Jalur Gaza, Gontornews — Israel melakukan pelarangan terhadap masuknya bahan bakar dan gas ke Jalur Gaza, Kamis (2/8). Sebelumnya, 9 Juli lalu, Otoritas Israel juga menutup pintu penyeberangan komersial yang merupakan satu-satunya penyeberangan bagi pasokan bahan bakar dan gas ke wilayah Jalur Gaza dan memotong pasokan komoditas penting ke hampir dua juta penduduk.
Dikutip lama Aljazeera, bahwa langkah tersebut diambil sebagai upaya pembalasan Israel terhadap pembakaran layang-layang yang diluncurkan dari Gaza ke lahan pertanian milik Israel yang menyebabkan kerugian ratusan dolar.
Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman menjelaskan, pihaknya memerintahkan penghentian pengiriman bahan bakar yang dilakukan melalui penyeberangan perbatasan komersial Karam Abu Salem yang sebagiannya telah ditutup. Keputusan berlaku mulai hari ini sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Sementara itu seorang pejabat yang bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan pergerakan kargo melalui perbatasan itu menjelaskan, langkah yang dilakukan Israel hanya memungkinkan untuk mengirimkan kebutuhan kemanusiaan seperti gas untuk memasak serta gandum dan tepung ke Gaza.
“Israel juga mencegat kapal bantuan yang menuju Jalur Gaza,” jelasnya.
Penutupan tersebut juga telah mempengaruhi ekspor Gaza dan semakin menekan ekonomi yang sudah lumpuh akibat blokade yang dilakukan Israel selama 12 tahun.
Ia juga menjelaskan ada sekitar 40 hingga 50 truk yang mengangkut barang-barang lokal yang digunakan setiap hari.
Tidak hanya itu, kondisi Rakyat Palestina di wilayah tersebut juga semakin menderita setelah mengalami kekurangan listrik yang parah. Sebab listri yang mengalir ke Jalu Gaza bergantung pada generator yang bertenaga bahan bakar, dan sewaktu-waktu pemadaman terjadi hingga berjam-jam.
Warga Palestina di Gaza sendiri terus melakukan protes terhadap blokade angkatan laut, udara dan darat yang diberlakukan oleh Israel dan negara tetangga Mesir sejak 2006.
Salah satu langkah dengan memggunakan layang-layang yang membawa api untuk membakar lahan pertanian tepat di atas pagar pembatas.
Sementara itu, untuk melawan Israel telah menggunakan pesawat tak berawak untuk mencegat layang-layang, namun hal itu selalu digagalkan Warga Gaza yang memiliki beberapa keberhasilan dalam menjatuhkan drone.
Sebelumnya, untuk membalas layang-layang, Israel telah menyerang sasaran milik Hamas lantaran menuduh jika kelompok itu adalah inisiator atas peluncuran layang-layang. Serangan udara telah menewaskan sedikitnya tiga warga sipil Palestina dalam satu bulan terakhir.
Sejak 30 Maret, warga Palestina di Gaza juga telah memprotes hak mereka untuk kembali ke rumah tempat mereka diusir pada 1948.
Setidaknya 153 orang telah tewas oleh tembakan Israel selama demonstrasi yang dijuluki the Great March of Return terus berlangsung di sepanjang pagar dengan Israel. [Devi Lusianawati]























