Jakarta, Gontornews — Kecintaannya terhadap kegiatan Pramuka membawanya ikut ke berbagai jambore, baik tingkat lokal maupun nasional. Bahkan ia pernah menjadi peserta jambore dunia yang digelar di Thailand tahun 2002. Mental keberanian selama menjadi Pramuka, juga ia tunjukkan ketika diancam oleh tantara GAM. Bagaimana kisahnya?
Muhammad Nur Kholik Almansyuri, pria kelahiran Bandung ini mengenyam pendidikan di Pondok Modern Gontor tahun 1996. Ia jalani pendidikan di Gontor dengan lancar. Bahkan sejak kelas 5, ia sudah mendapatkan amanah sebagai koordinator Pramuka gugus depan 15089.
“Kurang lebih selama enam tahun, saya aktif di organisasi kepramukaan,” ungkap lelaki yang akrab dipanggil Kholik saat ditemui Majalah Gontor beberapa waktu lalu.
Berbagai kegiatan jambore ia pernah ikuti, mulai dari Malang, Baturaden, hingga ke Thailand. Bahkan ia pernah bertugas di Lanud Iswahyudi Madiun selama sepuluh hari bersama TNI Angkatan Udara. “Saya ikut pelatihan yang diadakan TNI AU, praktik bersama tentara,” ujarnya.
Lulus dari Pondok Gontor, ia melanjutkan ke perguruan tinggi yang saat itu masih bernama ISID, bahkan ia didapuk menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ISID Gontor tahun 2004. “Alhamdulillah banyak pengalaman yang saya dapatkan di Gontor, utamanya pembentukan mental,” paparnya.
Tahun 2005, Kholik menjalankan perinta dari pimpinan Pondok untuk terbang ke Aceh menjadi tim pembangunan Pondok Gontor Cabang ke-10 di Aceh. Selama enam bulan, ia bersama tim harus menyelesaikan pembangunan fisik pondok, meski perjuangannya bertaruh nyawa.
Menurut Kholik, lokasi pondok Gontor di Aceh ini merupakan zona hitam, karena lokasinya berada di perlintasan tentara GAM, yaitu antara Lembah Serawah dan Bukit Barisan. “Kalau malam terdengar suara tembakan sudah biasa di sini,” kenangnya.
Di tengah situasi konflik antara tentara GAM dan petugas keamanan, Kholik tetap memberanikan diri untuk tinggal sendirian di lokasi pembangunan pondok. “Banyak cerita di Aceh, saya dimintai pajak Nangroe oleh anggota GAM,” jelasnya.
Sebelumnya, ia harus mengoordinir 60 pekerja bangunan pondok. Namun karena konflik terjadi, ia tetap tinggal di lokasi. “Tidak ada yang berani menginap, saya sendiri. Ancamannya diculik,” ujarnya.
Suatu hari, Kholik yang saat itu sendirian didatangi lima anggota GAM dengan senjata lengkap. Mereka menanyakan pajak Nangroe sebesar Rp 120 juta kepada Kholik. ”Saat itu saya hanya pegang duit Rp 2 juta, jika minta lebih dari itu tidak ada. Saya bilang tidak ada duit, karena duitnya langsung dari pusat,” ungkapnya.
Upaya anggota GAM yang memaksa pajak Nangroe akhirnya kandas, setelah pada 15 Agustus 2005 terjadi genjatan senjata dalam Perjanjian Helsinki di Masjid Baiturrahman. Setelah perjanjian itu, Kholik menyebut tak ada lagi anggota GAM yang menanyakan soal pajak Nangroe lagi.
Kholik mengatakan, kalau dirinya tidak menceritakan kejadian tersebut ke pihak pondok. Bahkan ia telah berwasiat ke beberapa kenalan di Aceh, kalau tentara GAM menembaknya, ia ikhlas. “Saya rela mati oleh GAM jika mereka harus berurusan dengan pondok. Bahkan saya berwasiat kalau saya mati jangan di kirim ke Bandung tapi makamkan saya di Aceh,” kenangnya.
Setelah di Aceh selama enam bulan, ia ditarik ke Gontor. Setelah dua bulan, ia ditugaskan ke Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta selama lima bulan. Saat itu, ia sedang mengurus calling visa ke Pakistan untuk melanjutkan belajar.
Setelah di Pakistan selama 3 tahun, ia pulang ke Bandung. Ia bekerja di toko besi dan material milik ayahnya. Namun setelah berjalan 8 bulan, ia terpaksa keluar karena alasan banyak duduk dan kurang menantang. ”Saya merasa kurang tertantang, akhirnya saya keluar dari pekerjaan,” jelasnya.
Selanjutnya tahun 2009 ia bergabung menjadi tenaga pendidik di Pesantren al-Bayariyah, pesantren alumni Gontor di Bandung. “Saat awal di pesantren ini, saya juga merintis usaha konveksi. Waktu itu banyak garap pengadaan kaos, baik saat di pondok saya banyak mengurusi pengadaan kaos, maupun saat di Aceh,” ujarnya.
Sembari ia menjadi guru di pesantren, ia juga berguru ilmu usaha konveksi ke beberapa orang di Bandung. “Saya magang, saya bilang ke beliau gak dibayar gak apa apa. Selama enam bulan. Dan mengajak saya ke tempat belanja barang, dikenalkan partnernya,” tuturnya.
Kholik mengakui, kalau pesanan dagangannya kebanyakan dari Aceh. Dari tempat di mana ia pernah menjadi tim sepakbola di Aceh. Bahkan klubnya sering menjuarai piala lokal. Karena kepiawaiannya dalam sepak bola, ia pernah menjadi top score.
Pasar di Aceh terus ia kembangkan meski ia tak lagi di Aceh. Ia juga kembangkan pasarnya ke wilayah Kalimantan, Bali, Lombok, NTT dan kota-kota lainnya. Akhirnya link usaha konveksinya kian berkembang. “Awal-awal saya usaha sendiri, sablon sendiri, potong sendiri, lumayan menyita waktu,” ujarnya.
Sejalan dengan banyak pesanan, ia juga join kerjasama dengan tukang potong. Hingga akhirnya ia membuka sendiri di rumahnya. Sekarang karyawan sudah mencapai 15 orang, dengan dibantu 30 mesin pendukung.
“Saat saya mulai dari rumah, modal tidak ada. Usaha ini saya jalani tanpa modal, sudah saya buktikan. Karena usaha ini berjalan dari DP 50 persen para pelanggan,” paparnya.
Kholik merasa bersyukur, dengan kondisi perusahaan yang terus tumbuh dan berkembang, di masa pandemi pun ia tetap bisa bertahan dan stabil. Tak ada karyawan yang dirumahkan. Kholik meyakini, semua itu berkah dari silaturahmi.
“Dengan modal silaturahmi, saya mendapatkan jaringan kerja dari para alumni dan nonalumni. Konsumen saya rata-rata sudah saya temui langsung untuk menjalin hubungan silaturahmi,” tutur Ketua IKPM Bandung Raya ini.
Kholik Bersama keluarga besarnya berobsesi mewujudkan lembaga pendidikan Islam di tempat tinggalnya. Istrinya yang juga Kepala Sekolah, dan lahan yang sudah siap, serta sumber daya manusia yang memadai. “In syaa Allah segera akan kami rintis yayasan untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam,” harapnya. [Fathur]




















