Konten digital yang menyorot kehidupan santri dan kiai di Pesantren Lirboyo baru-baru ini telah menyita perhatian publik. Tayangan tersebut, yang muncul pada Senin, 13 Oktober 2025, menuai gelombang reaksi, terutama dari kalangan pesantren dan alumni. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, bahkan menyampaikan keberatan dan protes keras karena menilai konten itu tidak hanya melecehkan pesantren, tetapi juga menghina para kiai dan tokoh yang sangat dimuliakan Nahdlatul Ulama.
Peristiwa ini menjadi cermin betapa kerapuhan literasi digital masih menjadi persoalan di masyarakat. Pesantren, lembaga pendidikan Islam yang telah berabad-abad menjadi penyangga moral bangsa, kini justru menjadi sasaran empuk bagi pembuat konten yang miskin pemahaman dan dangkal literasi. Nilai-nilai luhur seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ilmu, sering kali gagal ditangkap oleh mereka yang hanya mengejar sensasi dan klik semata.
Pesantren sejatinya bukan hanya ruang belajar, melainkan ruang pembentukan karakter dan peradaban. Di dalamnya, santri tidak hanya mempelajari kitab, tetapi juga mengasah hati dengan dzikir dan adab. Kiai, para mursyid ilmu, dan santri hidup dalam harmoni spiritual yang melahirkan generasi berakhlak dan berilmu. Namun, bagi sebagian pembuat konten yang tidak memahami tradisi ini, semuanya tampak asing, bahkan aneh, lalu dikemas menjadi tontonan yang menyesatkan.
Fenomena semacam ini memperlihatkan bagaimana logika viral sering menyingkirkan logika moral. Pembuat konten lebih sibuk menampilkan sisi dramatis kehidupan pesantren ketimbang memahami kedalaman maknanya. Padahal, di balik setiap adegan sederhana kehidupan santri, dari mencuci piring bersama hingga mencium tangan kiai, tersimpan nilai adab, kesetiaan pada ilmu, dan penghormatan terhadap guru.
Lebih jauh lagi, sebagian pihak yang sinis terhadap Islam moderat menjadikan pesantren sebagai target serangan. Mereka lupa bahwa pesantrenlah yang menjadi benteng Islam rahmatan lil ‘alamin di Nusantara. Dari pesantren lahir gerakan dakwah yang damai, nasionalisme yang kokoh, dan semangat kemerdekaan yang membakar jiwa para pejuang bangsa.
Di balik kesederhanaannya, pesantren telah menorehkan sejarah besar. Dari rahim pesantren lahir tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, KH Idham Chalid, hingga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mereka bukan hanya ulama, tetapi juga arsitek peradaban dan penjaga nilai-nilai kebangsaan. Sayangnya, sejarah panjang itu sering kali tak tergambar dalam potongan video berdurasi satu menit yang hanya mengejar viralitas.
Transmisi ilmu di pesantren berjalan melalui jalur sanad keilmuan yang beradab, dari guru ke murid, dari hati ke hati. Kitab-kitab klasik dibaca dengan penuh takzim, disertai doa dan munajat agar ilmu menjadi berkah. Tradisi ini tidak bisa dijelaskan dengan logika algoritma media sosial; ia hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami makna adab dan keberkahan ilmu.
Ketika pesantren diserang oleh narasi nyinyir, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya citra lembaga, melainkan wajah kearifan bangsa. Pesantren adalah miniatur Indonesia, tempat perbedaan hidup dalam harmoni, tempat tradisi bersanding dengan modernitas tanpa saling meniadakan.
Maka, yang kita butuhkan hari ini bukan kemarahan, tetapi refleksi kolektif. Sudahkah kita, sebagai masyarakat digital, belajar membaca dengan utuh sebelum menilai? Sudahkah kita menghormati ruang-ruang keilmuan yang membentuk jati diri bangsa ini?
Bagaimanapun cara pesantren dibingkai, lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini akan tetap dalam jalur istiqamah. Di tengah gempuran zaman dan hiruk-pikuk dunia digital, pesantren akan terus tumbuh, berdiri sejajar dengan gedung-gedung tinggi di kota, sebagai simbol keluhuran Indonesia, negeri yang berakar pada ilmu, adab, dan kearifan. []
























