اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Artinya: “Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)
Interpretasi para mufasir
Imam As-Sa’di mengatakan dalam Kitab Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan bahwa tingkatan zalim yaitu pelaku kezaliman itu sendiri. Mereka orang-orang yang berbuat zalim kepada sesama manusia. Pelaku kezaliman ada dua jenis, yakni orang yang memulai kezaliman dan orang yang membalas kezaliman secara berlebihan. Orang-orang inilah yang berhak mendapatkan siksa teramat pedih dari Allah SWT.
Dalam tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa tuntutan pertanggungjawaban dan sanksi hukuman bagi orang-orang yang memulai berbuat zalim terdahulu kepada orang lain, atau bagi orang-orang yang melanggar prinsip mumaatsalah dan melampaui batas dalam melakukan pembalasan, melakukan kejahatan terhadap jiwa dan harta tanpa hak, berlaku takabur serta arogan dengan menganiaya orang lain dan merampas hak. Orang-orang seperti ini akan mendapatkan siksa yang menyakitkan dan keras karena kejahatan mereka.
Sedangkan dalam tafsir Tahlili ayat ini menerangkan bahwa orang yang berbuat sesuatu karena membela diri dari satu penganiayaan atau suatu kejahatan yang menimpanya, tidak ada jalan untuk menuntutnya dari sisi hukum dan ia tidak berdosa karena dia melakukannya berdasarkan hak. Tetapi orang-orang yang berbuat zalim, berbuat kejahatan di bumi dan melampaui batas dalam memberikan pembalasan, mereka itulah yang dapat dituntut dan akan mendapat azab dan siksa yang pedih di akhirat kelak.
Nilai-nilai pendidikan
Ayat di atas mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan. Di antaranya: Pertama, mendidik kita agar senantiasa berbuat adil dan tidak berbuat zalim. Kedua, agar kita senantiasa beribadah dan taat kepada Allah SWT. Ketiga, mendidik kita agar menjadi hamba yang senantiasa memohon ampunan kepada Allah. Keempat, mendidik kita agar menjauhi perbuatan syirik, maksiat, dan sifat melampaui batas.
Makna zalim
Secara bahasa, zalim (لظُّلْمُ) adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ).
Sedangkan secara istilah, Al Asfahani mengatakan: “Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi waktunya ataupun dari segi tempatnya.” (Mufradat Allafzhil Qur’an Al Asfahani 537, dinukil dari Mausu’ah Akhlaq Durarus Saniyyah).
Kezaliman adalah salah satu dosa yang menyebabkan dihancurkannya bangsa atau peradaban tertentu oleh Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah banyak mengisahkan hancurnya sebuah bangsa karena sebab ulah mereka sendiri yang berbuat zalim. Di antaranya, Allah berfirman:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚاِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ
Artinya: “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 37)
Alllah SWT berfirman:
وَلَقَدْ اَهْلَكْنَا الْقُرُوْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوْاۙ وَجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ وَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا ۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat zalim, padahal para rasul mereka telah datang membawa keterangan-keterangan (yang nyata), tetapi mereka sama sekali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (QS. Yunus: 13)
Karena itulah hindari kezaliman karena Allah tidak akan lengah. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظّٰلِمُوْنَ ەۗ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ
Artinya: “Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)
Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim.
Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.
Jenis-jenis perbuatan zalim
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, kezaliman ada dua jenis. Pertama, kezaliman terhadap hak Allah. Kezaliman terbesar yang terkait dengan hak Allah yaitu kesyirikan. Jadi, kezaliman terbesar itu bukanlah kezaliman dari penguasa, bukan kezaliman dari diktator yang keji, bukan kezaliman dari kaum kapitalis, namun kezaliman terbesar di dunia ini yaitu mempersembahkan ibadah kepada selain Allah atau perbuatan syirik.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang terbesar.” (QS. Luqman: 13).
Kedua, kezaliman terhadap hak hamba. Kezaliman yang terkait hak hamba berporos pada tiga hal: Darah/Jiwa, Harta, Kehormatan.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah kalian haram (tidak boleh ditumpahkan), harta kalian haram (tidak boleh dilanggar), harga diri kalian haram (tidak boleh dijatuhkan) sebagaimana kehormatan hari ini, sebagaimana kehormatan bulan ini, sebagaimana kehormatan kota kalian ini (Mekkah).” (HR. Bukhari, No. 65)
Kezaliman terhadap jiwa seseorang itulah yang dimaksud kezaliman dalam darah, yaitu seseorang berbuat melebihi batas kepada sesama Muslim dengan menumpahkan darahnya, melukainya, atau semisal itu.
