Roma, Gontornews — Maraknya perlawanan terhadap Islam di negeri Romawi tidak menjadikan eksistensi kaum Muslimin di sana melemah.
Buktinya, berkat bantuan dan dukungan banyak orang termasuk sokongan dana dari 24 negara Islam, Muslim Italia bisa mendirikan Masjid Agung Roma yang megah dan sangat membanggakan.
Ke-24 negara tersebut yaitu Algeria, Uni Emirat Arab, Bahrain, Bangladesh, Brunei, Mesir, Indonesia, Irak, Jordania, Kuwait, Libya, Malaysia, Mauritania, Maroko, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia, Senegal, Sudan, Tunisia, Turki, dan Yaman.
Terletak persis di ujung taman Villa Ada Park, di utara kota Roma. Masjid Agung ini diresmikan pertama kali pada 23 Muharam 1416 H bertepatan dengan tanggal 21 Juni 1995.
Peresmian dihadiri oleh sejumlah tokoh agama, umat Muslim, Presiden Italia Oscar Luigi Scalfaro, serta perwakilan negara-negara Islam yang ada di Italia.
Dana sebesar 59 miliar Lira Italia habis terpakai untuk pembangunan masjid ini. Sedangkan donatur terbesar berasal dari Pemerintah Saudi Arabia.
Meski berjarak sekitar 5 kilometer dari inti kota yang paling bersejarah di kota Roma, Masjid yang ditentang hingga memakan waktu pembangunan selama 20 tahun ini, tetap saja mampu menyedot perhatian banyak kalangan.
Ada sebuah cerita yang berkembang di tengah masyarakat dalam periode 1920-an, ketika Mussolini ditanyakan tentang kemungkinan untuk membangun masjid di kota Roma.
Mussolini yang memang biangnya rasisme itu menjawab, “Bila mereka mengizinkan saya membangun gereja di kota Mekkah, maka saya akan setuju mereka membangun masjid di kota Roma.” Namun, apa boleh dikata, umat Muslim Roma terlalu kuat untuk ditentang hingga terus berupaya mendirikan sebuah masjid.
Menyadari begitu tingginya kebutuhan bagi kehadiran masjid di kota Roma, Tahta Suci Vatikan kemudian mengeluarkan Dekrit tahun 1963. Dekrit tersebut menyatakan dengan tegas bahwa Vatikan tidak menentang pembangunan masjid di kota Roma.
Namun ada syaratnya, yaitu bangunan masjid harus dibangun di lokasi yang tidak terlihat dari Basilika Santo Petrus, serta menaranya tidak lebih tinggi dari kubah Santo Petrus.
Dan kemudian Islamic Cultural Center Italia pun dibentuk secara resmi tahun 1966 disahkan dengan dekrit presiden.
Kompleks masjid dan Islamic Cultural Center Roma ini memang sengaja dirancang bagi Muslim kota Roma dari berbagai kalangan. Pada pelaksanaan shalat hari raya di kompleks ini dihari oleh lebih dari 15 ribu jemaah hingga shalat terpaksa dilaksanakan dalam tiga gelombang.
Saat ini, pusat kebudayaan Islam dan Masjid Agung Roma telah menjadi sebuah etalase yang dengannya warga kota Roma dapat mengerti dan memahami atau setidaknya mendapatkan informasi lebih tentang Islam sebagai sebuah agama dan peradaban. [Edithya Miranti]




















