Setiap kehidupan manusia tentu akan ada ujiannya. Termasuk adanya bencana-bencana alam yang telah banyak menimpa rakyat Indonesia belakangan ini. Menyikapi hal tersebut, Asep Sobari, Lc, wakil direktur eksekutif INSISTS (Institute of Islamic Thought and Civilizations) menyampaikan, “Bencana ini adalah proses seleksi dari Allah SWT untuk para hambanya.”
Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat ini pun juga menyarankan agar kita bisa menyikapi semua bencana yang ada dengan hal-hal yang positif termasuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berikut petikan wawancara Gontornews.com dengan Asep Sobari:
1. Bagaimana al-Qur’an berbicara soal bencana alam yang terjadi di dunia ini?
Di dalam al-Qur’an terjadinya bencana alam selalu dikaitkan dengan lahir dan lenyapnya sebuah bangsa. Kalau lahirnya bangsa kita bisa lihat bangsa Mesir sebelum Yusuf dan setelah Yusuf. Artinya, kita bisa melihat ketika Mesir mengalami kekeringan setelah 7 tahun lamanya, lalu berkat keshalehan dan kecerdasan Yusuf AS, akhirnya mereka semua berhasil melewati cobaan tersebut dengan sangat baik.Tujuh tahun itu proses dari lahirnya sebuah bangsa baru sebenarnya. Identitas baru, karakternya berbeda, budayanya berbeda. Kalau lenyapnya bangsa banyak, ‘Ad, Tsamud, Fir’aun sendiri lenyap.
2. Lalu bagaimanakah kita menyikapi bencana yang ada di Indonesia? Apakah berarti menandakan kelahiran dan kemusnahan suatu kaum juga?
Indonesia sebagai sebuah bangsa, itu kan ada karakternya, punya ciri, punya corak, punya warna, atau yang namanya masyarakat indonesia ya begini. Memang siapa yang bisa menjamin kalau bangsa ini tetap ada? Mungkin orangnya tetap ada, tapi identitas berbeda-beda. Dan itu selalu dimulai dengan bencana-bencana.
3. Di kalangan masyarakat, ada sebagian orang yang menyikapi bencana alam dengan prosesi larungan, ruwatan, ataupun sedekah bumi. Apakah yang demikian memiliki andil dalam turunnya adzab Allah SWT?
Pemerintah ini dalam menyikapi persoalan asap misalnya, ketika teori-teori disampaikan dan tidak ada yang bisa menyelesaikannya kecuali hujan, ternyata tidak mengakui bahwa dirinya lemah sebagai hamba. Sebagai pemimpin itu hendaknya bersimpuh di hadapan Allah SWT dengan istighfar.
Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa setelah kamu meminta ampun kepada Allah SWT dan kamu diampuni, maka akan turun hujan deras, membaiknya ekonomi, hingga meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia. Tapi yang terjadi, manusia justru semakin sombong.
Pelaksanaan istisqo di berbagai tempat sekalipun saya lihat tidak masif. Pelaksanaan larungan dan semacamnya justru menambah murka Allah SWT. Dalam kondisi ini, apakah Allah SWT akan memberikan teguran yang keras atau hanya membiarkan saja? Surat al-Baqarah ayat 155 menyebutkan bahwa bencana yang paling mahal adalah rasa ketakutan.
4. Bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim dalam menghadapi bencana?
Konsep bencana ini adalah ibtila’. Ibtila’ kecenderungannya positif dan negatif. Fitnah, orang bisa gagal karena kelebihan tapi juga bisa gagal karena kekurangan. Fitnah dalam bahasa al-Qur’an lebih berarti chaos.
Proses ujian itu normal. Dihadapi dengan normal..Ini salah satu cara Allah SWT memproses seleski manusia. Ini layak untuk naik kelas atau enggak? Layak mendapatkan pahala yang lebih besar atau tidak? Proses ujian itu normal karena memang hidup ini tidak akan lepas dari yang namanya ujian. Baik dan buruk itu saja pilihannya.
Karena memang Allah SWT ingin membalasnya di akhirat. Tapi ketika ujian itu terakumulasi tidak memiliki pandangan yang kuat dan kokoh, maka musibah ini dari waktu ke waktu tidak teratasi lalu menumpuk, maka yang terjadi adalah kekacauan. Dengan terjadinya chaos, dampaknya akan terjadi masyarakat baru dan masyarakat yang lama.
Proses menuju masyarakat yang baru pun bukan proses yang cepat. Nilai-nilai masyarakat di zaman fir’aun misalnya sudah terbangun dengan baik sehingga proses perubahannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jika lebih dikerucutkan, maka proses perubahan masyarakat terjadi bertahap seiring degan kondisi masyarakatnya.
Sehingga yang perlu dimengerti oleh masyarakat adalah bahwa bencana ini adalah proses seleksi dari Allah SWT, Mana di antara kaum Muslimin ini yang berbuat, punya mental, serta daya juang untuk keluar dari ujian ini secara perlahan. Mereka inilah yang oleh Allah SWT dengan segala potensinya ditempatkan di posisi yang tepat baginya. <Edithya Miranti>





















