Bogor, Gontornews — Dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum yang berkembang terutama di dunia Barat dengan pendekatan metodologi yang didominasi oleh aliran pemikiran positivisme masih berlangsung di sebagian Perguruan Tinggi Islam. Padahal dalam ajaran Islam tidak dikenal dikotomi ilmu pengetahuan. Demikian disampaikan oleh Dosen Universitas al Azhar Indonesia Prof Dr Nurhayati Djamas MA MSi dalam kuliah online yang digelar oleh International Institute of Islamic Thought (IIIT), Kamis (9/9).
Dalam kuliah bertajuk “Dasar Pemikiran Integrasi Nilai Islam dan Ilmu Pengetahuan” Nurhayati menyebutkan, konsep integrasi nilai Islam dengan ilmu pengetahuan bertolak dari perspektif hubungan antara doktrin agama sebagai kebenaran transendental dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari rasio dan pengalaman empirik manusia.
Dari pengalaman historis perkembangan ilmu pengetahuan, menurut mantan Staf Ahli Menteri Agama itu, setidaknya terdapat tiga macam atau keadaan hubungan agama dengan ilmu pengetahuan. Pertama, keadaan konflik. Pada kondisi ini kebenaran doktrin agama dipertentangkan dengan teori ilmu pengetahuan. Contohnya pada kasus Galileo Galilei dalam teori Copernicus bahwa bumi dan planet berputar mengitari matahari (heliocentris), yang diprotes gereja yang mempunyai pandangan bahwa bumi merupakan pusat alam semesta.
Kedua, independen. Pada keadaan ini doktrin agama dan teori ilmu pengetahuan berjalan sendiri-sendiri menurut kaidah masing-masing tanpa saling mengintervensi, yang kemudian menjadi akar dari sekularisasi ilmu pengetahuan.
Ketiga, dialog. Pada keadaan ini terjadi pencarian titik temu antara kebenaran agama dengan kebenaran teori ilmu pengetahuan. Contohnya, upaya fisikawan yang mencoba menemukan pembenaran pada pesan ajaran agama terkait teori evolusi dalam penciptaan alam semesta yaitu dari pesan al-Qur’an surat al-Qaaf, ayat 38. “Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Dan Kami tidak merasa letih sedikit pun.”
Integrasi nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan, papar Nurhayati, bertolak dari cara pandang Tauhid bahwa Allah merupakan sumber seluruh kebenaran, yaitu kebenaran doktrin ajaran agama melalui al-Qur’an, serta sumber kebenaran ilmu pengetahuan dari ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda Allah pada ciptaan-Nya di alam semesta.
Menurut wanita kelahiran Padang, 11 Januari 1951, itu Allah SWT menurunkan kebenaran melalui jalur ayat qauliyah (wahyu al-Qur’an) serta ayat-ayat kauniyah yang berjalan menurut ketetapan-Nya (Sunnatullah) yang menjadi objek eksplorasi manusia dalam melahirkan teori ilmu pengetahuan.
Wahyu al-Qur’an, lanjut Nurhayati, selain mengandung pesan-pesan yang kemudian melahirkan ilmu naqliyah (dalam kategori Ibnu Khaldun), juga mengandung pesan tentang ayat-ayat kauniyah, fakta dan fenomena di alam semesta sebagai objek riset yang melahirkan ilmu pengetahuan.
“Dengan begitu, ayat qauliyah terintegrasi dengan ayat kauniyah tentang fenomena spesies/makhluk di alam semesta yang berlangsung sesuai ketetapan Allah (Sunnatullah) menjadi kajian integrasi ilmu dalam perspektif Islam bagi kebangkitan peradaban Islam ke depan,” ujarnya dalam kuliah melalui aplikasi Zoom. []





















