Bamako, Gontornews — Junta Militer Mali sepakat untuk membebaskan Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita, Ahad (23/8). Mereka juga setuju untuk memulangkan Presiden Keita ke rumahnya atau pergi ke luar negeri untuk menjalani perawatan medis.
Kesepakatan ini terjalin setelah Komite Nasional untuk Keselamatan Rakyat (CNSP) dan Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) melaksanakan pertemuan, Ahad (23/8). Pertemuan antarkedua belah pihak tersebut dipimpin oleh mantan Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan.
CNSP merupakan dalang di balik pengunduran diri Presiden Keita serta pembubaran parlemen Mali.
Selain pembebasan Presiden Keita, Junta Militer Mali juga mengusulkan masa transisi tiga tahun oleh militer sebelum pemilihan diadakan.
“Kami telah mencapai sejumlah kesepakatan tetapi belum mencapai konsensus tentang semua masalah,” kata Jonathan sebagaimana dilansir Anadolu.
“Diskusi masih terus berlanjut. Kami memiliki poin-poin kompromi pada aspek-aspek tertentu. Negosiasi akan terus berlanjut,” jelas Jurubicara CNSP, Mayor Ismael Wague.
Sebagaimana diketahui, Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita menutuskan untuk mundur dari kursi Presiden, Selasa (18/8). Tidak beselang lama, Presiden Keita juga membubarkan parlemen setelah sejumlah kelompok militer menahan serta menodongkan senjata kepadanya.
“Jika hari ini, elemen tertentu dari angkatan bersenjata kita ingin diakhiri melalui intervensi mereka, apakah saya benar-benar punya pilihan?” kata Presiden Keita dari pangkalan militer Kati, Bamako.
PBB telah menyeruhkan agar tatanan konstitusional dan demokrasi di Afrika Barat dipulihkan secepat mungkin. PBB pun mendesak agar Presiden Keita dan pejabat tinggi Mali yang ditawan dibebaskan. [Mohamad Deny Irawan]






















