Faktor Eksternal
3. Semangat keagamaan dan kesiapan mental. Keberhasilan suatu pekerjaan tergantung sampai batas tertentu kepada kesiapan mental pelakunya. Dalam hubungan ini, yang membangkitkan harapan kita antara lain bahwa kaum Muslimin di timur dan barat mempunyai semangat keagamaan yang tinggi.
Di negeri-negeri kita di timur misalnya, tidak ada orang, apa pun agamanya, yang berani menginjak kertas yang di dalamnya terdapat tulisan Arab, apalagi di depan orang Islam; karena dalam pandangan mereka, huruf Arab itu suci, sesuci agama mereka. Maka selayaknya kalau kita memanfaatkan kekuatan rohaniah yang besar ini untuk kepentingan agama dan bahasa Arab.
4. Ibadah verbal. Banyak ibadah lisan (verbal) dalam Islam yang tidak sah kecuali dilakukan dengan bahasa Arab, baik itu bersifat sunnah ataupun mubah. Kalau kita mengetahui demikian tingginya semangat keagamaan kaum Muslimin seperti dikatakan di muka, maka kita akan melihat besarnya pengaruh ibadah ini terhadap peluang penyiaran bahasa Arab.
Faktor Internal
Di dalam bahasa Arab terkandung beberapa keistimewaan yang memberi peluang untuk terus hidup dan berkembang. Antara lain:
1. Kedudukannya sebagai bahasa resmi di PBB. Tidak ada suatu bahasa pun di atas bumi ini yang patut berbangga diri selain bahasa Arab. Selain sebagai bahasa resmi bagi agama Allah yang haq, bahasa Arab juga merupakan bahasa resmi dari organisasi internasional terbesar (PBB).
Dwi fungsi ini merupakan jaminan yang paling besar bagi bahasa Arab untuk terus hidup dan berkembang. Bahasa Arab dengan demikian merupakan bahasa bumi sekaligus bahasa langit. Tentu merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Arab dan umat Islam, bahwa untuk menghadap Allah Sang Pencipta dan untuk berpidato di depan PBB cukup bagi mereka bahasa Arab.
2. Kesiapan bahasa Arab untuk mengikuti perkembangan zaman. Sejarah peradaban Islam mengajarkan kepada kita bagaimana bahasa Arab pada masa-masa Islam yang pertama telah mampu menjawab tuntutan zaman dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan peradabannya, yaitu ketika untuk pertama kali kebudayaan Islam Arab berbenturan dengan kebudayaan Yunani, Persia dan Hindia pada masa Abbasiyah pertama; kemudian benturan budaya ini terulang kembali ketika terjadi kontak budaya yang kedua kalinya antara kebudayaan Islam Arab dengan kebudayaan Barat sejak permulaan abad ke-19 dan berlangsung hingga sekarang. Perbenturan-perbenturan budaya ini telah memperkaya bahasa Arab dari berbagai seginya tanpa menghilangkan kepribadiannya.
3. Jutaan orang non-Arab mengenal bahasa Arab. Hal lain yang memberikan harapan bagi masa depan bahasa Arab dan perkembangannya adalah bahwa jutaan muslim non-Arab bahkan yang bukan Muslim, di barat dan di timur, di utara dan di selatan, mengenal bahasa Arab. Percetakan dan penerbitan Arab menjadi saksi yang berbicara atas kebenaran pernyataan di atas. Miliaran buku keagamaan berbahasa Arab menyebar dari percetakan dan penerbitan tersebut ke negeri-negeri Islam.
Perlu kami kemukakan di sini bahwa sebagian besar dari mereka yang mengenal bahasa Arab in tidak berbicara dengan bahasa Arab dan tidaklah berlebihan kalau kami katakan bahwa kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas mutlak.
Sebagaimana juga perlu kami sebutkan di sini dengan segala pujian dan penghargaan, kerja keras dan daya upaya yang telah mereka kerahkan dalam rangka menghidupkan dan mengembangkan bahasa Arab, dengan segala cara dan kemampuan yang mereka miliki, seperti penyelenggaraan siaran melalui radio dan televisi, penulisan buku-buku pelajaran bahasa Arab, pendirian sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya, serta penerapan metode terbaru dan teori-teori mutakhir dalam pengajaran bahasa Arab.
4. Huruf Arab. Banyak bahasa di negara-negara Asia yang ditulis dengan huruf Arab, seperti bahasa-bahasa Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Iran, dan Turki. Meskipun secara resmi penggunaan huruf Arab tersebut telah dikesampingkan, tapi para penduduknya masih menggunakannya untuk penulisan-penulisan khusus.
Tidak diragukan lagi bahwa negara-negara ini memiliki dokumen-dokumen ilmiah dan warisan budaya yang berharga, yang ditulis dengan huruf Arab, seperti yang kami dapatkan di Indonesia. Di sana terdapat tulisan tentang sastra dan agama dalam jumlah yang amat besar memenuhi perpustakaan dan took buku, banyak di antaranya yang belum pernah disentuh oleh tangan para ilmuwan dan belum pernah dibaca oleh kebanyakan para pelajar.
5. Kosakata bahasa Arab. Bahasa Arab menempati kedudukan yang tinggi di hati kaum Muslimin. Ini terjadi karena bahasa Arab telah diwarnai oleh kesucian ajaran-ajaran Islam, seperti telah dijelaskan di depan. Sebagai akibatnya, terjadilah penyerapan beribu-ribu kosakata Arab ke dalam bahasa-bahasa ibu kaum Muslimin non-Arab. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa sebagian besar kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia berasal dari bahasa Arab.
(Disampaikan dalam Mu’tamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, 22 September 1972).





















