Sebagai jalan keluar dari jabatan konsep inflasi abadi, fisikawan Hawking dan Hertog membuat simulasi model matematika tingkat tinggi. Keduanya memadukan pendekatan matematika euclidan, fractal dan supersimetri yang terbilang sangat rumit.
Tetapi, ringkasan dasarnya sebagai berikut. Ada konsep dalam fisika yang disebut holografi, yang menemukan bahwa alam semesta tiga dimensi kita dapat direpresentasikan dalam dua dimensi. Dan dalam representasi dua dimensi, semua model matematika yang membantu menjelaskan hukum alam kita masih dapat berlaku. Sebelumnya, kita mungkin pernah mendengar tentang gagasan bahwa alam semesta adalah hologram. Ini adalah konsep yang muncul dari teori string atau supersimetri.
Model holografi, kata Hertog, memingkinkan Hawking dan dirinya merombak model matematika Big Bang. Dan dengan pendekatan matematika baru ini, pola fraktal dari semesta-semesta ‘saku’ menjadi hilang. Eksistensi ketidakterbatasan model menjadi “lebih terbatas, lebih seragam,” katanya.
Pendeknya, dengan revitalisasi model Big Bang, keduanya menyimpulkan bahwa mungkin masih ada lebih dari satu alam semesta, tetapi bukan jumlah yang tak terbatas. Dalam model Big Bang terbaru ini, eksistensi multiverse menjadi lebih bisa diatur, lebih bisa diketahui, meski harus diakui alam semesta masih tetap dipenuhi misteri yang belum tersungkap.
Meskipun simulasi model matematika dari makalah tersebut telah diperiksa, kesimpulannya masih jauh dari terbukti. “Lebih banyak pekerjaan diperlukan untuk membuktikan dugaan ini,” kata Hertog. Dia mengatakan apa yang dilakukan oleh dua fisikawan ini baru berupa “garis besar” perlu paradigma baru memahami Big Bang.
Untuk membuktikan tesis barunya, mereka mengaku membutuhkan bukti langsung dari jejak-jejak Big Bang, yang mungkin masih terekam dalam gelombang gravitasi. Gelombang gravitasi sejatinya merupakan ekspresi dari jejak rekam dani dinamika riak dalam ruang dan waktu dari alam semesta.
Seperti diketahui, beberapa tahun lalu (2016/2017), para ilmuwan berhasil mendeteksi secara eksperimental adanya gelombang gravitasi dari sebuah peristiwa ledakan bintang yang bertumbukan sekitar 3 miliar tahun yang lalu. Mereka, para ahli fisika dan kosmologi, belum berhasil mendeteksi banyak gelombang gravitasi primordial yang lebih tua, meskipun pencarian gelombang kuno itu sedang berlangsung.
Kelak, jika ekspresi gelombang gravitasi berhasil ditemukan, garis besar paradigm baru Big Bang bisa dilengkapi dengan garis halus dan arsirannya. Dengan begitu, dapat pula diuji sebera sahih tesis baru multiverse yang diajukan Hawking dalam makalah terakhirnya.
Sebelum menutupi makalahnya, Hertog menginformasikan bahwa makalah tersebut merupakan hasil berkolaborasinya dengan Hawking selama beberapa decade hingga maut menjembutnya. Dia menerbitkan makalah ilmiah itu sebagai kengan teralkhir mereka,
Tentang Hawking, Hertog berkomentar: “Dia selalu memiliki ide-ide baru dan tajam. Di balik raganya yang rapuh, selalu adasemangat tim yang luar biasa hidup menyala. Seluruh kolaborasi itu telah menjadi pengalaman yang unik dan menginspirasi. Di satu sisi, saya sedih ini sudah berakhir. Dan dia tidak di sini untuk melihat publikasinya.’’ Tapi, di sisi lain, dia percaya: sains akan hidup terus. Warisan ilmiah pun akan terus hidup sepanjang massa.[Dedi Junaedi]





















