Dalam sebuah diskusi di WhatsApp Group (WAG) sejumlah wali santri berbondong-bondong bertanya, “Ustadz, mau tanya, apakah nanti perpulangan santri dari pondok ke rumah dikoordinir oleh IKPM?” Sebagai salah seorang pengurus IKPM, kami pun menanggapi pertanyaan tersebut dengan menjawab, “Bapak dan ibu sekalian. Perlu kami jelaskan bahwa koordinator perpulangan santri dari Gontor ke daerah dilaksanakan oleh pihak Konsulat. Sedangkan, untuk perpulangan santri dari daerah menuju Gontor (dengan segala kampus cabangnya) dikoordinir oleh IKPM bekerjasama dengan pihak Konsulat.”
Lalu apa beda antara Konsulat dengan IKPM?
Sebagaimana diketahui, Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki struktur kelembagaan yang terdiri dari Pengasuhan Santri, Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Yayasan Perguruan Tinggi Darussalam (YPTD), Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor dan Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM). Masing-masing kelembagaan memiliki peran dan fungsi yang berbeda namun memiliki peran yang saling menguatkan satu sama lain.
Sebagai contoh, peran IKPM Gontor di daerah-daerah merupakan perpanjangan tangan nilai-nilai kepondokmodernan di masyarakat. Nilai-nilai pendidikan di pesantren berusaha ditransformasikan oleh IKPM dalam bentuk kegiatan-kegiatan produktif dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di suatu daerah.
Tidak jarang, kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh IKPM bersinggungan langsung dengan sejumlah lapisan masyarakat mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, alumni pesantren, organisasi masyarakat dan, tidak terkecuali, para wali santri. Sebut saja, kegiatan-kegiatan seperti pengajian bulanan, bimbingan belajar masuk Gontor, pengiriman paket/wesel, hingga sekedar konsultasi mengenai pesantren dan hal-hal yang terkait dengan kepesantrenan.
“Kalau perlu saya ke kantor ustadz untuk curhat tentang anak saya yang ada di pondok,” gumam seorang wali santri yang ingin bercerita tentang keluh kesah putra/putrinya di pondok.
IKPM bersama para alumni Gontor di daerah akan selalu tersedia manakala Gontor membutuhkan. Para alumni Gontor akan sangat senang untuk berbagi pengalaman seputar kehidupannya semasa di Pondok. Bahkan, ada beberapa alumni yang tidak segan berbagi pengalaman hidupnya selepas mondok dari Gontor.
Bagi para alumni Gontor firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2: “Wa ta’āwanū alal birri wattaqwa wa lā ta’awanū ‘ala ‘ithmi wa al-‘udwān” menjadi penyemangat dalam membantu apapun yang diperlukan masyarakat selama dalam bingkai kebaikan dan Ukhuwwah Islamiyah.
Lain halnya dengan Konsulat yang lebih memiliki peran dan fungsi kepengasuhan santri ketimbang fungsi kemasyarakatan dan tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat luas. Para pembimbing konsulat memiliki peran yang jelas dalam mendidik dan mengontrol kehidupan santri di dalam pondok berbasis daerah.
Selain pembimbing konsulat, pengurus konsulat yang diemban oleh santri kelas 5 KMI maupun para kadernya yang berasal dari kelas 3 Intensif dan 4 KMI memiliki peran yang sangat signifikan dalam mentransformasi nilai-nilai pondok kepada santri yang duduk dikelas 1-3 KMI.
Tidak jarang, pengurus konsulat memberi perhatian khusus kepada para anggotanya. Tidak saja dalam konteks belajar mengajar maupun kehidupan di luar kelas, pengurus Konsulat ‘rela’ membantu anggotanya untuk membayar SPP atau uang makan dikala anggotanya terlambat mendapatkan kiriman uang.
Sinergi antara pembimbing, pengurus dan anggota konsulat merupakan satu rangkaian kehidupan pesantren yang sangat indah dan dapat dirasakan langsung oleh santri, sesuatu yang tidak diterima langsung oleh para wali santri di rumah.
Sehingga, hubungan Konsulat dengan santri tidak hanya sebatas agenda perpulangan saja tetapi juga meliputi hal-hal yang terkait langsung dengan kehidupan para santri selama mondok di Pondok Modern Darussaalam Gontor. Sementara hubungan santri, wali santri, masyarakat dengan alumni Gontor, yang sudah terjun di masyarakat, bisa terjalin melalui wadah IKPM yang tersebar di sejumlah wilayah baik di dalam maupun luar negeri.
Karenanya, kami masih terngiang betul pesan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Syamsul Hadi Abdan, kala menyampaikan pesan dan nasehat pasca melantik pengurus Pengurus Pusat IKPM periode 2019-2024 di aula Rabithah awal September 2019 yang lalu.
Saat itu, Kiai Syamsul, menjelaskan bahwa “penerawangan” Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor untuk mendirikan organisasi kekeluargaan, IKPM, sangat tepat. Bahkan, saat usia KMI baru berumur 13 tahun, IKPM sudah didirikan (KMI berdiri pada tahun 1936 dan IKPM berdiri pada tahun 1949).
“Betul-betul perhitungan Trimurti betul-betul jitu,” jelas Kiai Syamsul.
“Pada tahun 1949, ketika itu alumni belum banyak. KMI baru berdiri pada tahun 1936, tetapi Trimurti sudah membentuk organisasi kekeluargaan yang bernama IKPM,” tambah Kiai Syamsul.
Melalui pembagian peran dan fungsi tersebut, sudah sepatutnya, baik Konsulat dan IKPM bersinergi satu sama lain. Jika Konsulat membimbing kehidupan santri dari dalam pondok, maka IKPM ‘membimbing’ masyarakat (baca: wali santri) tentang arti dan makna memonddokkan anak di pesantren dari luar pondok. Jika Konsulat memberikan pembelajaran kepondokmodernan bagi para santri, maka IKPM ‘mengenalkan’ materi kepondokmodernan kepada masyarakat. Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb
























Maa Syaa Allah,,,, peerhitunhan Trimurti yg luar biasa