Beirut, Gontornews — Tim penyelamat Lebanon terus melakukan penelusuran terhadap korban yang tertimpa reruntuhan gedung akibat ledakan gudang di Pelabuhan Beirut. Terbaru, tim penyelamat mengonfirmasi penambahan korban tewas menjadi 135 orang, Kamis (6/8).
Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab, mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari mulai Kamis. PM Hassan juga menginstruksikan pihak terkait untuk mulai melakukan penyelidikan terhadap insiden yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari 5000 orang.
Musibah tersebut, kabarnya, juga menyebabkan semperempat juta warga Beirut kehilangan tempat tinggal. Ledakan dahsyat yang terjadi pukul 6 sore waktu setempat itu menghancurkan sejumlah bangunan hingga memecahkan kaca jendela rumah dalam radius yang luas. Bangunan-bangunan di sekitar Siprus, Kepulauan Mediterania yang berjarak 160 kilometer, dikabarkan terguncang akibat ledakan tersebut.
“Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan ketakutan yang melanda Beirut tadi malam. Insiden itu mengubah (Beirut) bak kota yang sedang dilanda bencana,” kata Presiden Lebanon, Michel Aoun, kepada Reuters.
Investigasi awal yang dilakukan menemukan bahwa penyebab ledakan tersebut adalah kelamabanan dan kelalaian. Rapat kabinet pun menginstruksikkan pihak kepolisian untuk menahan pejabat pelabuhan yang terkait dengan gudang penyimpanan di pelabuhan Beirut.
Sejauh ini, Lebanon menerima dukungan internasional akibat insiden tersebut. Negara-negara Teluk misalnya mengirim pesawat yang berisi peralatan medis dan pasokan lainnya. Turki mengirimkan 20 dokter untuk membantu warga yang terluka serta mengirimkan bantuan medis. Sementara Irak menjanjikan bantuan bahan bakar. Iran, sekutu utama Lebanon, menawarkan makanan dan Rumah Sakit Lapangan
“Kami bersimpati kepada warga Lebanon dan berada di samping mereka dalam tragedi menyedihkan yang terjadi di pelabuhan Beirut. Kesabaran dalam menghadapi insiden ini menjadi daun emas kehormatan bagi Lebanon,” kata Pemimpin Iran Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Solidaritas dari negara Barat juga tercurah untuk Lebanon. Amerika Serikat dan Inggris menawarkan bantuan. Sementara Jerman, Belanda dan Siprus menawarkan tim pencarian dan penyelamat khusus. [Mohamad Deny Irawan]



















