Pikiran, keinginan, dan kehendak untuk bersatu, bersaudara, dan bekerjasama dengan orang dan golongan lain, sudah menjadi tabiat manusia. Buktinya, kenyataan hidup bahwa urusan, mulai dari yang kecil sampai yang besar, tak akan dapat dilaksanakan, kecuali dengan persatuan, persaudaraan, pemusatan tenaga, dan bekerjasama antarbeberapa bangsa.
Keperluan setiap bangsa, tak dapat diselesaikan dengan sempurna tanpa kerjasama dan saling menolong, baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial, langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, rencana dan usaha pemusatan tenaga, persaudaraan, dan kerjasama sebangsa, khususnya seagama, bukanlah suatu teori filsafat, bukan pula angan-angan belaka. Tapi suatu kenyataan yang telah ada, senantiasa hidup, dan disuburkan oleh tabiat manusia sendiri.
Meski demikian, benih-benih perpecahan masih tetap ada. Karena manusia tidak melulu menuruti keputusan akalnya, dan di dalam jiwanya pasti ada tabiat takut, cemburu, ragu, mementingkan diri sendiri, dan beberapa hawa nafsu yang amat mudah menyebabkan perselisihan dan perpecahan. Dalam jiwa seperti itu, sangat sering perbedaan pendirian menjadi alat perpecahan. Keutuhan persaudaraan manusia sebangsa pun tak jarang terancam.
Ahli pendidikan sering mengatakan, bahwa dengan pendidikan, manusia dapat berbuat baik karena tabiat baiknya, dan suka berbuat jahat karena tabiat jahatnya. Maka, ketika manusia memakai perasaan agamanya, ia akan tetap membutuhkan perasaan itu.
Sebab, kembali kepada agama, akan lebih dekat dan lebih mudah daripada kembali kepada selain agama yang mudah menimbulkan perpecahan, bahkan peperangan. Perasaan keagamaanlah yang dapat mengatasi beda kebanggaan warna kulit, kekayaan, dan keturunan. Juga dapat menyembuhkan penyakit perpecahan yang kadang disebabkan oleh perbedaan suku bangsa.
Perasaan keagamaan, dapat mengalahkan rasa dendam, dengki, dan sifat terlalu mementingkan diri sendiri. Dengan perasaan keagamaan, jiwa manusia akan menjadi mulia, tertarik untuk mengetahui hakikat hidup, dan tak suka membodoh atau keras kepala. Selanjutnya, ia akan kuat untuk menerima persaudaraan dan persatuan.
Untuk lebih menguatkan persahabatan, hendaknya kita ingat bahwa kita senantiasa berhadapan dengan “kepalsuan” atas nama “peradaban”, “ketertiban”, dan “kemerdekaan”. Kepalsuan itu suka menutupi nafsu buas yang selalu ingin melanggar perikemanusiaan dan merusak kehalusan perasaan.
Para ahli agama sering lengah atau khilaf dalam hal ini. Namun, Allah SWT tak akan membiarkan kebiasaan buruk ini berlarut-larut, khususnya bagi bangsa Indonesia. Buktinya, semangat keagamaan dan para ahli agama di negeri ini masih ada. Harapan akan tercapainya segala maksud suci tentu akan masih dapat dicapai. Berkat persatuan, musuh Islam tak akan dapat meretakkan dan memecah belah bangsa kita.
Islam mengajak pikiran manusia untuk berpikir tentang makhluk Allah, meninggikan derajat ilmu pengetahuan dan para ahlinya, serta menganjurkan berbuat baik, berbelas kasih, menghibur yang lemah, dan menolong yang miskin, bahkan menyayangi binatang. Seperti dengan mewajibkan orang yang kaya untuk menyisihkan hartanya bagi fakir miskin. Semua ini menjelaskan adanya harapan yang sangat baik pada masa mendatang. []






















