Tokyo, Gontornews — Badan kepolisian Jepang, Kamis (15/9/2022), melaporkan 114 serangan ransomware penyebab kerusakan pada paruh pertama tahun 2022. Serangan ransomware tersebut naik 87 persen berbanding kasus serupa pada tahun sebelumnya.
Beberapa kasus serangan ransomware terlapor, penyerang menuntut sejumlah bayaran sebagai imbalan guna memulihkan akses ke perusahaan yang tidak bisa dipulihkan melalui enkripsi. Secara total ada 59 perusahaan kecil dan menengah yang diserang ransomware dan 36 perusahaan besar. Dari jumlah tersebut, ransomware menyerang 37 perusahaan produsen, 20 perusahaan jasa dan lima rumah sakit.
Akibat serangan ransomware, perusahaan otomotif Toyota Motor Corp terpaksa menangguhkan operasional 14 pabrik domestiknya dalam satu hari. Penangguhan ini terjadi setelah pemasok suku cadang Kojima Industries terkena serangan pada 28 Februari.
Kyodo News menjelaskan bawa motif dari serangan ransomware ini adalah pemerasan. Pelaku penyerangan menuntut uang tebusan untuk menghilangkan enkripsi data yang mereka ambil sambil mengancam akan mengungkap serangan itu secara publik jika tidak membayar. Sejauh ini, kepolisian Jepang berhasil mengungkap 53 dari 81 jenis serangan ransomware tersebut.
Sebuah survei mengungkapkan bahwa perusahaan dan organisasi yang menjadi target serangan ransomware rata-rata menghabiskan dana hingga 10 juta Yen atau lebih untuk mengidentifikasi kerusakan serta memulihkan data.
Setidaknya ada 36 dari 48 serangan yang telah berhasil mencadangkan data mereka. Meski berhasil melakukan pencadangan, perusahaan mengaku masih kesulitan untuk melakukan pemulihan. Pihak kepolisian juga mengingatkan bahwa penyerang bisa menyerang data yang dicadangkan tersebut.
Salam satu ransomware yang paling kuat adalah Emotet. Ransomware ini menyebar melalui email yang berisi file dan tautan. Untuk sementara, otoritas Eropa dan Amerika Serikat berhasil menetralkan serangan ini pada Januari 2021 dalam sebuah operasi yang terkoordinasi. Tetapi, ransomware ini kembali menyebar dan menyebabkan peningkatan kerusakan sekitar Februari dengan iterasi baru yang mampu mencuri informasi kartu kredit yang tersimpan secara online.
Badan tersebut mengatakan jumlah serangan siber dan sejumlah akses mencurigakan yang berhasil tercatat oleh pihak kepolisian mencapai rata-rata 7.800,3 per alamat IP per hari. 70 persen dari total akses mencurigakan tersebut berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Cina dan Rusia.
Selain serangan ransomware, pihak kepolisian Jepang juga berhasil mengambil tindakan terhadap 5.889 kasus kejahatan dunia maya selama enam bulan terakhir. Angka ini naik 492 kasus dari tahun sebelumnya. 233 kasus yang terkonfirmasi melibatkan dugaan pelanggaran undang-undang yang melarang akses komputer yang tidak sah. [Mohamad Deny Irawan]
























