Ponorogo, Gontornews — Forum Mubaligh Alumni (FMA) Gontor pada Rabu (29/3/2023) sore berhasil menggelar Kajian Ramadhan Mutiara Ilmu dengan mengundang Dr KH Ahmad Hidayatullah Zarkasyi MA sebagai narasumber. Kajian Ramadhan menjelang waktu berbuka puasa itu pun ramai dihadiri oleh puluhan alumni Gontor Putra dan Putri lintas marhalah.
Dr KH Ahmad Hidayatullah dalam penyampaiannya menyebutkan, “Anggota badan kita tidak akan bergerak, kecuali sesuai dengan apa yang diyakini dan dirasakan oleh jiwa kita.” Termasuk ketika kita hendak menjalankan ibadah puasa.
Menjalankan ibadah secara hikmatis atau filosofis, dari keduanya mana yang bisa mengantarkan kita kepada hakikat berpuasa? Apabila puasa dilakukan secara maksimal (hikmatis) maka akan semaksimal itu juga hikmah puasa yang didapatnya berupa kenyamanan, kepuasan, kebahagiaan, bahkan merasa mendapat respon dari Allah SWT, berupa hal-hal baik yang tidak disangka-sangka.
Usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang sampai pada derajat takwa dan akan mendapat imbalan dari Allah Ta’ala. Akan tetapi orang-orang shalih, mereka hanya terpaku untuk fokus melaksanakan ibadah puasa tersebut hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah semata.
“Mari kita meneladani amalan mulia tersebut, smoga kita bisa sampai pada derajat dimana bisa menikmati puasa secara hikmatis, sehingga ketagihan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, dan meninggalkan yang sia-sia,” doa Ketua Senat Universitas Darussalam Gontor tersebut kepada Gontornews.com.
Selain itu, kita juga bisa berusaha memahami hakikat puasa dengan usaha rasionalisasi ibadah puasa yang bisa memberi kemantapan iman dalam menjalankannya (filosofis). Sebab faidah ibadah puasa itu sendiri sejatinya banyak sekali dan sudah bisa dilihat dalam berbagai penemuan.
Sebagaimana dari sisi kesehatan, puasa terbukti menyehatkan tubuh dengan beragam penjelasannya. Puasa dari segi sosial, ternyata bisa melatih kepekaan, kekuatan masyarakat, dan lainnya.
Dari segi ilmu jiwa (psikologi), bisa menentramkan jiwa, melatih mental kesabaran, kedisiplinan, dan mampu berkarakter yang tahan saat harus berkompetisi secara akademis, atau berpikir rasional. Bahkan puasa dari segi politik merupakan sarana kecerdikan Nabi Muhammad SAW dalam mengintegrasikan umatnya. Ini semua Allah Yang Mahamengetahui kebenarannya.
“Maka, usaha hikmatis dan filosifis sudah kita usahakan, semoga kita bisa istiqamah,” tutup putra KH Imam Zarkasyi (Trimurti Pendiri Gontor). [Edithya Miranti]





















