London, Gontornews — Pemerintah Inggris berangsur-angsur melakukan pelonggaran terhadap penguncian akibat COVID-19 mulai Rabu (13/5). Dalam tahapan ini, warga yang tidak dapat bekerja dari rumah diperbolehkan untuk kembali bekerja.
Pemerintah Inggris menambahkan pekerja di bidang manufaktur diizinkan untuk kembali beraktivitas. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, menggambarkan jika pelonggaran penguncian merupakan langkah yang sulit. Boris khawatir bahwa pembatasan pelonggaran akan memicu infeksi gelombang kedua COVID-19.
Sebagaimana diketahui, ekonomi di Inggris menyusut hingga 5,8 persen pada bulan Maret 2020. Akibatnya, ekonomi di negara semi-otonom seperti Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara mengalami hantaman yang sangat keras.
Sementara itu, pemerintah Inggris terus dihujani kritik terutama yang terkait dengan pedoman baru penanganan COVID-19 yang dianggap masyarakat membingungkan.
“Sebenarnya, anda harus memulai segala hal dari suatu tempat. Pesan kuncian sangat mudah yaitu menghimbau anda untuk tetap tinggal di rumah. Sekarang, ketika kita membuka penguncian, tentu saja, harus ada keputusan yang dibuat,” ungkap Menteri Transportasi Inggris, Grant Shapps, dilansir Reuters.
“Tidak ada cara sempurna untuk melakukan ini, kami akan meminta setiap orang untuk menggunakan akal sehat mereka,” imbuhnya.
Pemerintah pun menasihati para pekerja di bidang manufaktur untuk menghindari transportasi umum jika memungkinkan. Sekolah-sekolah di Inggris pun masih mengalami penutupan.
Sementara itu, Kepala Dewan Kepolisian Nasional, Martin Hewitt, mengatakan akan mendorong petugas agar pulang karena alasan khusus.
“Semua orang akan tetap bekerja dalam tujuh pekan terakhir,” kata Hewitt sebagaimana dilansir Reuters dari BBC TV.
“Bukan untuk memisahkan orang tetapi itu merupakan tanggung jawab masing-masing orang. Jika ada orang yang menolak aturan baru maka kita akan menerapkan sanksi andai itu diperlukan,” pungkas Hewitt. [Mohamad Deny Irawan]






















