Jakarta, Gontornews – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pondok Modern Darussalam Gontor yang berhasil menjadi lembaga pendidikan Islam dengan kekuatan pada kepemimpinan, akhlak mulia, serta komitmen mencerdaskan bangsa.
Menurutnya, Gontor telah berperan penting dalam membangun generasi Muslim yang cinta tanah air, cinta damai, dan menghargai umat lain.
Program pendidikan Gontor, kata Prof Abdul Mu’ti, sangat sejalan dengan kebijakan pendidikan dasar dan menengah yang berlandaskan konstitusi, yakni membentuk bangsa yang berkarakter kuat.
Ia menyoroti kondisi generasi muda saat ini yang sering disebut sebagai generasi stroberi—tampak indah dari luar, namun mudah rapuh ketika menghadapi tantangan.
“Banyak anak muda kita hari ini yang lemah, terutama secara mental dan spiritual, meski secara fisik lebih hebat dibanding masa kami dulu,” ujar Abdul Mu’ti saat mengisi sesi “Pramuka: Pendidikan Karakter Generasi Emas Muslim” di Buperta Cibubur Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Mendiknas menyampaikan hasil tes dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan banyak anak muda yang fisiknya tidak benar-benar sehat karena pola hidup yang kurang baik.
Menurutnya, ada tiga penyebab utama kondisi tersebut. Pertama, pola konsumsi yang tidak sehat, seperti junk food dan minuman tinggi gula yang memicu diabetes dan penyakit jantung. Kedua, kebiasaan mager (malas gerak) akibat terlalu sering menggunakan gawai, sehingga jarang berinteraksi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya. Ketiga, minimnya aktivitas sosial karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bergaul di lingkungan sekitar.
Untuk mengatasi hal ini, Kementerian meluncurkan “Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang bertujuan mengubah generasi lemah menjadi generasi kuat. Kebiasaan tersebut meliputi: bangun pagi, beribadah untuk memperkuat mental, rutin berolahraga, membiasakan makan sehat, gemar belajar sepanjang hayat, aktif bermasyarakat, serta tidur cepat yang berkualitas.
“Fajar bukan hanya tanda hari baru, tapi juga harapan baru. Dengan kebiasaan ini, kita ingin membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan optimis menghadapi masa depan,” jelasnya.
Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya nilai kepanduan dalam membangun mentalitas generasi muda yang mandiri, berjiwa sosial, dan siap berbuat yang terbaik bagi sesama.
Menurutnya, kegiatan Pramuka wajib menjadi bagian dari pendidikan di semua jenjang karena mampu menanamkan semangat gembira, optimis, dan sikap positif dalam menghadapi tantangan hidup.
“Pramuka selalu mengajarkan kegembiraan. Di mana pun, Pramuka gembira. Inilah ciri optimisme. Mereka menghadapi masalah dengan suka cita, selalu positif melihat sesuatu,” katanya.
Ia berharap, ke depan generasi muda Indonesia dapat lebih aktif dalam kegiatan sosial, mempererat relasi dengan masyarakat, serta membangun semangat optimisme untuk mewujudkan bangsa yang damai, maju, dan sejahtera.
Abdul Mu’ti juga menambahkan, kegiatan Jambore Pramuka Muslim Dunia ini dapat diselenggarakan di negara lain pada tahun berikutnya sebagai bentuk kontribusi Indonesia bagi dunia. [Fathurroji]






















