Kondisi umat Islam dunia Melayu-Indonesia sampai akhir abad ke-19 M berada pada posisi tertinggal. Namun tidak pada awal abad ke-20. Yakni saat sang reformis Syaikh Muhammad Thâhir Jalâl Al-Dîn, hadir menyampaikan ide dan gerakan pembaharuan. Semenjak itulah, umat Islam berani menyongsong kemajuan zaman.
Pada akhir abad ke-19 M, pola pendidikan agama berlangsung dengan cara halaqah (murid duduk melingkari guru) serta tidak sistematis. Faham Jabariyah yang dianut dielu-elukan sebagai faktor penyebab kemiskinan. Pasalnya, paham ini mendoktrin umat Islam untuk pasrah pada nasib karena telah ditentukan Allah SWT sejak awal.
Dalam perspektif politik, mereka berada dalam kondisi terjajah oleh Inggris di Semenanjung Malaya (Singapura dan Malaysia sekarang) dan Belanda di Indonesia. Hal inilah yang menjadikan umat Islam tertinggal dalam berbagai bidang.
Selain itu, penulis kelahiran Kasik, Solok, 1 Maret 1958, ini menambahkan pemahaman ajaran Islam, khususnya masalah Fiqh tidak dapat berkembang karena faham taqlid. Yakni mengikuti faham ulama terdahulu tanpa analisis dan koreksian. Pintu ijtihad tertutup. Jadilah umat Islam berada pada posisi jumud.
Menginjak awal abad ke-20, umat Islam Dunia Melayu-Indonesia baru mulai melihat secercah perubahan menuju kemajuan. Perubahan tersebut banyak dibawa oleh beberapa tokoh reformis Islam yang menyampaikan gagasan baru serta melancarkan gerakan pembaharuan. “Salah seorang reformis yang paling menonjol adalah Syaikh Muhammad Thâhir Jalâl Al-Dîn,” tambahnya.
Syaikh Thâhir lama menimba ilmu di Makkah dan Kairo Mesir. Bersama sahabatnya Sayyid Syaikh bin Ahmad Al-Hâdi, Muhammad Salim Al-Kalâli, Syaikh Abbas bin Muhammad Thâha, dan Muhammad ‘Aqil bin Yahya, mereka menerbitkan jurnal-jurnal Islam, seperti Majalah Al-Imâm di Singapura, 1906 M yang tersohor.
Mereka juga mendirikan institusi-institusi pendidikan agama modern, antara lain Madrasah Al-Iqbâl Al-Islâmiyah yang memadukan pola Mesir dan Eropa.
Gerakan reformasi Islam yang dilancarkan dari Singapura oleh Syaikh Thâhir asal Minangkabau, Syaikh Al-Hâdi turunan Arab-Malaka, Al-Kalâli turunan Arab-Cirebon, dan Abbas Muhammad Thâha keturunan Minangkabau, mendapatkan sambutan hangat dari umat Islam Dunia Melayu-Indonesia.
“Meski banyak mendapat hujatan dari para ulama Kaum Tua, namun pengaruh gerakan reformasi mereka tetap berjalan dan meluas secara siginifikan ke seluruh penjuru Semenanjung Malaya dan Indonesia,” jelas Mafri, ayah tiga orang anak ini.
Disebutkan dalam disertasi yang selesai tahun 2004 di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, bahwa eksistensi Syaikh Thahir sebagai tokoh menonjol dalam barisan reformis Dunia Melayu-Indonesia telah dapat merubah peta sebagian besar umat Islam yang dulunya masih tradisional.
Gerakan reformasi Islam yang dilakukannya banyak ditiru reformis atau kelompok modernis lainnya. Seperti sejumlah Madrasah Thawalib pada beberapa daerah di Minangkabau. Normal Islam Padang salah satunya, yang dicontoh Imam Zarkasyi untuk mengembangkan Pondok Pesantren Gontor yang tradisional menjadi Pondok Pesantren Modern di Indonesia.
Dalam penerbitan jurnal Islam, kehadiran Al-Imâm di Singapura juga berpengaruh besar di Indonesia. Polanya ditiru H. Abdullah Ahmad dalam menerbitkan jurnal Al-Munîr di Padang. Kemudian berpengaruh pada sejumlah jurnal Islam lainnya.
“Akhirnya dapat disimpulkan bahwa reformasi Islam Dunia Melayu-Indonesia pada awal abad ke-20 terjadi, tertutama disebabkan oleh pemikiran, gerakan, dan pengaruh Syaikh Muhammad Thâhir Jalâl Al-Dîn,” gumam mantan wartawan Semangat Reformasi, tahun 2000-2002.
Dr Mafri Amir juga menyimpulkan bahwa pemikiran yang dikembangkan Syaikh Muhammad Thâhir Jalâl Al-Dîn di Dunia Melayu-Indonesia bersifat reformatif. Pemikiran tersebut juga sangat berbeda dengan pola pemikiran ulama sebelumnya.
