Jakarta, Gontornews—Dalam mengemban amanahnya Ketum MUI, KH Ma’ruf Amin mengatakan ada beberapa tanggungjawab yang kita pikul. Di antaranya adalah tanggung jawab keumatan, karena MUI dan Ormas-Ormas Islam lain merupakan lembaga keummatan.
Menurut Ketum MUI itu, tugas yang pertama yaitu menjaga dan melindungi ummat dari akidah-akidah yang menyimpang. Hal itu dikatakannya karena saat ini banyak berseliweran banyak akidah-akidah yang menyimpang.
Dulu ada Lia Aminuddin yang mengaku wakilnya Jibril. Ada Al Qiyadah Al Islamiyah orang dari Depok yang kemudian mengaku jadi nabi. “Kok orang Depok jadi Nabi. Belakangan dia menjadikan Gafatar, Gerakan Fajar Nusantara tenyata hampir membikin negara sendiri di dalam negara dari Kalimantan,” paparnya dalam sambutan pembukaan Muktamar 19 Al Ittihadiyah di Bogor 28/11/2016 kemarin.
Hal itu kata Kiai Ma’ruf, bermula daripada paham yang menyimpang dan dia mengaku membawa agama baru yang disebut millah Abraham. Namanya, Abdussalam kemudian diganti Ahmad Mushoddiq. Ternyata setelah diselidiki millah Ibrahim itu agama oplosan. “Jadi ngoplos ada Islamnya ada Kristennya, diaduk dioplos jadi agama baru. “Inikan aqidah-aqidah yang menyimpang. ”tandasnya.
Tak hanya itu tapi juga ada kelompok-kelompok yang menurut KH Ma’ruf Amin sangat tekstual ia hanya berpegang pada nash, tidak ada ijtihad. Selain itu ada juga yang cara berpikirnya terlalu longgar atau liberalis sampai-sampai semuanya bisa dirubah-rubah.
Bahkan berani mengatakan nash pun kalau bertentangan dengan kemashlahatan boleh diamandemen.
“Al Qur’an kok diamandemen. Ini kelompok-kelompok. Kita harus melindungi umat daripada cara berpikir yang menyimpang,” tandasnya. (M Khaerul Muttaqien)

















