Kingston, Gontornews — Pemerintah Jamaika, Jumat (20/8/2021), memutuskan untuk mengunci pergerakan masyarakat selama total tujuh hari ke depan. Pemerintah berharap penguncian yang berlangsung selama tiga pekan tersebut dapat menahan penularan infeksi virus serta melindungi sistem perawatan kesehatan.
Negara Karibia itu telah berjuang melawan gelombang infeksi Covid-19 ketiga dengan kehadiran varian Delta yang sangat menular.
“Jumlah kasus kami sangat tinggi dan terus meningkat. Tingkat keterisian ruang rawat inap terus meningkat. Hal ini tentu saja berada di luar kapasitas penanganan oleh sistem kesehatan kita,” kata Perdana Menteri Jamaika, Andrew Holness, kepada Reuters.
Hingga Jumat, rumah sakit Jamaika mengonfirmasi ada lebih dari 550 orang yang mendapatkan perawatan akibat Covid-19. Secara total, Jamaika telah mengonfirmasi hampir 60.000 kasus virus korona dengan 1.300 warga meningga akibat virus asal Wuhan tersebut.
Para pejabat khawatir dengan penyebaran virus seiring dengan angka positivity rate yang mencapai 39 persen. Angka tersebut melonjak setelah pemerintah melakukan pelonggaran penahanan bulan lalu.
“Ini tidak berjalan dengan baik untuk saat ini. Kami benar-benar harus melakukan beberapa tindakan serius untuk menurunkan jumlahnya dengan cepat,” ungkap Kepala Petugas Medis Jamaika, Jacquiline Bisasor-McKenzie.
Jamaika akan memulai kebijakan pembatasannya pada hari Ahad akhir pekan ini. Untuk penguncian pertama akan berlangsung selama tiga hari. Pemerintah juga mengatakan akan ada penguncian selama tiga hari lainnya pada akhir pekan selanjutnya. Sementara satu hari lainnya akan terjadi pada Ahad 5 September 2021 mendatang.
Pemerintah meminta kepada masyarakat untuk tetap di rumah kecuali untuk pekerja penting. Meski demikian, pemerintah tetap memberikan fleksibilitas bagi warga negara yang hendak melakukan perjalanan internasional. Sejauh ini, Jamika baru berhasil memberikan vaksin lengkap kepada total 5 persen populasinya. [Mohamad Deny Irawan]




