Gagasan dan wacana intelektualnya merupakan konsep baru bercorak Mesir. Pemikiran baru tersebut bersumber dari ilmu pengetahuan yang ditututnya di Al-Azhar Mesir, meskipun ia telah lama pula menuntut ilmu di Makkah. Syaikh Thâhir menemukan momentum pembaharuan, setelah bertemu dan belajar dari tokoh pembaharu seperti Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha.
Pria jebolan S1 Fakultas Syari’ah IAIN Padang ini juga menjelaskan bahwa Syaikh Thâhir adalah orang Melayu-Indonesia pertama yang menuntut ilmu dan tamatan Al-Azhar University. Dan ia pula ulama pertama dan utama yang membawa gelombang pembaharuan corak Mesir ke Dunia Melayu-Indonesia.
Ia telah memperbaharui paham keagamaan umat Islam yang selama ini fatalis kepada paham Qadha dan Qadar. Dalam faham ini terkandung aspek ikhtiar atau kerja keras.
Syaikh Thâhir juga berhasil meyakinkan masyarakat akan banyaknya amalan selama ini yang bercampur aduk dengan bid’ah. Karenanya, perlu diadakan pemurnian dengan berlandaskan pada al-Qur’an dan Sunnah.
Pintu ijtihad yang selama ini tertutup karena adanya paham taqlid berhasil dibukanya. Selain itu, umat Islam selalu dimotivasi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Baik agama maupun ilmu umum. Agar umat Islam di Dunia Melayu-Indonesia ini bisa meraih kemajuan.
Di samping itu, ia juga sangat berjasa membetulkan kiblat rumah ibadah di Malaya dan mengajarkan Ilmu Falak dari Malaya sampai ke Bangkok Thailand. Karena penguasaannya terhadap Ilmu Falak, ia pun digelari dengan Syaikh Falak.
“Gerakan paling monumental dan siginifikan yang dilakukan Syaikh Muhamad Thâhir Jalâl Al-Dîn adalah menerbitkan majalah Al-Imâm dan mendirikan lembaga pendidikan agama modern, Madrasah Al-Iqbal Al-Islamiyah di Singapura,”ungkap Mafri.
Penerbitan majalah ini merupakan gerakannya yang pertama dan monumental di Dunia Melayu-Indonesia. Majalah Al-Imâm bertujuan menyebarkan pemikiran dan pengetahuan kepada umat Islam di kawasan tersebut.
Tetapi, gerakan terpentingnya lagi adalah dalam bidang pendidikan. Selain mempelopori berdirinya Madrasah Al-Iqbal Al-Islamiyah di Singapura. Syaikh Thahir juga menjalani profesi guru pada berbagai madrasah lebih kurang 20 tahun.
Ia mulai mengajar pada Madrasah Johor, kemudian pada Madrasah Al-Masyhur Pulau Penang, Madrasah Parit Jamil Muar, dan Madrasah Al-Juned Singapura.
Pengaruh pemikiran dan gerakan pembaharuan yang dilakukan Syaikh Thâhir cukup signifikan di semua wilayah. Bukan saja di Semenanjung Melayu, tetapi juga sampai ke Indonesia, lanjutnya.
Pengaruhnya yang sangat menonjol yakni pada bidang penerbitan jurnal keagamaan dan modernisasi lembaga serta sistem pendidikan.
Pada bidang jurnal, majalah Al-Imâm akhirnya dijadikan sebagai model majalah oleh pengasuh majalah dwimingguan Al-Munir Padang (1911-1916), Neraca Singapura (1911-1915), dan lainnya.
Akibat pengaruh bidang pendidikan itu, banyak berdiri dan berkembang lembaga pendidikan agama modern. Baik di Malaya sendiri maupun di Indonesia. Terutama di wilayah Minangkabau sebagai lokasi persemaian awal pembaharuan Islam di Indonesia.
Dari pembahasan di atas, mantan Tenaga Ahli Staf Khusus Wapres RI 2004-2009 ini menyimpulkan bahwa reformasi dan modernisasi Islam yang mulanya tumbuh dan berkembang di Mesir mengalir ke Dunia Melayu-Indonesia. Transmisi gagasan pembaharuan tersebut ternyata tidak serta merta langsung ke Indonesia.
Meski tidak semua aspek pembaharuan corak Mesir yang dikembangkannya seperti persoalan teologi, namun dalam banyak aspek Syaikh Thahir telah berhasil untuk memajukan umat Islam.
Dapat dikatakan bahwa upaya reformasi dan modernisasi yang dilakukan Syaikh Muhammad Thâhir Jalâl Al-Dîn melalui pemikiran dan gerakannya sangat besar pengaruhnya. ”Hal tersebut juga telah merubah keadaan dan kualitas umat Islam di Dunia Melayu-Indonesia,” tutupnya. <Edithya Miranti>





















