New Delhi, Gontornews — Pihak berwenang India, Sabtu (19/6/2022), menangguhkan layanan internet di negara bagian Bihar bagian timur untuk menghentikan pertemuan publik dan protes kekerasan terkait rencana perekrutan anggota militer.
Setidaknya satu demonstran tewas dan lusinan lainnya luka-luka seiring terjadinya protes menolak kebijakan baru Perdana Menteri Narendra Modi untuk rekrutmen tentara untuk masa jabatan singkat.
India menerapkan sistem rekrutmen yang dikenal dengan istilah Agnipath atau jalan api. Sistem ini memungkinkan militer merekrut lebih banyak anggota dan memberinya kontrak 4 tahun saja. Sistem ini juga bertujuan untuk menurunkan rerata usia angkatan bersenjata India yang, saat ini, berjumlah 1,38 juta orang sekaligus memotong biaya pensiun yang terus meningkat.
Para demonstran, terutama laki-laki muda, mengatakan rencana tersebut akan membatasi kesempatan bekerja tetap di institusi pasukan pertahanan, yang menjamin gaji tetap, pensiun dan tunjangan lainnya.
Akibat demonstrasi tersebut, pemerintah distrik Bihar memblokir beberapa platform media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp. Pejabat senior kepolisian Bihar, Sanjay Singh, mengatakan para demonstran membakar kereta penumpang dan bus untuk mengekspresikan kemarahan mereka.
Di Uttar Pradesh, polisi menangkap sedikitnya 250 orang demonstran sebagai langkah preventif. Beberapa demonstran menuduh pihak kepolisian menggunakan kekuatan berlebihan untuk menghadapi mereka.
Menteri Pertahanan India, Rajnath Singh, telah menghimbau kaum muda untuk mendaftar di bawah skema baru. Kepala angkatan India tidak menduga akan meluasnya protes sembari menjelaskan ada kesalahan informasi yang terlontar terkait dengan sistem baru tersebut.
“Saya tidak mengantisipasi protes seperti ini,” kata Laksamana R Hari Kumar kepada Reuters.
“Ini adalah transformasi manajemen sumber daya manusia terbesar yang pernah terjadi di tubuh militer India,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















