Milan, Gontornews — Kasus penularan COVID-19 di Italia terus merangkak naik. Dalam 24 jam terakhir, 889 warga tewas akibat COVID-19, Sabtu (28/3). Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat COVID-19 di Italia mencapai 10.023 kematian.
Angka kematian ini adalah yang tertinggi kedua sejak pandemi ini muncul di Italia pada 21 Februari silam. Pemerintah Italia pun mulai memperkirakan bahwa masa karantina akan diperpanjang.
Pun dengan kasus penularan COVID-19 yang meningkat 6.000 kasus menjadi 92.472 kasus. Jumlah ini adalah yang tertinggi nomor dua setelah Amerika Serikat. Otoritas setempat pun mengatakan bahwa kondisi ini akan memburuk jika kebijakan karantina nasional tidak diberlakukan.
“Tanpa langkah ini, kita akan melihat angka yang jauh lebih buruk. Sementara pelayanan kesehatan kita akan berada dalam keadaan yang jauh lebih dramatis. Kami akan berada dalam situasi yang tidak berkelanjutan,” kata Kepala Perlindungan Sipil Italia, Angelo Borelli, sebagaimana dilansir Reuters.
Sejauh ini, wilayah Lombardy di Milan menjadi wilayah paling terdampak akibat COVID-19. Di wilayah tersebut, 542 kematian baru terkonfirmasi hanya dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, total jumlah kematian di Negeri Pizza tersebut mencapai 5.944 kasus.
Sementara itu, Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, mengatakan bahwa ia menyetujui paket ekonomi 4,7 miliar euro atau setara 84 triliun rupiah. Kebijakan ini dipergunakan demi membatu pihak-pihak yang paling terpukul terkhusus voucher belanja dan paket makanan.
PM Conte juga telah mendesak Uni Eropa untuk meluncurkan ikatan pemulihan untuk membantu negara-negara terdampak wabah COVID-19 seperti Italia. Conte juga mengatakan keadaan darurat akan menjadi kesalahan tragis bagi Uni Eropa andai bantuan tersebut tidak terealiasi. [Mohamad Deny Irawan]






















