California, Gontornews — Perusahaan media sosial global, Twitter, berencana untuk menutup semua iklan politik di platformnya, Rabu (30/10). Langkah ini dilakukan menyusul adanya dugaan penyebaran informasi palsu saat pemilihan politik berlangsung.
“Kami telah membuat keputusan untuk menghentikan semua iklan politik di Twitter secara global,” ungkap CEO Twitter, Jack Dorsey, dalam pernyataan yang dilansir Reuters.
“Kami percaya jangkauan pesan politik harus diperoleh dan bukan dibeli,” tambahnya.
Dorsey menambahkan bahwa aturan pelarangan iklan politik ini akan berlaku sejak 22 November 2019 mendatang.
“Twitter tidak akan menerima iklan berisi pemaksaan dan pesan-pesan politik yang ditargetkan pada orang-orang dengan kekuatan yang membawa risiko signifikan pada politik yang dapat mempengaruhi suara untuk mempengaruhi jutaan orang,” jelas Dorsey.
Sejumlah perusahaan media sosial semisal Twitter dan Facebook tengah mendapat sorotan sekaligus tekanan untuk menghentikan iklan politik menyusul adanya upaya propaganda Rusia terhadap pemilihan Presiden Amerika Serikat Tahun 2016 silam.
Berbeda dengan Twitter, Facebook disebut tidak akan melarang iklan politik di platformnya karena berpotensi memicu kemarahan sejumlah kandidat calon Presiden AS tahun 2020 seperti mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden atau Elizabeth Warren.
CEO Facebook, Mark Zuckenberg sendiri tetap membela kebijakan yang dibuat perusahaannya untuk tidak melarang penyebaran pidato politik kepada seluruh pengguna akun Facebook. [Mohamad Deny Irawan]





















