New Delhi, Gontornews — Pemerintah India berencana membuka kembali sekolah-sekolah di New Delhi pascapaparan polusi udara di tingkat bahaya dalam dua hari terakhir. Meski demikian, sejumlah orang tua khawatir, putra-putri mereka akan terpapar polusi udara saat masuk sekolah Senin mendatang.
Indeks kualitas udara India, terpantau dari moitor polusi udara SAFAR milik, berada di angka 540 atau berada dalam kondisi parah. Meski demikian, SAFAR menetapkan bahwa kualitas udara pada hari Senin mendatang masih berada dalam kategori sangat buruk serta berpotensi sebabkan sesak napas.
Warga New Delhi, Shamin Qureshi, misalnya mengatakan bahwa ia tidak akan membawa putrinya, Akshara, masuk kelas Senin mendatang. “Kami tidak mempunyai pilihan selain mengirimnya kembali ke sekolah dengan menggunakan inhaler dan sejumlah obat-obatan yang dibutuhkan,” kata Qureshi sebagaimana dilansir Reuters.
Qureshi menambahkan bahwa paparan udara buruk yang terhirup anaknya membuat ia mengeluarkan hampir 50 dolar Amerika Serikat atau sekitar 700 ribu rupiah dari gaji bulananya untuk membawa putrinya periksa di rumah sakit.
“Obat-obatan yang diberikan seperti nebuliser atau inhaler sangat mahal. Tentunya, hal ini membebani orang tua dan keluarga,” ungkap Dokter pediatri di Rumah sakit Sir Ganga Ram yang merawat Akshara, putri Qureshi, Dhiren Gupta.
Sejumlah aktivis lingkungan pun mengkritik pemerintah yang dinilai tidak mampu menyelesaikan krisis kesehatan masyarakat. Pun dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang memilih tidak banyak bicara dalam menanggapi masalah polusi udara di New Delhi.
“Tidak diragukan lagi, ini adalah kegagalan kolektif yang dilakukan oleh pemerintah,” pungkas Juru bicara Partai Swaraj India, Anupam. [Mohamad Deny Irawan]






















