Greenland, Gontornews — Hujan mengguyur puncak lapisan es di Greenland pekan lalu. Ilmuwan mengatakan turunnya hujan di Greenland merupakan tanda bahwa pencairan lapisan es telah meningkat pada titik yang mengkhawatirkan.
“Itu bukan tanda yang sehat bagi lapisan es,” kata Indriani Das, Glasiolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University, kepada Reuters.
“Air di atas es adalah (tanda) keburukan. Itu membuat es lebih rentan terhadap pencairan,” sambung Indriani.
Air tidak hanya lebih hangat dari salju biasa. Air, sebut Indriani, bahkan mampu menyerap lebih banyak sinar matahari ketimbang memantulkannya. Lelehan es tersebut selanjutnya akan mengalir ke laut dan menyebabkan permukaan air laut naik.
Sejauh ini, pencairan es Greenland telah menyebabkan 25 persen kenaikan permukaan laut global dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan mengingatkan angka tersebut berpeluang naik seiring dengan terus meningkatnya suhu global.
Pekan lalu, hujan mengguyur puncak es Greenland di ketinggian 3.216 meter pada 14 Agustus 2021 yang lalu. National Snow and Ice Data Center Amerika Serikat mengatakan suhu tetap di atas titik beku terjadi selama sekitar sembilan jam saja.
Padahal, suhu pada lapisan es di puncak es di Greenland tidak pernah berada di atas titik beku. Namun, sejauh ini, suhu di lokasi tersebut telah meningkat tiga kali dalam waktu kurang dari satu dekade belakangan.
Hujan dan suhu tinggi memicu pencairan lebih luas di seluruh pulau. Sejauh ini, Greenland telah mengalami pencairan massa es permukaan pada 15 Agustus sebanyak tujuh kali di atas angka rata-rata pencairan pada pertengahan Agustus.
Para ilmuwan mengatakan pencairan es dan hujan di Greenland berasal dari pola sirkulasi udara dengan udara hangat dan lembab menutupi pulau es tersebut. “Hujan yang mengkhawatirkan di puncak Greenland bukanlah peristiwa yang terisolasi,” kata Twila Moon dari National Snow and Ice Data Center Amerika Serikat.
“Kami harus benar-benar fokus untuk beradaptasi serta mengurangi potensi tersebut (agar tidak) menjadi sesuatu yang sangat menghancurkan,” tutup Moon. [Mohamad Deny Irawan]





















