Rabat, Gontornews — Pusat Sinematografi Maroko (The Centre Cinématographique Marocain/CCM) melarang penayangan dan mengomersialkan Film “The Lady of Heaven” di Maroko. Penyebabnya, film tersebut diduga telah melakukan pemalsuan secara terang-terangan atas fakta-fakta yang ada dalam sejarah Islam.
Jaringan Bioskop Inggris, Cineworld, telah membatalkan pemutaran film yang menuai protes atas penggambaran putri Nabi Muhammad, Sayyidah Fatimah. CCM telah mengeluarkan sikap bahwa mereka tidak akan menayangkan film itu di bioskop-bioskop secara nasional.
Sebelumnya, Dewan Tertinggi Ulama Maroko mengecam keras film tersebut. Ulama Maroko mengecam penulis skenario, Syeikh Yasser Al-Habib, adalah seorang Syiah yang kewarganegaraan Kuwait-nya dilucuti akibat ide-ide ekstremnya.
Terlebih, film ini juga memunculkan penggambaran Sayyidah Fatimah dalam perspektif Syiah yang berpotensi memicu kemarahan dan kekhawatiran kalangan Sunni di seluruh dunia.
Sky News melaporkan bahwa film ini menggambarkan inkarnasi Nabi, sebuah bentuk tindakan keji dan tidak dapat diterima oleh umat Islam. Pasalnya, mayoritas Muslim menganggap penggambaran Nabi mereka merupakan tindakan ofensif yang mendorong upaya-upaya kontroversial. Karena itu, banyak pembuat film berusaha keras untuk menghindari penggambaran Nabi (orang suci) oleh seorang aktor.
“Telah ada upaya oleh komunitas masyarakat yang mencoba menekan Bioskop Inggris untuk menghapus film The Lady of Heaven,” bunyi petisi dukungan terhadap penayangan film tersebut, sebagaimana dilansir Morocco World News.
Tercatat, hanya 4,434 orang yang menandatangani dan mendukung petisi tersebut. Sementara petisi yang berisi penolakan penayangan film tersebut telah mencapai lebih dari 131.425 tanda tangan.
Editor berita Muslim Inggris 5Pillars, Roshan M Salih, memperingatkan bahwa penayangan film tersebut dapat memicu kegemparan di kalangan masyarakat. “Biar saya sederhanakan, Lady of Heaven harus dilarang karena dapat menyebabkan kekerasan komunal,” katanya dalam akun Twitter.
“Muslim sangat mencintai Nabi dan Sahabat sehingga provokasi seperti ini dapat menyebabkan reaksi kriminal dari beberapa individu,” sambung Roshan kepada Sky News
Selain Maroko, negara-negara seperti Mesir, Pakistan, Iran dan Irak juga mengutuk film tersebut. Dari Inggris, banyak demonstrasi penolakan film ini yang terjadi di luar bioskop di sejumlah wilayah seperti Bradford, Leeds, Sheffield, Bolton, Blackburn, Birmingham dan London Timur. [Mohamad Deny Irawan]






















