Tokyo, Gontornews — Jumlah kelahiran di Jepang turun ke rekor terendah selama tujuh tahun berturut-turut pada tahun 2022 yang turun hingga di bawah 800.000 kelahiran dalam satu tahun. Angka ini sekaligus menjadi rekor kelahiran terendah sejak Jepang memperkenalkan angka statistik kelahiran pada tahun 1899.
Pandemi virus korona yang berkepanjangan telah menyebabkan banyak wanita Jepang menunda rencana hamil karena alasan ekonomi atau kesehatan. Kementerian Kesehatan merilis jumlah kelahiran dalam rentang periode Januari hingga Oktober 2022 turun 4,8 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi 669.871 kelahiran.
Andai tren ini berubah, tahun ini, jumlah kelahiran tahunan di Jepang bisa mencapai sekitar 770.000 kelahiran berbanding 811.604 kelahiran tahun lalu. Pemerintah Jepang tidak memperkirakan jika penurunan jumlah angka kelahiran akan terjadi lebih cepat seperti saat ini.
National Institute of Population and Social Security Research, pada tahun 2017, pernah memperkirakan jika total kelahiran di Jepang pada tahun 2022 mencapai 850.000 dan bergerak turun menjadi 800.000 kelahiran pada tahun 2030.
Penurunan angka kelahiran di Jepang mengancam pendanaan pemerintah di masa depan terkhusus untuk program jaminan sosial yang melonjak seperti pensiun ataupun perawatan medis bagi orang tua.
Kyodo News mencatat jumlah kelahiran di Jepang telah mengalami tren penurunan sejak mencapai puncaknya 2,09 juta pada tahun 1973. Pada tahun 1984, jumlah kelahiran turun menjadi 1,5 juta. Sedangkan sejak tahun 2016, angkanya turun hingga di bawah angka 1 juta kelahiran.
Pakar demografi dari Universitas Chuo di Tokyo, Kohei Wada, memprediksi tren penurunan ini akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
“Selain merancang jaminan sosial nasional dengan cara yang sesuai dengan masyarakat lanjut usia, kita juga perlu menganalisis lebih lanjut untuk menaikkan angka kelahiran,” tutup Wada. [Mohamad Deny Irawan]


















