majelis Tinggi Perkumpulan Ormas Pengelola Zakat (POROZ), Forum Kemanusiaan Asia Tenggara (SEAHUM).
Bukan hanya itu ia juga aktif membina generasi muda untuk menginspirasi mereka menggiatkan sosial bisnis dan beberapa proyek bisnis. Dari hasil bisnis tersebut keuntungannya digunakan untuk membantu program kaderisasi ulama S3.
Karirnya yang cemerlang mengelola Laznas, membuat Ade Salamun kini dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Umum DDII sejak 2020. Sejak saat itu Ustadz Ade ditugaskan untuk mengoptimalkan tim internal dan penggalian potensi bisnis untuk mendukung dakwah Dewan Da’wah.
Baginya tugas dai tidak hanya melakukan pembinaan agama saja, melainkan juga mendorong dan membangun ekonomi masyarakat. Baginya kemandirian merupakan jalan kesuksesan dakwah. Dengan kemandirian ini para dai dapat memenuhi kebutuhan hidup dan dakwahnya sendiri sehingga ‘izzah dan marwah mereka terjaga.
“Kemandirian dakwah juga menjadi gula-gula yang dapat menarik masyarakat dan menjadi nilai bargaining dai” pungkas Ustadz Ade.
Di sela-sela kesibukannya Ustadz Ade juga menyempatkan diri untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Lulus S2 pengembangan masyarakat UMJ, kini Wasekum DDII itu sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. [] Muhammad Khaerul Muttaqien



















