Palu, Gontornews — Lembaga Amil Zakat Nasional Nurul Hayat (Laznas NH) Surabaya menyantuni keluarga Darwis yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sebelum adzan selesai berkumandang, saat gempa mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (28/8).
Sebagaimana disampaikan relawan Laznas NH di Palu, Ahmad Muhajir, Pak Darwis, sapaan akrabnya, diketahui merupakan seorang muadzin di Masjid Al-Istiqomah Desa Lende Tovea Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala. Marni, istri Pak Darwis, berujar bahwa suaminya buru-buru untuk mengumandangkan adzan kala itu alih-alih memprediksi gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter tersebut.
“Bapak buru-buru, nanti kau menyusul saja ke masjid kita shalat berjamaah di sana,” ujar Marni menirukan pesan suaminya.
Marni menuturkan, sore itu Darwis menjalani aktivitasnya seperti biasa. Bapak empat anak ini pulang dari kebun kelapa tempat ia sehari-hari mencari nafkah keluarganya.
Tak ada gelagat dan firasat apapun. Sepulang berkebun, Darwis buru-buru masuk rumah, mandi sore, ganti pakaian lalu bergegas pergi ke masjid untuk mengumandangkan adzan Maghrib.
Karena buru-buru ke masjid, laki-laki yang sehari-hari menjadi tukang panjat pohon kelapa ini tak sempat menunggu anaknya yang mau ikut ke masjid.
Namun rupanya, itulah pesan terakhir dari suami tercintanya. Sore itu, bersamaan Darwis mengumandangkan adzan Maghrib, gempa dan tsunami mengguncang Kota Palu, Donggala dan Sigi.
“Gempa itu terjadi saat kumandang adzan Maghrib, saat itu Pak Darwis sedang mengumandangkan adzan,” ujar Zawil, jamaah masjid.
Seketika itu jamaah berhamburan keluar masjid. Di antaranya ada Rahmat yang juga kepala desa setempat dan seorang imam masjid dan beberapa jamaah termasuk anaknya yang menyusul ke masjid.
“Namun Darwis tetap mengumandangkan adzan hingga bacaan “Hayya ‘Alal Falah, benar-benar khusyu beliau sampai ajal menjemputnya,” tambah Zawil.
Setelah goncangan gempa berkekuatan 7.7 SR itu reda, warga langsung menolongnya. Seorang imam masjid masih selamat meskipun terhimpit bangunan masjid. Sementara Darwis sudah wafat di tengah reruntuhan bangunan masjid empat menara yang semuanya hancur itu.
Rupanya petang itu Darwis tidak mengajak dan menyeru siapa-siapa. Yang ia seru adalah ruhnya sendiri, merindukan perjumpaan dengan Rabbnya.
Darwis meninggalkan istri dan tiga anak yang masih dirawatnya. Sementara 1 anaknya sudah menikah. Laznas Nurul Hayat Surabaya yang menerjunkan Tim SIGAB memberikan santunan dan kebutuhan pokok lainnya untuk keluarga Darwis, serta membantu mushala darurat, genset, pompa air bersih, sarana wudhu dan MCK.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa Pak Darwis dan menerima amal kebaikannya,” pesan relawan Laznas NH, Ahmad Muhajir. [Mohamad Deny Irawan]



















