يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS Al-Hujurat: 13)
Asbabunnuzul
Asbabunnuzul ayat tersebut, menurut Imam al-Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, berkenaan dengan keinginan Rasulullah SAW untuk menikahkan seorang budak bernama Abi Hindin dengan salah seorang putri keturunan Bani Bayadhah.
Namun, Bani Bayadhah dengan sinis menolak dengan mengatakan: “Ya Rasulullah, pantaskah kalau putri-putri kami yang cantik jelita dengan budak-budak kami yang hitam legam?” Rasulullah belum sempat menjawab, pada saat itu turunlah ayat tadi, yang pada ayat tersebut terdapat kalimat, “Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” Yaitu, agar kamu saling mengenal, menjalin komunikasi harmonis, dan menebarkan cinta kasih, serta kasih sayang yang tiada pilih kasih. Demikian penafsiran Imam Ali as-Shabuni dalam Shafwat at-Tafasir.
Dengan demikian, untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, syarat utama dan pertamanya ialah kita harus saling mengenal, saling menghormati, menghargai, dan bertoleransi di antara sesama kita. Bukan sebaliknya, saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan daerah, golongan, suku, dan agamanya masing-masing. Sebab sikap seperti ini hanya akan menjadi cikal-bakal terjadinya disintegrasi bangsa, hingga hancurnya bangsa.
Interpretasi Para Mufasir
Imam Ar-Razi dalam kitab tafsir Mafātīh Al-Ghayb menyebutkan, ayat di atas menegaskan agar manusia tidak saling meninggikan diri, sombong, dan membanggakan diri di hadapan manusia yang lain. Karena apapun kondisinya, manusia tetaplah manusia. Mereka sama-sama berasal dari bapak dan ibu yang sama.
Dalam khazanah ilmu tafsir, “sapaan universal” seperti di atas (wahai manusia) menjadi ciri utama bagi ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di masa-masa awal kedatangan Islam, yakni di Mekkah. Secara umum, ayat-ayat yang turun pada fase ini bertujuan untuk mengokohkan sisi kemanusiaan umat Islam sebagai dasar utama kehidupan mereka, sehingga umat Islam tidak terpecah-pecah oleh perbedaan yang bersifat niscaya.
Kandungan ayat dalam Tafsir Al-Wajiz. Pertama, Allah SWT menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Kedua, orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT yaitu orang yang bertakwa. Ketiga, manusia tidak boleh sombong dengan apa saja yang ia miliki. Keempat, harus saling menghargai dan menghormati suku bangsa lain.
Nilai-nilai pendidikan
QS Al-Hujurat: 13 di atas mengandung sejumlah nilai pendidikan bagi manusia. Pertama, mendidik kita agar senantiasa saling mengenal, tidak memandang perbedaan dan berlomba dalam kebaikan. Kedua, mendidik kita agar senantiasa memiliki akhlak yang baik kepada siapa pun. Ketiga, mendidik kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan saling menghargai di antara sesamanya. Keempat, mendidik kita agar menjadi pribadi yang berhati-hati dalam menjalankan kehidupan.
Manusia merupakan makhluk sosial yang memerlukan interaksi. Setiap orang memerlukan penghargaan dan pengakuan dari sesamanya. Saling menghormati antarsesama manusia merupakan kewajiban dan kebutuhan.
Menjaga hubungan antarmanusia merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menjaga hubungan baik dengan manusia, yang dalam istilah Islam disebut hablu min al-nas.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa: 86:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”
Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari dalam Tafsir Ath-Thabari (2015: 406) menjelaskan bahwa maksud ayat “Wa idza huyyitum bitahiyyatin (apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan),” ialah apabila seseorang didoakan dengan panjang umur, selamat, dan sejahtera, maka selayaknya orang yang didoakan mendoakan dengan lebih baik atau minimal setara.
Secara garis besar bentuk saling menghormati yang dilakukan seseorang kepada orang lain bisa dalam dua bentuk: saling menghormati melalui ucapan dan saling menghormati melalui perbuatan. Salah satu bentuk saling menghormati melalui ucapan di antaranya yaitu makna tekstual dari Surat An-Nisa: 86 yakni mengucapkan salam apabila berjumpa.
Termasuk bentuk penghormatan dalam ucapan kepada Rasulullah SAW yaitu dengan bershalawat kepadanya sebagai bentuk kecintaan umatnya kepadanya. Bahkan Allah SWT serta para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad. Ini menjadi indikasi kecintaan Allah kepada Nabi Muhammad. Hal tersebut tertuang dalam surat Al-Ahzab: 56:
- إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 56)
Selain dalam bentuk ucapan, ungkapan atau ekspresi saling menghormati dalam bentuk perbuatan. Ada beberapa bentuk perbuatan yang bisa dinilai sebagai ekspresi saling menghormati. Misalnya, mencium tangan atau berdiri menyambut tamu.
Mencium tangan merupakan adat yang banyak dilakukan oleh berbagai bangsa. Salah satunya Indonesia. Masyarakat Indonesia sering melakukan kebiasaan mencium tangan. Umumnya orang yang usianya lebih muda akan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, saat tangannya telah dijabat oleh orang tua, guru, sanak keluarga, atau orang yang usianya lebih tua. Seketika itu orang yang usianya lebih muda akan mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan.
