Pyongyang, Gontornews — Korea Utara mengatakan pada hari Rabu (9/8), pihaknya “dengan hati-hati memeriksa sebuah rencana” untuk menyerang Guam, Amerika Serikat, dengan rudal.
Pernyataan ini hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ancaman terhadap Amerika Serikat akan disambut dengan “senjata dan kemarahan” .
Seorang jurubicara Tentara Rakyat Korea, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor berita Korea Utara, KCNA, mengatakan bahwa rencana serangan itu akan “dilakukan secara gencar dan berturut-turut setiap saat” begitu pemimpin Kim Jong-un membuat sebuah keputusan.
Dalam sebuah pernyataan lain, mengutip jurubicara militer yang berbeda, Korea Utara juga mengatakan bahwa mereka dapat melakukan operasi pre-emptive jika AS menunjukkan tanda-tanda provokasi.
Trump mengancam Korea Utara “dengan api dan kemarahan yang dunia belum pernah melihatnya” pada hari Selasa setelah laporan mengatakan bahwa negara komunis itu telah menguasai salah satu rintangan terakhir untuk dapat menyerang AS dengan sebuah rudal nuklir.
Kemajuan nuklir Korut disampaikan secara resmi oleh Jepang dan sebuah berita Washington Post yang mengutip pejabat intelijen AS dan sebuah laporan rahasia Badan Intelijen Rahasia.
AS sekarang menempatkan persenjataan Korea Utara di atas 60 senjata nuklir, lebih dari dua kali penilaian paling banyak oleh para ahli independen, menurut laporan Post.
“Korut sebaiknya tidak melakukan ancaman lebih banyak lagi ke Amerika Serikat,” kata Trump yang duduk bersama istrinya saat berada di lapangan golfnya di Bedminster, New Jersey. “Mereka akan disambut dengan api dan kemarahan seperti dunia belum pernah melihatnya.” [Rusdiono Mukri]





















