Bandung, Gontornews — Agama Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk memiliki akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). “Akhlak mulia merupakan salah satu indikator dalam menilai tingkat keimanan seorang umat,” ujar Prof Dr Sofyan Sauri dalam tausiyah selepas shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Darul Ihsan Telkom, Geger Kalong, Bandung, Selasa (12/7/2022).
Dalam kajian bertajuk “Membangun Akhlaqul Karimah sebagai Misi Utama Rasulullah SAW” itu, Prof Sofyan menyebutkan tiga alasan mengapa kita mesti memiliki akhlak mulia. Pertama, akhlak mulia memberatkan timbangan kebajikan di Hari Kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan (kebajikan) seorang Mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.” (HR At-Tirmidzi).
Kedua, akhlak mulia merupakan amalan yang paling banyak membuat orang masuk surga. Nabi SAW bersabda:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Artinya: “Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Hakim).
Ketiga, dengan memiliki akhlak mulia, kita akan menjadi Mukmin yang paling sempurna imannya. Nabi SAW bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Artinya: “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR At- Tirmidzi).
Lebih jauh Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu mengatakan, misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاق
Artinya: “Sesungguhnya aku ini hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad).
“Tugas utama Rasulullah ialah mengubah umat manusia menjadi insan yang ‘abid, shalih, dan mushlih yakni mampu melakukan perbaikan,” papar Prof Sofyan.
Fokus pembinaannya meliputi empat hal, yaitu: menanamkan akidah, penyucian jiwa, mengajarkan Al-Qur’an dan Hadis, serta membina keterampilan umat. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Al-Jumu’ah: 2).
Nabi Muhammad SAW merupakan sosok manusia yang sempurna. Terkumpul padanya semua sifat mulia. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qolam: 4).
Karena itu ketika Hisyam bin Amir bertanya kepada istri Nabi, Aisyah RA, tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an” (HR Muslim).
Nabi Muhammad SAW menerapkan sejumlah kiat untuk membangun akhlak mulia kepada umatnya. Menurut Prof Sofyan, paling tidak ada enam kiat yang diterapkan oleh Rasulullah. Pertama, mengokohkan keimanan dan beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’.” (QS Al-An’am: 162).
Kedua, mengajarkan umatnya memelihara nilai ketauhidan sebagai akhlak mulia kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS An-Nisa’: 36).
Ketiga, menanamkan ketakwaan dan memperbanyak dzikrullah.
Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ
Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS al-A’raf 201).
Keempat, menanamkan keikhlasan dalam semua perbuatan.
Allah berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS Al-Bayyinah : 5).
Kelima, memberikan teladan yang baik dan selalu terdepan mempraktikkan akhlak mulia.
Allah berfirman:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Kelima, memberikan teladan yang baik dan selalu terdepan mempraktikkan akhlak mulia.
Allah berfirman:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
Keenam, mengajari kaumnya agar senantiasa berubah ke arah lebih baik. []























Alhamdulillah barakallah ilmunya pa Prof..