Yangon, Gontornews — Bulan lalu, 15 ribu warga Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan Myanmar menuju Cina saat terjadi bentrok antara tentara Myanmar dengan kelompok etnis bersenjata.
“Akses bantuan kepada orang-orang yang terkena dampak konflik di negara bagian utara Kachin dan Shan makin parah, tidak lebih baik,” kata Pierre Peron, jurubicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Myanmar, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
OCHA mengatakan, Senin (19/12), sebelum 15 ribu pengungsi baru itu datang, di negara bagian Shan yang terletak di bagian utara Myanmar itu telah terdapat 2.400 pengungsi Rohingya sejak 20 November 2016.
Sementara itu puluhan pengungsi lainnya tenggelam saat mencoba menyeberangi sungai yang memisahkan Myanmar dengan Malaysia. Pemerintah Myanmar telah melarang warganya untuk bekerja di Malaysia.
Bentrokan yang terjadi hari Ahad dan maraknya arus pengungsi Rohingya ke negeri-negeri tetangga merupakan tamparan bagi pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi. Sebab, menyudahi konflik lama di daerah perbatasan berupa pegunungan merupakan prioritas utama pemerintahannya.
Para pengamat khawatir, pemerintahan sipil Suu Kyi tidak dapat mengendalikan tentara, yang mempertahankan kekuasaan politik dan bebas dari pengawasan sipil.
Mereka menilai Suu Kyi telah menutup mata terhadap penderitaan etnis minoritas Rohingya, yang telah menghadapi diskriminasi dari pemerintah selama beberapa dekade.
Amnesty International PBB mengatakan, Ahad (18/12), ย telah terjadi sejumlah kejahatan kemanusiaan terhadap etnis minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar. [Rusdiono Mukri]




















