Jakarta, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut pandemi Covid-19 telah menyebabkan kontraksi ekonomi rumah tangga. LIPI juga mencatat bahwa ekonomi rumah tangga usaha (RTU) lebih rentan mengalami kontraksi ekonomi ketimbang rumah tangga pekerja (RTP).
Sebelumnya, Pemerintah mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi hingga minus 5,32 persen. LIPI menyebut melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat pandemi itu berdampak langsung terhadap konsumsi rumah tangga.
βKonsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian melambat secara signifikan. Pada akhirnya, kondisi ini mempengaruhi kinerja industri dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),β kata Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho.
βSecara umum, rumah tangga di Indonesia yang terdampak (pandemi) terjadi di dua sisi: kontraksi pendapatan dan keterbatasan ruang konsumsi,β imbuhnya sebagaimana dilansir Lipi.go.id.
Agus menambahkan ekonomi rumah tangga merupakan pelaku ekonomi terkecil sekaligus terpenting. Karena semua kegiatan ekonomi, sambung Agus, berangkat dari rumah tangga.
Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK), pengurangan gaji serta penurunan laba usaha sebagai penyebab kontraksi ekonomi. Sedangkan keterbatasan ruang konsumsi terjadi karena terjadi pembatasan mobilitas masyarakat atau PSBB.
Dalam survei yang dilakukan Pusat Penelitian Ekonomi itu, LIPI berhasil menjaring 1.548 rumah tangga yang tersebar di 32 provinsi. Responden survei berstatus Rumah Tangga Pekerja (79,7 Persen) dan Rumah Tangga Usaha (20,3 Persen). Hasilnya, RTP dianggap LIPI lebih tangguh ketimbang RTU.
βBaik Rumah Tangga Usaha maupun Rumah Tangga Pekerja memanfaatkan keberadaan tabungan, aset dan atau pinjaman kerabat.”
βSementara Rumah Tangga Usaha mengalami kesulitan dalam membayar tagihan dan cicilan rumah tangga,β jelas Agus dalam survei online yang dilakukan dalam rentang 10-31 Juli 2020.
Meski mengalami kontraksi, LIPI optimis dalam rentang enam bulan ke depan, baik RTU maupun RTP, dapat kembali bekerja dan berusaha sekalipun belum berani untuk meningkatkan konsumsi.
βSejauh ini, tercatatΒ 19,4 persen rumah tangga telah melaporkan pernah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah,β pungkas Agus. [Mohamad Deny Irawan]