Sedangkan kezaliman terhadap harta yaitu seseorang berbuat melebihi batas terhadap sesama Muslim dalam masalah harta, baik berupa keengganan mengeluarkan yang wajib ia keluarkan, atau dengan melakukan hal yang haram dalam masalah harta.
Adapun kezaliman terhadap kehormatan orang lain itu mencakup berbuat melebihi batas terhadap sesama Muslim dengan melakukan zina dan semisalnya. Semua jenis kezaliman ini haram hukumnya. (Syarah Riyadus Shalihin, 2/485).
Perbuatan orang zalim dan akibatnya
Berikut ini beberapa perbuatan yang tergolong zalim. Pertama, orang-orang yang membuat kebohongan. Allah berfirman:
فَمَنِ افْتَرٰ ى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Maka barangsiapa mengada-adakan kebohongan terhadap Allah setelah itu, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 94)
Kedua, orang yang menzalimi dirinya sendiri. Allah SWT berfirman:
مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
“Di antara hamba Kami ada yang menzalimi dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan.” (QS. Fathir: 32)
Imam As-Sa’di mengatakan: “Ada yang menzalimi dirinya, yaitu dengan maksiat” (Taisir Karimirrahman).
Salah satu contoh kezaliman, Rasulullah bersabda:
دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ في هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأكُلُ مِنْ خَشاشِ الأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ
“Seorang wanita masuk neraka akibat seekor kucing yang ia kurung. Dia tidak memberinya makan dan tidak juga melepas kucing tersebut mencari makan hingga kucing tersebut mati.” (HR. Ibnu Majah No. 3452).
Lalu apa akibat dari perbuatan zalim? Pertama, mereka yang berbuat zalim berada dalam kesesatan yang nyata. Allah berfirman:
أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا لَكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Alangkah tajamnya pendengaran mereka dan alangkah terangnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Akan tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS Maryam: 38)
Kedua, perbutan zalim mengundang laknat Allah. Laknat artinya jauh dari Allah. Laknat dari manusia ialah celaan. Setiap yang terkena laknat Allah, maka ia berarti jauh dari rahmat Allah dan berhak mendapatkan siksa, akhirnya binasa (Ibnu Mandzur).
Allah Ta’ala berfirman:
أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18)
Ketiga, mereka yang berbuat zalim akan mendapatkan kegelapan di hari Kiamat. Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
اتَّقَوْا الظُّلْمَ . فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jauhilah kezaliman karena kezaliman merupakan kegelapan di hari kiamat.” (HR. Al Bukhari No. 2447, Muslim No. 2578).
Keempat, kezaliman menjadi penyebab bencana dan petaka. Allah Ta’ala berfirman:
فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ
“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi.” (QS. Al Hajj: 45)
Kelima, mereka yang zalim akan jauh dari hidayah Allah. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)
Keenam, mereka yang zalim akan dijauhkan dari Al Falah. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan mendapatkan al falah” (QS. Al An’am: 21).
Al Falah artinya mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Ketujuh, mereka yang zalim akan terancam oleh doa orang yang dizalimi. Doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari No.1496, Muslim No.19).
Kedelapan, mereka yang zalim akan menjadi orang yang merugi. Allah berfirman:
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
“Dan semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan sungguh merugi orang yang berbuat kezaliman.” (QS Thaha: 111)
اَللَّهُمَ أَصْلِحْ لِي سَمْعِي وَبَصَرِي وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَيْنِ مِنِّي وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي وَأَرِنِي مِنْهُ ثَأْرِي
“Ya Allah, perbaikilah pendengaran saya dan penglihatan saya, dan jadikanlah keduanya mewarisi diri saya dan tolonglah saya terhadap orang yang menganiaya saya, dan perlihatkan pembalasan saya kepadanya.” (HR. Bukhari). []






















