Shubuh merupakan sepotong ayat Allah yang ditulis dengan cahaya fajar shadiq. Ia membuka lembaran hari sebagaimana rahmat membuka hati yang bersyukur. Ditandai gema surat Al-Mulk dan Tarhim dari menara legenda masjid. Dalam cahaya pagi itu, fajar mulai temaram menyingsing — kita diingatkan: masa lalu merupakan cerita, masa depan merupakan harapan —dan di antaranya, ada perjalanan ruh menuju Cinta yang Maha-Abadi.
Masa lalu ibarat dua kaca spion di sisi kiri dan kanan kehidupan. Ia kecil—seukuran telapak tangan orang dewasa—cukup untuk melihat sekilas ke belakang. Di dalamnya terpantul serpihan waktu: luka yang dalam yang mengajariku sabar, tawa ceria yang menumbuhkan syukur, dan jatuh yang menumbuhkan keimanan akan Tuhan. Ia bukan untuk ditangisi terus-menerus, bukan pula untuk dilupakan begitu saja. Ia ada agar kita sadar: bahwa rahmat Allah senantiasa menyertai, bahkan dalam gelap sekalipun. Agar kita lebih waspada dan hati-hati bila akan belok ke kanan atau ke kiri.
Sedangkan masa yang akan datang merupakan kaca depan yang luas —sebesar pintu takdir “mu’allaq” yang belum terbuka dan penuh misteri. Di sanalah cahaya harapan menari, mengajak jiwa menjemput janji-janji Ilahi. Masa depan merupakan tempat di mana cita-cita bersemi, gita hati dinyanyikan dalam langkah-langkah harmoni nada-nada musik kehidupan yang penuh keikhlasan, dan cinta yang dipersembahkan hanya kepada-Nya, Sang Pemilik Waktu.
Kita hidup di antara dua waktu: dzikrul madzi (mengingat masa lalu) dan ru’yatul mustaqbal (memandang masa depan). Keduanya bukan untuk saling bersaing, tetapi saling melengkapi. Masa lalu kita rangkum sebagai hikmah, masa depan kita peluk sebagai amanah.
Masa kini merupakan realita dan fakta yang kita jalani dengan tapak kaki yang hakiki.
Sebab sejatinya, hidup ini bukan sekadar berjalan di atas waktu—tetapi menapaki jalan kembali menuju gerbang transisi kepada-Nya yaitu “mati”. Cita-cita sejati bukan dunia yang megah, melainkan ridha-Nya. Gita kehidupan bukan sekadar nyanyian harmoni musik bahagia di alam fana, melainkan dzikir dalam setiap langkah. Dan cinta, bukan hanya rasa yang memabukkan jiwa, tetapi jalan suci menuju gita, cita dan cinta “transendental” (pinjam bahasanya Cak Nur) cinta Ilahiyah yang menyatukan ruh dengan Yang Maha-Cinta. []
DA. 762025




















