Karangasem adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Bali, yang memiliki sejuta pesona keindahan alam dan budaya. Pasalnya, hampir setiap desa di Karangasem seperti Tenganan, Abang, Duda Timur, Lean, dan lainnya, memiliki keunggulan objek wisata maupun budaya yang beraneka satu sama lain.
Eksplorasi Adat dan Budaya Warga Desa Tenganan
Tepat di Kabupaten Karangasem terdapat sebuah atraksi menarik Perang Pandan yang sangat identik dengan Desa Tenganan. Desa Tenganan atau biasa dikenal Tenganan Pegeringsingan, merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di Pulau Bali.
Jumlah penduduk desa ini sekitar 3.862 jiwa (berdasarkan data sensus penduduk tahun 2003) dengan luas tanah 1.500 hektar. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa keindahan alam Desa Tenganan berpotensi besar sebagai wisata alternatif jalur trekking dengan melewati jalan desa, perbukitan, dan juga hamparan sawah penduduk. Rute pendek jalur trekking ini dapat ditempuh dalam waktu ±3-4 jam.
Desa kuno Tenganan mulai dijadikan salah satu objek wisata budaya karena keunikan pola hidup masyarakatnya yang masih kental dengan adat dan budaya penduduk asli Bali dan berbeda dari desa-desa lain di Bali. Pengaturan letak, bentuk, ukuran bangunan serta pekarangan, hingga letak Pura dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun-temurun dipertahankan.
Salah satu tradisi nenek moyang yang masih dilestarikan oleh penduduk asli desa setempat yaitu pelestarian sistem perkawinan yang dianut adalah sistem parental di mana perempuan dan laki-laki dalam keluarga memiliki derajat sama serta berhak menjadi ahli waris.
Di samping itu, mereka juga menganut sistem endogamy di mana masyarakat setempat terikat dalam awig-awig (hukum adat) yang mengharuskan pernikahan dilakukan dengan sesama warga Desa Tenganan. Apabila dilanggar maka warga tersebut tidak diperbolehkan menjadi krama (warga) desa, artinya bahwa ia harus keluar dari Desa Tenganan.
Lokasi Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km dari kota Amlapura (ibukota kabupaten), 5 km dari kawasan wisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari kota Denpasar. Desa Tenganan terletak di antara kaki dua buah bukit yaitu Bukit Kauh (Bukit Barat) dan Bukit Kangin (Bukit Timur).
Berada di tengah perbukitan menjadikan nama desa ini Tenganan berasal dari kata tengah atau ngatengahang, yang berarti bergerak ke daerah yang lebih dalam. Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan.
Berada di desa Tenganan akan membuat diri kita merasa aman dan damai. Pasalnya, para penduduk desa sangat bersahabat dan selalu ramah terhadap setiap orang. Pada sore hari tepatnya, jika kita berjalan-jalan mengelilingi kampung, kita akan menyaksikan ragam aktifitas warga yang sangat kental dengan adat istiadat nenek moyang mereka terdahulu. Maka pantaslah jika mereka disebut dengan sebutan Bali Aga(Bali Asli).
Ragam Budaya Masyarakat Tenganan
Kekayaan budaya di desa Tenganan memang telah mengundang perhatian banyak orang. Tidak hanya para turis dari dalam dan manca negara saja, melainkan banyak pula arkeolog serta sejarahwan yang tertarik untuk mempelajari ragam adat istiadat serta keindahan alam di sini.
Upacara adat yang kerap dilaksanakan warga desa setiap tahunnya merupakan rentetan dari upacara Ngusabha Sambah seperti prosesi Perang Pandan atau Mekare-kare, menaiki ayunan, dan lainnya. Biasanya, sebelum upacara Ngusabha Sambah, warga desa sudah terlebih dahulu menggelar upacara Buah Pisang atau Mesabar Sabatan Biu dalam rangka memilih calon pemimpin desa.
Prosesinya dimulai dengan mendidik para calon menurut adat setempat secara bertahap berupa psikologi test. Setelah itu, pada tanggal yang telah ditentukan sesuai sistem penanggalan setempat (sekitar bulan Juli) baru diadakan upacara Ngusabha Sambah dengan tradisi unik Perang Pandan atau duri (Mekare-kare).
Mekaré-karé merupakan puncak dari serangkaian prosesi upacara Ngusaba Sambah yang berlangsung selama 30 hari. Biasanya, selama 1 bulan Mekare-kare dilakukan sebanyak 2-4 kali oleh para lelaki. Baik lelaki dewasa, remaja hingga anak-anak boleh ikut meramaikan atraksi ini.
Dalam sebuah arena mereka bertarung saling sayat dengan menggunakan senjata seikat daun pandan berduri dan sebuah perisai dari anyaman rotan guna melindungi diri. Rata-rata peserta perang bertelanjang dada dan menggunakan pakaian adat mereka.
Selain Perang Pandan, rentetan lainnya adalah menaiki ayunan. Biasanya para wanita Bali diajak untuk menaiki ayunan dengan mengenakan pakaian adat. Selain menjadi pelengkap dalam upacara, ayunan ini juga memiliki makna di hati masyarakat sekitar bahwa tidak ada perbedaan antara kelas atas dengan kelas bawah karena tidak selamanya orang selalu di atas atau sebaliknya tidak pula selamanya berada di bawah.
Oleh-Oleh Kain Unggulan Gringsing
Kata Gringsing berasal dari kata gering yang artinya sakit atau musibah, dan sing berarti tidak. Secara keseluruhan kata Gringsing dimaknai warga sebagai penolak bala. Kain Gringsing merupakan salah satu jenis kerajinan tangan unggulan warga sini.
Proses pembuatan kain tenun Gringsing sangatlah unik serta membutuhkan waktu lama kurang lebih 3 tahun. Hal ini menjadikan harga jual kain dapat melambung sangat tinggi dikarenakan kelangkaannya.
Meski begitu, kain Gringsing tetap wajib dimiliki setiap warga Tenganan karena merupakan bagian dari perlengkapan upacara adat, semisal Ngaben (upacara pembakaran jenazah) di mana kain Gringsing digunakan untuk mengusung mayat.
Cara pembuatan kain gringsing adalah dengan teknik double ikat. Teknik ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara. Selain kain tenun gringsing beberapa kerajinan tangan khas Tenganan adalah anyaman bambu, ukiran, dan lukisan dari daun lontar yang telah dibakar. Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan para pengrajin muda yang asyik menggambar di atas dedaunan lontar. [Edithya Miranti]





















