Yogyakarta, Gontorenws — Komunitas Masyarakat santri (Komas) mengajak masyarakat santri untuk melek politik, sekaligus memberikan pembelajaran kepada masyarakat luas tentang politik keumatan.
Membekali kader Komas, pada 23-24 Februari 2019 lalu Komas menggelar Pelatihan jurnalistik gelombang I di Hotel Sunarko Yogyakarta.
Sekjend Komas Pusat Bahar Harahap mengatakan bahwa Komas bukan relawan untuk memenangkan pasangan Capres tertentu sebagaimana image yang berkembang selama ini. Itu hanya salah satu program jangka pendek. Komas mengajak masyarakat santri untuk melek politik, sekaligus memberikan pembelajaran kepada masyarakat luas tentang politik keumatan.
“Termasuk pelatihan jurnalistik ini sebagai pembekalan kader untuk memberikan pemberitaan yang berimbang. Tidak sekadar kopas (Copy Paste. red) dari sana sini dengan sumber yang tidak jelas,” tegas Bahar dirilis urbanesia.co.id.
Sebagai pemateri pelatihan, Husein Sanusi dalam sambutannya menyitir satu ungkapan menarik. “Lau nuzzilal wahyu ‘ala ghairil anbiya’ lanuzila ala aqlamil kuttab (Sekiranya wahyu diturunkan kepada selain para nabi, maka ia akan diturunkan kepada para penulis. Red)”
“Adagium ini saya ambil dari buku Jurnalistik ala Kiai Gontor, karya KH. Zainuddin Fananie, salah satu Trimurti Pondok Modern Gontor. Buku tua ini diterbitkan ulang salah 84 tahun, dan isinya masih relevan dengan situasi saat ini,” tegasnya.
Husein menjabarkan, dalam buku ini ditekankan kode etik penulis dan jurnalis, seperti menggali informasi dari dua sumber, analisis berimbang, termasuk adab menjadi jurnalis dan penulis.
Acara ini dipungkasi dengan Pembukaan Pelatihan sekaligus doa penutup oleh Ustadz Muhammad Faiq Hafid sebagai Ketua Umum PP Komas.
Dalam sambutannya, ia menegaskan, hendaknya pelatihan ini kita jadikan sebagai langkah nyata untuk menjadikan Komas ini bukan sebagai kumpulan buih.
“Komas harus menjadi garda depan pemberitaan yang lurus sesuai dengan realitas. Melatih para kader untuk mempraktikkan firman Allah swt. dalam Al-Hujurat ayat 6. “ Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah”. [fathurroji]






















