Yogyakarta, Gontornews — Memahami peta jalan politik Palestina perlu ditarik ke akar sejarah kolonialisme dan dimensi teologis. Penegasan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr H Robby Habiba Abror MHum, saat hadir sebagai narasumber dalam Podcast Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Jumat (21/11/2025).
Dalam diskusi bertajuk “Suara Perlawanan: Palestina dalam Kacamata Politik”, Prof Robby Abror mengurai benang kusut sejarah Zionisme, kegagalan lembaga internasional, hingga kritik tajam berbasis nubuatan Nabi SAW terhadap pasivisme negara-negara tetangga Palestina.
Di hadapan kader IMM Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), Prof Robby meluruskan miskonsepsi bahwa Israel berdiri semata-mata sebagai respons darurat pasca-Perang Dunia II. Ia memaparkan data bahwa proyek negara Yahudi telah dirancang sistematis sejak akhir abad ke-19.
“Gerakan Zionisme telah diletakkan dasarnya oleh Theodor Herzl sejak 1897, jauh sebelum rezim Hitler berkuasa di Jerman. Gelombang migrasi ke wilayah Utsmaniyah kala itu sudah dilakukan secara masif dengan target penguasaan lahan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti Deklarasi Balfour 1917 sebagai bukti dukungan politik Barat yang muncul dua dekade sebelum Holocaust. Menurutnya, dokumen tersebut menegaskan bahwa penguasaan Palestina merupakan proyek jangka panjang kolonialisme Inggris yang menjanjikan sebuah negara bagi entitas Yahudi.
Diskusi semakin tajam ketika Prof Robby menyoroti mandulnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).
“Genosida di Gaza bukti matinya nurani global. PBB lumpuh, sementara OKI kehilangan taring untuk sekadar memberikan peringatan efektif. Situasi diperburuk oleh Amerika Serikat dan sekutunya yang membiarkan pembantaian di bawah payung veto politik,” tegasnya.
Poin paling reflektif muncul saat Prof Robby mengaitkan realitas geopolitik hari ini dengan hadits sahih riwayat Bukhari mengenai “Nejd” (Arab Saudi). Ia mengutip doa Nabi Muhammad SAW untuk keberkahan negeri Syam (termasuk Palestina) dan Yaman. Namun, ketika sahabat meminta doa serupa untuk wilayah Nejd, Nabi justru menolak dan memberi peringatan.
“Di sana (Nejd) akan terjadi gempa dan fitnah, dan di sana pula akan muncul tanduk setan (qarn al-syaithan),” demikian kutipan hadis yang disampaikan Prof Robby.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَفِي نَجْدِنَا؟ … فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالفِتَنُ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ»
Dari Ibnu Umar r.a. berkata, Nabi SAW berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan negeri Nejd (Arab Saudi) kami?” … Maka beliau bersabda (pada kali yang ketiga): “Di sana (Nejd) akan terjadi guncangan dan fitnah, dan di sana pula akan muncul tanduk setan.” (HR. Al-Bukhari No. 1037 & 7094, Ahmad, dan At-Tirmidzi).
Ia menafsirkan teks tersebut tidak hanya sebagai deskripsi geografis, melainkan peringatan simbolik yang sangat relevan. “Secara kontekstual, ini adalah kritik terhadap sikap politik negara-negara di kawasan Arab tersebut—khususnya yang berbatasan langsung—yang cenderung diam melihat saudara seimannya dibantai. Pasifisme ini seolah membenarkan nubuatan tentang adanya fitnah dari pusat kawasan itu,” jelasnya.
Menutup paparannya, Guru Besar Ilmu Religi dan Budaya UIN Sunan Kalijaga ini menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah persatuan politik dan ekonomi umat Islam, merujuk pada Q.S. Ali Imran ayat 103.
“Tanpa persatuan yang konkret, kita hanya akan terus menjadi penonton dari tragedi paling memilukan abad ini,” pungkas Prof Robby kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]






















