Jakarta, Gontornews — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, TNI mulai mengerahkan dua kapal perang ke perbatasan Filipina. Kapal perang itu disiagakan terkait upaya penyelamatan WNI yang diduga disandera kelompok yang mengatasnamakan Abu Sayyaf di perairan Filipina. “Saya sudah siapkan pasukan di darat, laut dan udara untuk mengambil tindakan di perbatasan Filipina,” kata Panglima di Jakarta, Sabtu (16/4).
Tidak hanya bersiaga, Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI juga terus meningkatkan latihan pembebasan sandera dengan skenario sasaran di darat. Latihan bertempat di Mamburungan, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, ini terdiri dari gabungan TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta unsur Brimob dari Polda Kaltim yang melibatkan sekitar 500 prajurit dengan skenario ada dua sasaran di darat yang menawan para sandera.
Seperti dirilis tni.mil.id, latihan gabungan PPRC TNI ini disebut sebagai salah satu skenario atau asumsi sesuai dengan medan yang paling mungkin terjadi di wilayah Republik Indonesia. Latihan gabungan PPRC TNI dikombinasikan dengan tiga angkatan yang setiap medannya tidak sama sehingga latihan ini sangat memperhitungkan cuaca, medan dan karakteristik lainnya sehingga rangkaian kombinasi latihan ini dapat berjalan dengan baik.
Dalam kesempatan tersebut Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi yang bertindak selaku Pangkoops TNI yang mengendalikan kegiatan operasi dan latihan PPRC TNI mengatakan, Latihan Gabungan PPRC merupakan suatu kegiatan operasi dengan tepat dan cepat kepada sasaran nyata di wilayah NKRI dalam rangka mencegah dan menghancurkan musuh.
Pangkostrad memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pasukan PPRC TNI karena dengan profesionalisme dan terlatihnya pasukan PPRC TNI ini dapat di gerakkan setiap saat bila bangsa dan negara membutuhkan.
Latihan PPRC TNI diawali kegiatan dari laut oleh Kapal KRI Surabaya yang membawa personil PPRC TNI yaitu Denjaka dan Kopaska bersandar tidak jauh dari Dermaga Lantamal XIII Mamburungan Kota Tarakan Provinsi Kaltara. Sebanyak 24 orang tim gabungan Komando Pasukan Katak (Kopaska), Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) dan Gultor dengan menggunakan 1 Sea Rider dan 3 LCVP (Landing Craft Vehicle Personal) yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta senjata lengkap menuju sasaran tepi dekat pantai dengan gerakan penuh siaga, kerahasiaan dan senyap untuk melakukan penyerangan dan membebaskan tawanan.
Sementara itu di saat yang sama pasukan Free Fall dari Gultor melaksanakan penerjunan dengan pesawat C-130 nomor seri A.1332 berkekuatan 10 prajurit dengan komposisi dua orang sebagai penembak sniper terjun di medan kritis yang dekat dengan sasaran dan dapat memantau sasaran, dan delapan prajurit lainya mengamankan daerah tempat penerjunan untuk bergabung dengan pasukan yang sudah mendarat terlebih dahulu selanjutnya bersama-sama menuju posisi ke daerah sasaran musuh yaitu rumah dan pembebasan sandera tawanan serta penghancuran dan peledakan markas musuh.
Pada saat kedudukan sasaran sudah diketahui dan merupakan jarak efektif tembakan, pasukan PPRC TNI membuka tembakan dengan tepat dan cepat pada sasaran dengan mendekati, merebut dan mengamankan para tawanan. Pasukan Mobil Udara (Mobud) PPRC TNI yang menggunakan dua Hely Bell memberikan bantuan penyerangan dengan kekuatan 16 prajurit kepada pasukan yang berada di depan.
Sandera dan pasukan setelah pelaksanaan aksi penyerbuan dan pembebasan di bawa dengan KRI Teluk Surabaya menuju wilayah kedaulatan RI. Para sandera yang sudah diamankan selanjutnya dilakukan pengecekan, sebelum diserahkan kepada pihak yang berwewenang yaitu pihak kepolisian.
Sebelumnya, terjadi pembajakan terhadap kapal tongkang Anand 12 pada 28 Maret 2016. Kapal tersebut membawa 7.000 ton batubara dan 10 awak kapal berkewarganegaraan Indonesia. Penyandera yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf ini meminta tebusan sebesar 50 juta peso atau setara Rp 15 miliar.
Pembajakan kembali terjadi pada Jumat (15/4) pukul 18.31 waktu setempat di perairan Filipina dengan korban Kapal Tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi yang mengangkut 10 WNI. Enam WNI berhasil menyelamatkan diri sementara empat WNI menjadi korban penyanderaan. Dengan demikian ada 14 WNI yang sampai saat ini masih menjadi korban penyanderaan perompak di Filipina. [Ahmad Muhajir/Rusdiono Mukri]






















