Teheran, Gontornews — Kantor berita Iran, IRNA, Sabtu (31/12/2022), melaporkan bahwa pemerintah terpaksa menutup seluruh kegiatan pembelajaran di sebagian besar provinsi di Iran. Keputusan ini muncul seiring semakin memburuknya kualitas udara di Ibukota Iran, Teheran, dan kota-kota di sekitarnya. Pemerintah menginstruksikan pihak sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran secara virtual.
Komite Darurat Polusi Udara Iran yang bertemu di Teheran pada Jumat memutuskan untuk menangguhkan pembelajaran tatap muka di sekolah karena tingginya tingkat populasi udara di Ibu Kota, Alborz, Qazvin dan Chaharmahal dan Bakhtiari.
Anadolu menginformasikan bahwa masa pembelajaran di Iran bermula pada hari Sabtu dan berakhir pada hari Rabu, dengan Kamis dan Jum’at merupakan hari libur.
Dalam beberapa tahun terakhir, Teheran muncul sebagai salah satu kota paling tercemar di dunia dengan kualitas udara yang buruk. Akibatnya, pemerintah berulang kali memutuskan untuk menutup kegiatan pendidikan dan bisnis di sekitar Ibukota.
Sepanjang tahun 2022, kualitas udara di Ibukota Teheran menurun pada level yang mengkhawatirkan selama musim panas. Masalah ini semakin parah seiring dengan masuknya musim dingin di Iran.
Bulan Juli lalu, kualitas udara yang buruk telah membuat pemerintah menutup semua lembaga pendidikan dan kantor pemerintah di Teheran dan kota-kota lain karena indeks kualitas udara dianggap tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Data Kementerian Kesehatan Iran, bulan lalu, mencatat, sepanjang Maret 2021-Maret 2022, jumlah kematian karena paparan jangka panjang terhadap partikel beracun, PM2.5, melonjak lebih dari 87% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Temuan ini diambil dari 27 kota, termasuk Teheran, Ahvaz, Masyhad, Tabriz, Shiraz, Isfahan dan Hamedan dengan total populasi 35 juta di kota-kota tersebut. Penurunan kualitas udara yang mengkhawatirkan pada tahun 2022 telah disertai dengan badai pasir, yang sebagian besar berasal dari Irak dan Suriah. [Mohamad Deny Irawan]






















