Bangkok, Gontornews — Thailand pada 12 Maret mengikuti langkah sejumlah negara Eropa menangguhkan vaksin AstraZeneca karena kekhawatiran pembekuan darah, meskipun sejumlah otoritas kesehatan di seluruh dunia bersikeras bahwa vaksin itu aman. Demikian dirilis Hurriyetdailynews.com.
Langkah itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Joe Biden meminta masyarakat AS mengikuti saran para ilmuwan untuk memerangi virus, dengan vaksinasi, agar mereka bisa merayakan hari kemerdekaan 4 Juli dengan normal.
Setelah awalnya ragu, AS telah meningkatkan program vaksinasi, mengikuti saran para ilmuwan yang mengatakan vaksinasi merupakan satu-satunya jalan keluar dari pandemi yang telah menewaskan 2,6 juta orang di seluruh dunia.
Namun harapan global mendapat pukulan pada hari Kamis ketika Denmark, Norwegia, Islandia, Italia, dan Rumania menunda atau membatasi peluncuran kuota vaksin Oxford/AstraZeneca setelah ada laporan penerima vaksin mengalami pembekuan darah. Thailand mengikutinya pada hari Jumat.
Regulator kesehatan menegaskan tidak ada bukti adanya hubungan vaksin dengan pembekuan darah.
Australia, Meksiko, dan Filipina mengatakan mereka akan melanjutkan vaksinasi karena tidak menemukan alasan untuk menghentikannya. Kanada mengatakan tidak ada bukti vaksinasi menyebabkan reaksi merugikan.
Keputusan Thailand menyebabkan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha dibuat malu karena ia tiba-tiba membatalkan vaksinasi dirinya yang semula akan disiarkan langsung di televisi.
“Injeksi vaksin untuk warga Thailand harus aman, kita tidak perlu terburu-buru,” kata Piyasakol Sakolsatayadorn, penasihat komite vaksin Covid-19 negara itu. []






