Sedangkan berdiri untuk menyambut tamu atau seseorang tidak hanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan, melainkan dapat juga dilakukan sebagai bentuk kasih sayang terhadap seseorang.
Islam senantiasa mengajarkan untuk memberikan penghormatan, sekalipun orang tersebut telah meninggal dunia. Saat keranda yang membawa jenazah melintas di hadapan umat Islam, maka kita disyariatkan untuk berdiri hingga keranda yang membawa jenazah tersebut berlalu. Seperti Rasulullah SAW sabdakan dalam hadis yang diceritakan oleh Suraij bin Yunus dan Ali bin Hajr yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim.
إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُوْمُوْا فَمَنْ تَبِعَهَا فَلَا يَقْعُدْ حَتَّى تُوْضَعَ
Artinya: “Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah. Dan siapa yang mengikutinya, maka janganlah ia duduk hingga jenazah itu diletakkan.” (HR Mutafaq Alaih)
Tasamuh
Dalam Islam, saling menghargai dan menghormati itu disebut tasamuh. Tasamuh berasal dari bahasa Arab yang artinya toleransi. Toleransi dapat berarti tenggang rasa, bermurah hati dan lapang dada.
Menurut istilah, tasamuh adalah saling menghormati dan menghargai antarmanusia dengan manusia lainnya.
Dapat disimpulkan, tasamuh ialah akhlak terpuji dalam pergaulan, ada rasa saling menghormati dan menghargai antara satu dengan lainnya tetapi masih dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran agama Islam.
Empat prinsip toleransi dalam Islam menurut Imam Al-Qardhawi. Pertama, prinsip keragaman (al-ta’addudiyah). Keragaman sejatinya merupakan watak alam, dan bagian dari sunnatullah. Dalam keragaman itu, kita disuruh saling mengenal dan menghargai (QS Al-Hujurat: 13)
Kedua, prinsip perbedaan terjadi karena kehendak Tuhan (waqi’ bi masyi’atillah). Allah SWT tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Kalau Allah menghendaki maka semua penduduk bumi menjadi Islam. Namun, hal demikian tidak dikehendaki-Nya (QS Yunus: 99).
Ketiga, prinsip yang memandang manusia sebagai satu keluarga (ka usrah wahidah). Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah SWT, dan dari sisi nasab, keturunan, ia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS. Pesan ini dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 1.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS An-Nisa’: 1)
Keempat, prinsip kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya (takrim al-Insan li-insaniyyatih). Manusia adalah makhluk tertingi ciptaan Allah, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk-makhluk lain.
Allah berfirman:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra: 70)
Toleransi sangat dianjurkan dengan siapapun kecuali dalam urusan agama yang menyangkut aqidah dan keimanan seseorang, Allah berfirman:
اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Mumtahanah: 9)
Anjuran saling mengenal
Semakin saling mengenal, maka semakin terbuka peluang untuk bekerjasama dan saling memberi manfaat. Rasulullah SAW bersabda:
تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى الأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِى الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِى الأَثَرِ
“Pelajarilah nasab-nasab kalian untuk mempererat silaturahmi, karena silaturahmi itu menanamkan rasa cinta kepada kekeluargaan, memperbanyak harta dan memperpanjang usia.” (HR Tirmidzi)
Allah SWT berfirman:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS Ar-Rum: 22)
Yang mendapat rahmat Allah
Allah SWT berfirman:
اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗوَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗوَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
“Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, ‘Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya’.” (QS Hud: 119)
Lalu siapa yang mendapat rahmat Allah? Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, Imam Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud orang yang mendapat rahmat Allah yaitu orang yang memiliki sikap toleran, lapang dada dan menerima perbedaan-perbedaan dan keragaman manusia (al-hanifiyah).
Dalam kitab yang sama, Imam Qatadah mengatakan bahwa orang yang mendapat rahmat Allah yaitu orang yang mampu membangun kebersamaan dan persatuan dalam perbedaan dan keragaman agama, suku, ras, bangsa dan lain-lain (Ahlul Jamaah).
Sedang Al-Kasysyaf dan Al-Baidhawi memahami ‘orang yang dirahmati Allah’ itu yaitu sekelompok orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan bersikap lemah lembut.
Saling menghargai dan menghormati
Sifat-sifat orang yang saling menghargai dan menghormati, di antaranya, yaitu: Pertama, tidak memandang rupa dan harta. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal perbuatan kalian.” (HR Muslim)
Kedua, tidak berselisih pendapat. Allah berfirman:
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat).” (QS Hud: 118)
Ketiga, menjadi orang yang rendah hati. Allah SWT berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.” (QS Al-Furqan: 63)
Keempat, berbuat adil pada siapa pun. Allah berfirman:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Mumtahanah: 8)
Kelima, senantiasa berbuat baik. Allah berfirman:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195)
Keenam, menjadi orang yang rajin memberikan bantuan dan berlapang dada. Allah SWT berfirman:
وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)
Ketujuh, mendamaikan kedua pihak yang berselisih. Allah berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ
”Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu keteguhan hati di dalam urusan (agama) ini dan kemauan yang kuat dalam mengikuti kebenaran.‘’ (HR Imam Thabrani dalam kitab al-Kabir wal-Ausath) []





















