Kigali, Gontornews — Setidaknya 10 orang tewas setelah kelompok militan menyerang sebuah masjid di Tiger Barat, Senin (11/10/2021). Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan, Rabu (13/10/2021) mengonfirmasi serangan tersebut terjadi di Desa Tizigorou yang berbatasan langsung dengan Niger, Mali dan Burkina Faso.
“Para penyerang mengendarai sepeda motor dan menyerang sebuah masjid selama waktu shalat di prefektur Bianibangou, Tillaberi. Para korban tewas sedang melaksanakan ibadah shalat,” ungkap Menteri Pertahanan Niger, Issoufou Katambe, sebagaimana dilansir Anadolu.
Sejak awal tahun, serangan oleh tersangka militan telah meningkat di daerah sekitar Banibagou dan kota-kota sekitar. Kelompok militan bersenjata tersebut menargetkan warga sipil dan tentara. Pemerintah menuduh kelompok ISIS yang berada di Great Sahara dan kelompok yang terafiliasi dengan organisasi Al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Secara total, pemerintah Niger telah mencatat ada lebih dari 500 kematian yang terkonfirmasi dan ribuan orang terpaksa mengungsi karena kekerasan yang terjadi di Tillaberi.
Untuk menekan aksi kekerasan, pemerintah Niger melarang penggunaan motor di beberapa wilayah Tillaberi. Kebijakan ini mereka terapkan menyusul ancaman keamanan yang terjadi terus-menerus.
Sejatinya, pemerintah telah mencabut larangan tersebut pada 1 September lalu seiring dengan meningkatnya situasi keamanan oleh pasukan pemerintah. Sebagai informasi, beberapa kelompok milita yang beroperasi di wilayah tersebut kerap menggunakan sepeda motor untuk menyerang penduduk sipil maupun tentara.
Selain itu, pemerintah juga mengatur penjualan bahan bakar dan menutup pasar yang mereka curigai sebagai informan serta memberi makan kepada kelompok bersenjata. Sepeda motor sendiri merupakan alat transportasi utama bagi warga di Tillaberi.
Penduduk dan sejumlah tokoh masyarakat setempat mengeluhkan dampak negatif pelarangan transportasi motor bagi kehidupan mereka sehari-hari. PBB bahkan menyebut 600.000 warga Tillaberi menghadapi kerawanan pangan karena gangguan keamanan maupun serangan berulang dari kelompok bersenjata yang menargetkan petani dan warga sipil. [Mohamad Deny Irawan]






















