Mosul, Gontornews — Pasukan Irak diperkirakan akan menghadapi perlawanan sengit dari ISIS di fase pertempuran Mosul berikutnya, termasuk jebakan yang dapat meledakkan seluruh lingkungan sekitar, kata pejabat tinggi keamanan Kurdi pada hari Ahad (6/11).
Masrour Barzani, kepala Dewan Keamanan Pemerintah Regional Kurdistan (KRG), mengatakan tidak mudah berperang melawan ISIS. Bahkan andaikata ISIS bisa diusir dari Mosul, namun tidak gampang menghilangkan pengaruh kelompok itu. Ideologi radikal akan terus ada.
“Perang melawan ISIS akan menjadi pertarungan panjang,” kata Barzani kepada Reuters. “Tidak hanya secara militer tapi juga ekonomi dan ideologi.”
Dia mengatakan hal itu ketika pasukan khusus Irak bekerja di hari Ahad untuk membersihkan lingkungan di pinggiran Mosul timur pascaledakan bom yang menewaskan sedikitnya 20 orang.
“Ada banyak warga sipil dan kami mencoba untuk melindungi mereka,” kata Letnan Kolonel Muhanad Al-Timimi.
“Ini adalah salah satu pertempuran paling sulit yang kita hadapi sampai sekarang.”
Barzani juga mengatakan bahwa pasukan Irak telah membuat kemajuan cepat βmembersihkan terorisβ dari Mosul timur setelah unit Peshmerga Kurdi menerobos garis pertama pertahanan.
“Mereka mungkin harus berjuang lebih keras lagi,” kata Barzani (47), putra pemimpin veteran Kurdi dan Presiden KRG Masoud Barzani.
Sejauh ini dalam operasi yang telah berlangsung tiga minggu, ISIS telah mengerahkan drone yang diikat dengan bahan peledak, artileri jarak jauh yang diisi dengan gas klorin dan mustard dan penembak- penembak jitu, kata Barzani. Pasukan Kurdi telah menghancurkan lebih dari 50 bom mobil.
Dan ia mengingatkan, Mosul barat akan menjadi ajang pertempuran yang lebih kompleks, dengan sejumlah besar jalan-jalan sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan militer besar dan musuh yang akan bertempur sampai mati untuk mempertahankan ibukota ISIS itu.
“Ada banyak bom rakitan yang mereka sebar di berbagai tempat, dan bisa meledak sewaktu-waktu dengan ledakan yang sangat dahsyat,” kata Barzani.
Perang Β Mosul adalah pertempuran darat paling penting di Irak sejak koalisi pimpinan AS menggulingkan Saddam Hussein pada tahun 2003. [Rusdiono Mukri]






















