Ponorogo, Gontornews– “Belajar istiqamah dari nasihat Kiai Syukri.” Tema ini yang dibahas dalam Halaqah Teladan pekanan (Kajian Khusus yang diadakan oleh Alumni Gontor Angkatan 2009 wilayah Ponorogo). Silaturahim ini diselenggarakan setiap hari Senin menjelang shalat Dzuhur bertempat di Masjid Jami’ UNIDA Gontor dengan tujuan agar selepas kajian langsung dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjamaah.
Hadir sebagai pemateri Ustadz M Wahyudi MPd, lulusan pascasarjana PBA UNIDA Gontor yang menjabat sebagai dosen Fakultas Tarbiyah di almamater yang sama. Pengalaman mengabdi di Gontor mulai dari bagian bahasa, pembimbing bagian bahasa, lulus dari Program Kaderisasi Ulama (PKU) UNIDA Gontor, pernah menjadi utusan UNIDA untuk Qatar selama 10 bulan, juga menjaga hafalan Al-Qur’annya.
Ustadz Wahyudi alumni Gontor angkatan 2009 ini mengingatkan dan mengajak teman-temannya yang hadir untuk merenungi kembali bahwa KH Abdullah Syukri Zarkasyi sering menerangkan tentang pentingnya istiqamah.
Kiai Syukri sering mengutip surat Fussilat ayat 30.
(إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَبۡشِرُوا۟ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِی كُنتُمۡ تُوعَدُونَ)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.”
Agar istiqamah, kita perlu muhasabah(introspeksi diri) dalam rangka tajdid al niyyah (memperbaharui niat). Mengingat kembali banyaknya nikmat-Nya kepada kita yang tentu tidak kuasa kita menghitungnya. Juga dalam rangka supaya kita mampu menginsafi segala amal perbuatan kita dan senantiasa bersabar dan bersyukur dalam segala keadaan.
Kiai Syukri juga sering mengingatkan bahwa: “Al iman yazidu wa yanqusu…” Tidak hanya Kiai Syukri, pimpinan lainnya seperti KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Syamsul Hadi Abdan juga mengulang istilah tajdid al niyyah. Memperbaharui dan memperbaiki niat. Agar persepsi menjadi sama. Agar orientasi menjadi lurus. Agar keikhlasan menjadi lebih prima.
Hal inipun, masih perlu aspek pendukung lain. Karena itu, kita ingat “…wa tawashaw bi al haqq wa tawashaw bi al sabr…” saling mengajak dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran menjadi relevan untuk digunakan. Khususnya dalam hal kerja tim, dalam konteks kita saat ini, adalah solid team, Paragon alumni 2009.
Juga dalam konteks yang lebih luas, adalah hal keummatan dan pendidikan. Di UNIDA Gontor dan Pondok Gontor secara umum, semua itu ada. Ada pengarahan sebelum bekerja. Ada evaluasi. Ada pula pendekatan yang bersifat kekeluargaan sebagaimana yang kita laksanakan hari ini, dalam Halaqah Teladan.
“Terakhir, istiqamah merupakan jima’ al khair (sumber segala kebaikan). Maka, mari kita selalu meminta pertolong pada Allah supaya diberikan keistiqamahan dalam kebaikan (shalah) dan perbaikan (ishlah). Aamiin yaa Rabba al’aalamiin,” papar Ustadz Wahyudi mengakhiri kajian kali ini. Semoga bermanfaat! [Para Teladan]




















