Bogor, Gontornews — Mahasiswa yang terhimpun dalam Himpunan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Himmpro KPI) kampus Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor sukses menggelar nonton bareng dan bedah film karya mahasiswa KPI, pada Sabtu (26/10/2024) di kampus IUQI Bogor.
Acara yang digagas oleh Azkia Nala Azzahra, ketua umum Himmpro, dan segenap pengurus masa bhakti 2024-2025 ini mendapat respons positif dari berbagai pihak.
Narasumber bedah film bertajuk “Cinta Dalam Doa” ini menghadirkan langsung sang sutradara film tersebut, yakni Ridwan Mustofa, S.Sos yang merupakan alumni KPI IUQI lulusan 2024 yang juga demisioner Ketua Umum Himmpro KPI IUQI 2022-2023.
Seminar bedah film ini digelar dalam rangka mengedukasi serta memotivasi seluruh mahasiswa dan mahasiswi Prodi KPI khususnya, dan seluruh mahasiswa-mahasiswi IUQI secara umum untuk memahami segala proses dalam pembuatan sebuah film.
Ridwan menjelaskan bahwa ia kali pertama membuat film yang bernuansa kehidupan di pondok pesantren. Ia mengaku terinspirasi dari karya Rektor IUQI Dr. H. Saiful Falah, M.Pd.I yang ternyata merupakan sebuah kisah nyata dari sahabatnya, dan kemudian ditulis ke dalam sebuah buku.
“Pembuatan film ini, saya terinspirasi dari sebuah buku karangan Pak Rektor, yang ternyata kisah nyata dari sahabatnya dulu ketika ia di pondok pesantren, kemudian saya beri bumbu-bumbu drama romansa agar lebih menarik untuk ditonton,” ujar Ridwan sapaan akrabnya.
Ridwan juga menjelaskan proses produksi film berdurasi 90 menit ini, memakan waktu yang cukup lama, Paling tidak setahun, karena adanya beberapa keterbatasan dan kendala.
“Jika dihitung-hitung produksi film ini memakan waktu cukup panjang ya, kurang lebih setahun. Karena banyak kendala, salah satunya itu kami harus tetap menjalani rutinitas kuliah kami, jadi kami shooting hanya di weekend saja. Kemudian ada kecelakaan ketika shooting, tiba-tiba pemeran utama kecelakaan sehingga harus menunggu tiga bulan untuk kesembuhannya,” ujarnya.
Ridwan mengaku biaya produksi film ini terbilang murah, kurang lebih hanya 15 juta rupiah. dan itu sudah tertutup bahkan propit ketika pemutaran film. Pasalnya dalam kurun waktu seminggu saja, sebanyak 2300 lembar tiket terjual.
“Kalau ditanya berapa biaya produksi, kami sangat meminimalisir sekali biaya produksi. Kurang lebih sekitar 15 jutaan. Karena banyak peralatan yang hanya kami sewa bahkan beberapa alat dapat pinjaman dengan cuma-cuma. Dana itu kita patungan dan ada beberapa pihak yang mendukung memberikan donasi, semua biaya produksi itu tertutup dan bahkan kita dapat cuan. Karena ketika kita putar film ini di auditorium kampus, hanya dalam waktu seminggu saja 2300 lembar tiket ludes terjual,” tambahnya.
Di ujung acara Ridwan berharap KPI IUQI bisa terus membuat karya yang luar biasa. “Jika kita bisa melakukan hal yang luar biasa, mengapa harus biasa-biasa saja?” ungkapnya.
Selain itu, Ketua Umum Himmpro, Nala sangat bersyukur acara ini bisa terselenggara, ia berharap anggota Himmpro di pengurusannya bisa terinspirasi untuk kembali produksi film di tahun ini.
“Saya sangat bersyukur acara nobar dan seminar bedah film ini bisa terselenggara, semoga setelah ini, kepengurusan Himmpro saat ini bisa memproduksi film kembali,” pungkasnya. [Yasier/Fathurroji]


















